20:27 - Senin, 18 Juni 2018
Rabu, 21 Januari 2015 | 20:05

Mengenal ‘Mbak-Mbak’ di Tretes

Mau cari model yang bagaimana?. Semua ada. Kalau soal harga, ada yang 200, 300, sampai 2 juta. Padahal rasa sama pak, hahaha. Apa Bapak butuh yang bisa mijat plus esek-esek atau yang bisa nyanyi sama joget plus esek-esek, ada lagi yang bisa menyenangkan Bapak karena pandai ngomongnya. Cewek-cewek banyak yang dari Malang, Lumajang, Jember, Ngawi, Lamongan, ada Pasuruan juga, lengkap Pak!.

Keberadaan para PSK di kawasan Tretes, Prigen tak luput dari peran induk semang alias Mami. Salah satu “mami” yang namanya sudah banyak dikenal oleh para lelaki hidung belang adalah Tante Permata (nama samaran). Wanita ini mempunyai jam terbang tinggi mengenai bisnis prostitusi di kawasan Tretes.

Sejak kecil, Tante Permata sudah terbiasa dengan hingar bingar dunia malam dan gemerlapnya dunia prostitusi. Hingga pada akhirnya, saat orang tuanya mulai sepuh. Tante ini kemudian yang menggantikan pekerjaan orang tuanya.

Tante Permata adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Saudara pertamanya yaitu seorang lelaki yang kini berprofesi sebagai tukang ojek. Dan kakaknya yang nomor dua kini berprofesi sebagai pelayan sekaligus penjual makanan di kawasan Watu Adem. Tante Permata sendiri mempunyai rumah tinggal pribadi dan 2 wisma.

Rumahnya berada dikawasan villa yaitu di daerah sekuti, lumbang. Sedang kedua wismanya berada dikawasan Watu Adem. Sebagai seorang ‘mami’ dirinya mempunyai 9 orang anak “nakal”. Salah satu anak nakalnya tersebut adalah seorang mahasiswa yang nekad menjadi budak nafsu seksual lantaran terlilit biaya. Selain itu, ada juga yang menjadi buruh di salah satu pabrik di kawasan Pandaan.

Sebagai seorang pemain yang cukup lama bergelut dengan bisnis prostitusi. Relasi yang dibangunnya cukup kuat, baik dengan pihak hotel maupun jaringan lainnya di kawasan Tretes.

Selama menjalankan bisnisnya, dirinya mengaku sangat diuntungkan dengan peran para tukang ojek yang selalu membantunya termasuk saat menjamu dan melayani para tamu yang datang.

Para tukang ojek tersebut, selalu siap untuk mengantarkan ‘anak nakalnya’ bertemu dengan para tamu, menjemputnya saat pulang usai menemui tamu dan juga belanja kebutuhan para tamu.

Pembagian komisi antara para penjajah cinta, mucikari alias mami dan tukang ojek pun kerap dilakukan. Dari 100 persen hasil yang diterima langsung dibagi secara merata yakni sang mucikari dan PSK memberi 10 persen kepada tukang ojek sehingga total komisi yang diterima yaitu 20 persen. Sedangkan untuk tukang ojek yang hanya menunjukkan kamar, villa atau wisma saja hanya mendapat komisi dari penjaga villa sebesar 15 persen.

Banyak cerita dibalik aktivitas para Pekerja Seks Komersial (PSK). Lebih-lebih mengenai alasan kenapa mereka sampai terjerumus ke lembah hitam dan menjadi penghibur lelaki hidung belang di kawasan Tretes, Prigen. Sebagian besar PSK yang mangkal di kawasan Tretes, Prigen berasal dari daerah Malang, Lumajang, Jember, Ngawi, Lamongan, dan Pasuruan. Bahkan beberapa diantaranya dari luar Jawa Timur seperti Bandung, Jakarta, Medan, dan Batam dengan tingkat pendidikan mulai dari putus sekolah, sekolah dasar hingga tingkat SMU.

“Siapa sih yang mau kerja beginian?. Setiap malam harus (melayani) gonta-ganti orang,” kata Rere (nama samaran), salah satu PSK asal Indramayu, Jawa Tengah yang berhasil mencurahkan hatinya.

