Menyingkap Sejarah Mata Air, Membuka Mata Hati

0
83

sumber umbulanPasuruan (wartabromo) – Pemerintah Kota Pasuruan terus ngotot untuk menyuarakan hak kepemilikannya atas sumber mata air umbulan melalui berbagai cara. Sumber mata air yang selama ini memberikan air bersih kepada warga Kota Pasuruan ini tak ingin begitu saja dibagikan melalui Proyek Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) -Umbulan kepada daerah lainnya. Mereka menuntut hak – haknya sebagai sang pemilik sumber mata air terbaik di dunia ini.

Tak tanggung – tanggung, Pihak Pemkot pun mengaku sedang berusaha menterjemahkan dokumen tambahan berbahasa Belanda yang didapatkan dari arsip nasional setebal 40 hingga 50 halaman kedalam bahasa Indonesia.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Pasuruan, Sugeng Pradikto membenarkan kegiatan tersebut. Menurutnya, hingga saat ini dokumen tersebut belum juga selesai diterjemahkan.

“Ya benar mas. Penerjemahnya di Surabaya,” ujar Sugeng.

Dokumen tersebut rencananya akan digabungkan dengan dokumen lama milik Pemkot untuk semakin menguatkan bukti kepemilikan sumber mata air umbulan.

Kesegaran air umbulan laksana harta karun berharga yang selalu jadi rebutan sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda hingga kini. Mata air ini pertama kali ditemukan sekitar tahun 1916 oleh Belanda.

Pengelolaan pertama sumber mata air ini dilakukan oleh Inlando Water Bedrij pada tahun 1917. Kala itu, air yang melimpah ruah dari sumber ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang tinggal di Kota Pasuruan dan Surabaya.

Berdasarkan informasi yang digali dari sejumlah sumber, pada masa pemerintahan belanda, air umbulan digunakan oleh Warga Belanda yang tinggal di Kota Pasuruan dan Kota Surabaya. Masing-masing wilayah tersebut terbagi atas 65 liter/detik untuk Kota Pasuruan dan 110 liter/detik untuk Kota Surabaya.

Namun, meskipun sisa airnya masih sangat melimpah, penduduk asli Pribumi yang tinggal di sekitar sumber mata air Umbulan kala itu, tidak diizinkan oleh Belanda untuk memanfatkannya. Sisa air yang jernih itu dibiarkan mubadzir tumpah ruah ke laut melalui Sungai Rejoso.

Pada masa pra-kemerdekaan atau tepatnya tahun 1940, Sumber mata air umbulan diserahkan kepada Stads Gemente van Pasoeroean. Penyerahan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kota Pasuruan merupakan Kota bandar yang amat penting bagi perdagangan dan industri.

Sumber mata air Umbulan pun dimanfaatkan dan berkembang menjangkau lapisan masyarakat di Kota Pasuruan dan sekitarnya. Sayang, hal itu tidak berlangsung lama, pasalnya ketika Jepang menjajah Indonesia, hak atas penguasaan sumber air umbulan tersebut pun menjadi tidak jelas. Sejumlah arsip-arsip dan dokumen yang mendasarinya pun terabaikan.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sumber mata air umbulan kemudian dikuasai oleh Pemerintah Daerah Darurat. Selang kemudian, dilakukan pengambil alihan mata air ini oleh Pemerintah Kota Pasuruan sekitar tahun 1952 dengan supervisi dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Sekitar tahun 1955 setelah Pemerintah Kota Pasuruan dipegang oleh seorang Walikota, dilakukan pengajuan usul hak atas tanah umbulan bagi Pemerintah Kota Pasuruan. Sayangnya, permohonan tersebut hingga tahun 1968 tidak berhasil, bahkan sumber air Umbulan malah dikuasai oleh pemerintah pusat. Akibatnya untuk memanfaatakan air Umbulan dikenai retribusi pemakaian oleh Dinas Pengairan.

Namun kemudian, lantaran air Umbulan diperuntukkan bagi masyarakat yang 40 persen berada di kawasan pantai yang airnya asin, maka pada 1972 PDAM Kodya Pasuruan mendapatkan hak pakai atas sumber mata air umbulan.

