02:56 - Senin, 20 November 2017
Minggu, 4 Mei 2014 | 20:44

Candi Gununggansir Simbol Kemakmuran Peninggalan Majapahit

gunung-gangsirBeji (wartabromo) –  Candi Gununggangsir yang berdiri tegak di Desa Keboncandi, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu situs sejarah peninggalan kerajaan Majapahit yang dibangun oleh Empu Sendok pada abad ke-10 sebelum Masehi.

Candi Gununggangsir dibangun untuk tempat pemujaan pada para dewa yang beragama Hindu. Candi yang berukuran panjang 20 meter, lebar 17 meter, tinggi sekitar 23 meter dan menempati tanah seluas 86 meter persegi merupakan perwujudan rasa syukur warga yang telah diberikan kemakmuran berupa melimpah ruahnya hasil panen.

Candi Gununggangsir sebagai simbol kemakmuran terbukti dengan ornamen candi yang pada setiap sisi-sisinya banyak ditemui relief bergambar tanaman seperti padi, kapas dan palawija serta gambar hewan seperti bulus, gajah, buaya, babi, anjing, kuda terbang yang dipercaya merupakan lambang kemakmuran.

Candi Gununggansir sendiri dibangun menggunakan batu bata merah dan berbentuk segi empat bertingkat, makin keatas semakin mengencil (Pagoda). Sedangkan di dalam candi terdapat tempat ruangan yang berukuran 5 X 5 meter persegi.candi-gununggansir

Konon, daerah ini merupakan tanah yang sangat subur, sayangnya masyarakat setempat tidak mengerti cara mengelolanya dan hanya mengandalkan makan dari hasil berburu binatang saja.

Pada saat hewan buruan semakin sedikit dan masyarakat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Datanglah seorang perempuan yang bernama Nyai Srigati yang kemudian dikenal dengan nama Mbok Rondo Dermo. Saat itu, dirinya mengajak warga untuk bersemedi meminta petunjuk pada Hyang Widi Wasa guna mengatasi masa sulit pangan di daerahnya.

Dari hasil semedinya tersebut, diberilah petunjuk dengan datangnya seekor burung gelatik yang membawa biji padi dan dijatuhkan ke bawah. Saat itu juga biji padi tersebut berbuah. Tak hanya itu saja, burung gelatik juga menjatuhkan beberapa biji-bijian yang kemudian berbuah biji emas. Hingga Mbok Rondo Dermo beserta pengikutnya menjadi kaya raya.

Atas petunjuk tersebut warga mulailah bercocok tanam dan merubah kebiasaannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari berburu menjadi petani. Hingga akhirnya daerah ini menjadi makmur dan masyarakat membangun candi ini untuk mengucap rasa syukur pada Hyang Widi Wasa.

Kini, berdasarkan penututan Nurjanah (53) sang Juru Pelihara candi, Candi Gununggangsir banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari hanya sekedar rekreasi, penelitian sejarah sampai melakukan ritual untuk keperluan khusus.

“Biasanya pada malam hari jum’at legi banyak dikunjungi masyarakat yang ingin melakukan ritual, bahkan tak jarang dari ritual tersebut masyarakat mendapatkan biji emas di tempat semedinya,”ujar Nurjanah.

Keberadaan Candi Gununggangsir sendiri sudah mengalami pemugaran yang dilakukan oleh pihak Dinas Purbakala dengan memakan waktu 9 tahun lamanya, dimulai pada tahun 2004 dan selasai pada akhir tahun 2013 lalu.

Bagi Anda yang ingin melihat langsung salah satu situs sejarah kejayaan Majapahit ini, lokasi Candi Gununggangsir dari arah Surabaya sekitar 55 Kilometer sementara dari arah Pasuruan atau dari Pusat Kota Bangil hanya berjarak 15 Kilometer. (gnr/yog)

Komentar Anda

Komentar

Masjid Cheng Hoo Pandaan, Antara Sholat dan Istirahat

Sumber Penang, ‘Surga’ Mata Air Wonorejo