15:11 - Rabu, 24 November 7176
Selasa, 23 September 2014 | 20:41

Menguak Pembunuhan ‘Bocah Kebun Pisang’, Memberi Warga Rasa Aman

Lokasi penemuan mayat bocah perempuan di kebun pisang Kelurahan Petamanan/G.A. Subagyo

Pasuruan (wartabromo) – Hari berganti hari, minggu menjadi bulan, namun titik terang kasus penculikan Amira Sintya Ramadhani (5) dan peristiwa penemuan mayat bocah perempuan di sebuah kebun pisang yang menggegerkan, tidak kunjung ada titik terang.

Penyidik Sat Reskrim Polres Pasuruan Kota, yang menduga kuat dua peristiwa tersebut saling berhubungan, seakan menemui kebuntuhan mengurai kasus. Benang merah dua kasus menggegerkan tersebut tidak kunjung terjumput, bahkan kian kusut.

Saat sosok mayat bocah perempuan ditemukan salah seorang warga di tengah kebun pisang Kelurahan Petamanan, Jumat (29/8/2014), polisi langsung menduga korban adalah Amira, bocah yang diculik dari rumah kakeknya, Mulyono (58), di gang 12 RT 2 RW4, kelurahan setempat, Rabu (13/8/2014).

Jenis kelamin yang sama, perkiraan usia yang tidak jauh jaraknya, ciri-ciri fisik nyaris serupa serta lokasi penemuan yang dekat dengan rumah kakek Amira, membuat polisi yakin, dua kejadian itu erat berhubungan.

Beberapa saat setelah ditemukan, polisi langsung meminta orang tua Amira datang ke kamar mayat RSUD dr R Soedarsono untuk mengenali dan memastikan jenazah bocah malang tersebut. Namun, kedua orang tua Amira menampik itu anaknya.

Satu-satunya cara untuk memastikan, polisi kemudian melakukan tes DNA. Hasil tes DNA tersebut sangat dinantikan polisi, demikian juga media dan warga. Namun, hasil tes tersebut tidak kunjung datang.

“Belum (turun), saya masih di Malang,” kata Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Bambang Sugeng saat ditanya hasil tes DNA, Selasa (23/9/2014).

Bambang mengatakan polisi sudah bekerja sangat keras mengungkap kasus tersebut meski diakui pengungkapan kasus penculikan maupun pembunuhan balita lebih rumit daripada orang dewasa yang menjadi korbannya.

Bagaimanapun, kerja polisi harus dihormati. Namun, membiarkan keluarga korban terlalu lama menunggu kejelasan nasib anaknya juga tidak arif.

Apaligi, sua kasus tersebut sudah membuat warga resah dan kehilangan rasa aman anak-anaknya. Belum lagi, dua kasus anak hilang di Rejoso dan Gadingrejo juga belum terkuak.

Balita bernama Putri Wulan Saskia (4), asal Desa Karangpandan, RT 01 RW 02 Kecamatan Rejoso, dilaporkan telah hilang oleh orangtua angkatnya Muhammad Hatta (57), ke Mapolres Pasuruan Kota pada Rabu (10/9) lalu. Nasibnya bocah ini tidak jelas.

Hilangnya anak bernama M Sofian (14), warga Jalan Halmahera, Kelurahan Gadingrejo, juga misterius. Sejak raib dari rumah 4 Agustus lalu, putra pertama Abdul Salam (33) dan Nur Kholis (32), ini sampai saat ini belum diketahui rimbanya. Padahal, kejadian itu sudah dilaporkan ke polisi.

Belum terungkapnya kasus-kasus tersebut diperparah sikap pemerintah daerah yang seakan acuh. Dari cacatan wartabromo.com, pemerintah daerah memang tidak melakukan apapun menyikapi keresahan warga atas kasus-kasus yang terjadi.

Wali Kota Pasuruan, Hasani, yang meninjau lokasi beberapa saat setelah penemuan mayat di kebun pisang Kelurahan Petamanan, hanya berpesan agar para orang tua waspada dan selalu menjaga anaknya.

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, bahkan baru kemarin, Senin (22/9), pada peringatan Hari Anak Nasional di Yonkav 8 Beji, berkomentar dan mengimbau ibu-ibu dan para guru lebih meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga anak-anaknya.

Kepala Biro Pemantauan dan Dokumentasi Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya, Fatkhul Khoir, mendesak polisi segera menuntaskan kasus-kasus tersebut. Selain keluarga korban – penculikan — punya hak untuk mengetahui kejelasan nasib anaknya, rasa aman warga juga harus dikembalikan.

“Paling tidak polisi harus mampu menjelaskan perkembangan penyelidikan yang dilakukan terkait anak yang hilang dan temuan mayat. Itu akan membantu meminimalisir keresahan di masyarakat,” kata Fatkhul Khoir.

Menurut dia, tugas mengembalikan rasa aman ini bukan hanya diemban polisi. Pemerintah daerah harus pro-aktif. “Kewajiban mengembalikan rasa aman ini bukan hanya tugas polisi. Pemerintah daerah juga harus pro aktif memberi penjelasan pada warga. Karena saya aman itu hak warga, maka pemerintah wajib memenuhinya,” tandasnya. (fyd/fyd)

Komentar Anda

Komentar

Plong… Susah-susah Jambret, Pemuda Ini Cuma Temukan Rp 50 Ribu Dalam Tas Korban

Para Sopir Truk Kaget Ada Razia di Jembatan Timbang