Ibuku Perempuan

0
44
hari ibu
Ilustrasi/ dok. wartabromo.com

Terkecoh oleh slogan-slogan gerakan feminisme, Mary (bukan nama sebenarnya) memutuskan hidup bersama dengan sang pacar tanpa nikah. Segala keperluan hidup ditanggung oleh mereka berdua. Dan itu berjalan selama sepuluh tahun.

Persoalan muncul ketika Mary menginjak umur 35 tahun. Kodrat kewanitaannya timbul, yaitu ingin punya anak. Bagi Mary, dua anak cukuplah sudah. Tetapi sang ‘jago’-an tidak setuju. Jika Mary punya anak, mereka tidak bisa happy-happy.

Anak adalah beban hidup. Akhirnya mereka berpisah. Kini Mary telah berumur 56 tahun tanpa anak dan tanpa suami. Mary adalah perempuan yang tidak sempat jadi ibu, dan catatan sejarahnya terputus.

Maurine (bukan nama sebenarnya), setelah meraih gelar Ph.D. dia ikut pacarnya bekerja di Thailand, dan hidup tanpa nikah. Dengan diam-diam Maurine membiarkan dirinya hamil yang berakibat pacarnya marah besar. “Gugurkan atau pisah” kata suami eh..pacarnya. Maurine memilih jadi ibu. Dan mereka berpisah.

Banyak Negara sosialis maupun borjuis bereksperimen menerapkan kesetaraan gender fifty-fifty. Perempuan diberdayakan, berkiprah di sector public, keluar dari ‘kerangkeng’ rutinitas mengurus suami dan anak. Agar perempuan tidak lagi dibebani mengurus anak, maka pemerintah mengadakan program day care center, tempat penampungan anak, secara besar-besaran. Program itu ‘mbanyol’ (lucu). Siapa yang mengurus semrawutnya anak-anak di penampungan itu? Bukankah perempuan juga?

Kasus tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa betapa kacaunya regenerasi umat manusia jika tidak diikat oleh tali pernikahan. Semua agama mengatur dan membuat batasan-batasan perkawinan. Hanya orang yang bukan Kristen, bukan Budha, bukan Hindu, bukan Islam, dan orang yang ‘bukan-bukan’ sajalah yang tidak menghargai lembaga perkawinan yang sah. Bayangkan banyak anak-anak yang tidak keruan jluntrung-nya. Siapa bapak si Roy, dan adiknya Martin itu dari bapak yang mana? Dunia kacau, dunia ruwet, dunia edan.

Dalam teori psikologi komunikasi, consciousness raising (proses penyadaran) yang dilakukan oleh para aktivis perempuan akan menghasilkan stalagmite effects yaitu aspek kognitif akan mendeposit secara teratur pesan-pesan yang disampaikan media. Efek komulatif ini berpengaruh terhadap persepsi nilai-nilai maupun norma-norma agama. Penolakan yang bukan main gencarnya terhadap RUUP-APP dari fihak aktivis perempuan maupun dari orang yang bukan-buka secara tidak langsung ikut menyemarakkan dan ikut mendorong perdagangan (perempuan) yang masih anak-anak maupun dewasa (trafficking) di Negara Pancasila ini.

Perhatian selektif (selective attention) yang hanya memanjakan maksiat berdampak kepada men-setan-kan, dan cenderung mendistorsi system nilai agama, kehidupan keluarga, dan perkawinan. Agar tercapai kesetaraan ‘gender’ fifty-fity, agar perempuan memperoleh kebebasannya (termasuk; melacur, kebebasan ‘bersenggama’ dengan siapa saja) maka dipersiapkan kondom secara besar-besaran.

‘Consiousness raising’ ikut mendorong para hidung belang (jangan dikira laki-laki dirugikan oleh sex-gender sistym, laki-laki amat menikmatinya) memburu gadis-gadis yang masih perawan yang belum terinfeksi HIV/AIDS. Suatu perubahan persepsi nilai yang luar biasa. Kasus di Filipina beberapa tahun yang lalu (Metro-tv) ratusan anak-anak di bawah umur dihimpun di dalam rumah, disetubuhi satu persatu, setelah selesai kemaluan anak perempuan sekecil itu dijahit. Setelah sembuh ‘disikat’ lagi, robek lagi, disikat lagi, robek lagi. Andai itu terjadi pada anak ‘sampean’.

Kita bersyukur, ibu saya, ibu sampean, ibu kita perempuan. Seorang perempuan yang sepenuh hati menyayangi anak-anaknya. Ibu kita adalah perempuan ‘anggun’, perempuan yang bijak, keibuan. Ibu kita perempuan tempat segala ‘kehormatan’ bernaung. (Dikutip dari FB Alm. Kaji Karno/ Budayawan Pasuruan)