“Pada tahun 1972 pemerintah Kota Pasuruan melalui kanwil agraria waktu itu mendapatkan hak pakai atas umbulan,” ujar Sudiono, mantan asisesten 1 Pemkot Pasuruan yang juga dewan pengawas PDAM Kota Pasuruan, 7 Agustus 2014.

Selanjutnya, menurutnya, sempat akan diterbitkan sertifikat hak milik atas sumber mata air umbulan dengan syarat membayar sejumlah biaya. Namun Pemkot Pasuruan, bersikeras tidak mau memenuhi permintaan tersebut.

Kota Pasuruan dan Surabaya merupakan wilayah yang paling beruntung mendapatkan segarnya air umbulan. Berbeda dengan Pemkab Pasuruan yang tak pernah berhasil menggunakan air Umbulan untuk masyarakat pantai seperti Grati, Rejoso, Lekok, dan Nguling padahal PDAM setempat sudah berulang kali mengajukan permohonan.

Sumber mata air umbulan sediri memiliki potensi debit rata-rata sekitar 5.000 liter/detik,secara efektif air umbulan tersebut telah dimanfaatkan sebesar 583 lt/dt terbagi atas 283 liter/detik untuk Kota Pasuruan dan Kota Surabaya, untuk irigasi 175 liter/detik untuk pembenihan ikan 105 lt/dt dan untuk air bersih warga desa Umbulan sebesar 20 liter/detik sedangkan sisanya 4.417 liter/detik terbuang percuma ke laut melalui Kali Rejoso.

Meski tidak pernah merasakan secara utuh segarnya air umbulan sejak jaman Belanda, Pemerintah Kabupaten Pasuruan memiliki beban tanggungjawab untuk menjaga kelestarian alamnya agar air umbulan tetap mengalir dengan deras dan dimanfaatkan untuk air bersih masyarakat Kota Pasuruan dan Surabaya.

“Terlepas siapapun yang mengaku memiliki sumber mata air umbulan. Mereka semua punya kewajiban untuk melestarikan daerah-daerah tangkapan sumber mata air umbulan,” ujar pegiat lingkungan Pasuruan, Faturohman.

Pria yang juga pendiri Yayasan Satu Daun tersebut mengingatkan, saat ini kondisi wilayah yang menjadi daerah tangkapan sumber mata air umbulan sudah cukup kritis baik itu Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kawasan Perhutani maupun daerah-daerah tangkapan air sumber mata air umbulan tersebut yakni meliputi enam wilayah kecamatan di Kabupaten Pasuruan, yakni Winongan, Pasrepan, Puspo, Tutur, Tosari, dan Lumbang.

Berdasarkan data yang didapatkan wartabromo, hasil penelitian Puslitbang PU dalam “Model Hidrogeologi Daerah Umbulan” menyebutkan, bahwa telah terjadi penurunan debit mata air Umbulan (2007-2008) dari 4051 liter/detik menjadi 3278 liter/detik (head pond). Sementara pada debit tapak menunjukkan penurunan 4550 liter/detik menjadi 4186 liter/detik.

Penurunan debit sumber mata air umbulan tersebut diakibatkan terjadinya perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian serta semakin meluasnya lahan kritis di daerah hulu mulai dari Umbulan sampai wilayah lereng Gunung Bromo (DAS Rejoso).

Selain itu, Pengambilan Air Tanah Secara berlebihan air tanah untuk keperluan irigasi dan industri di hilir mata air serta aktivitas illegal drilling yang semakin meningkat di sekitar Kecamatan Gondang wetan, Winongan, Pasrepan , Grati dan Rejoso.

“Selama ini, saya menganggap perhatian terhadap upaya konservasi di wilayah hulu maupun hilir sangat minim.”tegasnya.

Fatur bahkan mengaku sangat mengecam pihak – pihak yang hanya menuntut hak dan berebut keuntungan dari sumber daya alam tanpa memperhatikan kewajibannya dalam melakukan konservasi terhadap daerah – daerah tangkapan air dari sumber mata air umbulan tersebut.

Sebagai aktivis yang bergerak di bidang lingkungan, dirinya berharap siapapun yang merasa memiliki Air Umbulan wajib menjaga kelestarian alam sebagai sumber mata air ini. (yog/yog)