‘Mohamedan Pasuruan’

0
46
adat bangil
Otoritas Adat Bangil, Pasuruan penuh rasa toleransi, tampak perwakilan dari masyarakat Arab dan Cina serta jawa sedang berfoto bersama

Pasuruan (wartabromo) – Secara umum, tata pemerintahan di Pulau Jawa pernah terjadi di Pasuruan yakni pada awal penguasaan Demak. Kebesaran Pasuruan sebagai daerah yang setengah merdeka paska kematian Sultan Trenggana membuatnya diperebutkan.Namun, campur tangan pemuka agama di Giri memperkuat dan memulihkan kekuasaan islam di Pasuruan.

Dalam Pemerintahan Islam, Pasuruan menjadi daerah yang sangat ekspansif dengan meluaskan kekuasannya sampai ke Kediri hingga Blambangan. ‘Mohamedan Pasuruan’ begitu Archilles Meeman menyebut orang islam Pasuruan merujuk catatan cornelis de Houtman tahun 1596 saat pasuruan menyerang Blambangan.

“Sayang, catatan Belanda meniadakan sosok Adipati atau Tumenggung Kepulungan dalam sejarah,” kata Nugraha Hadi Kusuma, Direktur The Human Quality yang juga anggota Tim Peninjauan Kembali Hari Jadi Pasuruan.

Adipati Kepulungan dari Pasuruan tersebut bisa digali dalam Sejarah jawa tentang Adipati Pasuruan dan Surabaya. Sosok ini menikah dengan anak perempuan tertua Sultan Pajang Hadiningrat yang sempat melarikan diri saat penyerangan Mataram.

Meski melebarkan kekuasaannya, Adipati Pasuruan tetap menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan Islam lain sebagai bukti pengakuannya atas kekuasaan kerajaan Panjang Hadiningrat. Pasalnya, menantu kanjeng Sultan pajang yakni Panembahan Lemah Duwur disaat yang sama juga berkuasa di Sidayu, Gresik dan Tuban.

Pada kurun waktu 1600 M – 1635 M, Pasuruan menjadi wilayah kekuasaan Giri. Kerajaan Giri meliputi Pasuruan, Giri, Panarukan dan Tuban. Di Pasuruan, Sunan Giri meletakkan dasar – dasar dakwah dengan membuka langgar sekaligus tempat ngaji yang kini bernama Sidogiri.

Kekuatan Giri pada waktu itu sangat kokoh, meski ada kerajaan majapahit yang dipimpin oleh Brawijaya, namun Majapahit tidak berani menghapus kekuasaan yang ada bahkan Kerajaan Giri diberikan tanah. Pada tahun 1616 paska wafatnya Panembahan Kawis Guwa sebagai penerus kerajaan Giri, Panembahan Agung memerintahkan Sayyid Sulaiman untuk melanjutkan Madrasah di Sidogiri yang kini dikenal sebagai Ponpes Sidogiri.

Penaklukan Mataram terhadap Pasuruan menunjukkan jika Kadipaten Pasuruan merupakan wilayah yang sangat diperhitungkan, Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Mataralaya untuk menaklukkan Pasuruan.

” Pasuruan dimenangkan oleh Mataram. Di timur hanya tinggal Surabaya dan Tuban”. Demikian perkataan Bupati Jakarta seperti dikutip dari Coen, Bescheiden, jilid I, hlm. 252.

Menurut catatan keraton baik itu di Jogjakarta maupun Surakarta menegaskan bahwa salah satu penghulu istana Mataram yang diberi gelar Raden Tumenggung Darmoyudho memimpin penyerangan ke wilayah Pasuruhan dan Blambangan.

Pada tahun 1616 atau 1617 Pasuruan dapat diduduki oleh pasukan Sultan Agung. Waktu itu Batavia belum didirikan. Yang mempertahankan Pasuruan ialah seorang Kanjeng Tumenggung dari Kapulungan bersamaan dengan itu diangkatlah Adipati Pasuruan pertama dibawah Mataram yaitu Darmoyudho I. Kemudian dilanjutkan dengan putranya yakni Kiai Gedee Dermoyudho II  yang memerintah sejak tahun 1645-1657.

Pada tahun 1657, Kiai Gedee Darmoyudho II mendapat serangan dari Mas Pekik (Surabaya) sehingga Kiai Gedee Dermoyudho II meninggal dan dimakamkan di Kampung Dermoyudho, Kelurahan Purworejo Kota Pasuruan.

Mas Pekik memerintah dengan gelar Kiai Dermoyudho (III) hingga meninggal dunia pada tahun 1671 dan diganti oleh putranya, Kiai Onggojoyo dari Surabaya (1671-1686). Ia kemudian harus menyerahkan kekuasaanya kepada Untung Suropati seorang budak belian yang berjuang menentang Belanda.

Jabatan Untung Suropati ini didapatnya dari kebaikan Pangeran Nerangkusuma yang telah mendapat restu dari Amangkurat I (Mataram) agar Untung Suropati berangkat ke Pasuruan dan menjadi adipati di Pasuruan.

Untung Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro. Selama 20 tahun Pemerintahan Suropati (1686-1706) dipenuhi dengan pertempuran-pertempuran melawan tentara Kompeni Belanda.  Meski demikian, ia masih sempat menjalankan pemerintahan dengan baik serta senantiasa membangkitkan semangat juang pada rakyatnya.

“Perlawanan Untung Suropati ini membuat Belanda kalang kabut dan menghabiskan banyak biaya atau setara dengan Perang di Aceh,” terang Nugraha, Pria yang juga Dosen di Universitas Muhamadiyah Malang.

Sosok Untung Surapati, lanjut Nugraha, telah membuat belanda marah dan benci terhadap wilayah Pasuruan maupun islam. Belanda banyak menghancurkan situs-situs sejarah kuno di Pasuruan. (yog/yog)