Perempuan yang tak pernah luput dari penampilan seksinya ini masih berusia 29 tahun. Namun, ia mengaku sudah mengalami pahit getirnya menjadi seorang PSK di berbagai tempat.

Sebelum singgah dan menghuni di salah satu wisma di kawasan Tretes, Rere pernah mangkal di daerah Batam, namun perjalanan hidupnya akhirnya mengantarkan dirinya untuk singgah di kawasan Tretes, setahun yang lalu.

Sambil menghisap sebatang rokok, perempuan itu menceritakan jika dirinya terjerumus ke lembah hitam tersebut karena ada campur tangan jahat ayahnya yang tega menggandengkan dirinya dengan seorang pria berparas china.

“Waktu itu masih berusia sekitar 17 tahun,” kenangnya.

Di usia yang terbilang masih belia itu, keperawanan rere telah dijual. Menurutnya, alasan sang ayah sampai hati menjual anak gadisnya semata-mata karena uang. Ayahnya terlilit persoalan hutang lantaran kalah di meja perjudian. Tak ayal, ketika hutangnya sudah numpuk maka putrinya pun menjadi korban.

“Ibu sakit. Dan ayah sering memukuli kami,” ungkapnya.

Berbeda dengan Rere, Tina (22) PSK asal Bandung mengaku terpaksa menjalani profesinya sebagai wanita penghibur setelah dirinya dikelabuhi oleh pacarnya sendiri.

“Pertamanya saya nggak ngerti kalau dibawa ke tempat beginian,” ujarnya.

Ceritanya, cowok yang masih berstatus sebagai pacar itu membawa Tina ke sebuah tempat di kawasan Prigen. Kepada pemilik tempat itu menurutnya, ia hanya dititipkan. Nahasnya, ternyata penitipan itulah yang kemudian membuatnya terjerumus ke lembah hitam. Tina yang tidak mengenal siapa-siapa pun hanya bisa pasrah.

“Dia (cowoknya) dikejar-kejar orang karena punya hutang. Ia pemakai sabu-sabu,” tukasnya.

Dari sejumlah informasi yang berhasil dihimpun, alasan ekonomi keluarga tetap menjadi alasan utama dalam lingkaran pekerjaan seks yang mereka jalani. Kebutuhan hidup yang mendesak membuat mereka terlilit status sebagai wanita penghibur. Bahkan, banyak PSK yang statusnya janda.

Namun tak jarang pula, ada PSK yang nekad menjalani hidupnya sebagai wanita penghibur karena menyukai seks dan coba-coba. Mawar (nama samaran) PSK asal Blitar yang masih berusia 16 tahun mengaku bermula dari coba-coba Sejak SMP ia sudah kerap berhubungan dengan pria hidung belang hingga 5 kali. Konon, ia menggunakan susuk Kecantikan berupa bedak, emas, dan perak serta terkadang memakai obat-obatan.

Saat menjalani pekerjaan terlarangnnya tersebut, tak jarang pengalaman pahit sering dialami olehnya, termasuk ketika sedang mengalami menstruasi. Perempuan berparas imut itu dipaksa minum pil penghenti haids oleh ‘sang mami’ karena harus melayani tamu yang sudah terlanjur datang. Kondisi ketidak-adilan akan hak kuasa atas dirinya dan ketidaknyamanan untuk beristrahat di saat datang bulan benar – benar sangat dirasakan Mawar saat itu.

Mengenai hasil yang didapatkan dari jasa seksual itu, sehari rata-rata perempuan malam ini bisa menerima bookingan antara 2 sampai 4 kali. Sekedar diketahui, bahwa tarif yang dipatok untuk mbooking para PSK antara Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu per shorttime (3 jam). Dengan harga itu mereka diminta untuk menemani pelanggan berkaraoke, berjoget, memijat plus hingga memuaskan hasrat seksualnya. Para pelanggan akan merasa sangat puas jika PSK pandai menyenangkan pelanggan dan pintar berkomunikasi.

“Kemarin saya pulang membawa uang Rp 80 juta,” ucap seorang PSK dengan nada ceria. (Selengkapnya Baca Tabloid Titik Temu Edisi 6 )

Filed in

Tak Dipungut Biaya, 5.177 Warga Pasuruan Pilih Nikah di KUA

Gus Dur Pernah Isyaratkan ‘Soal Gas’ di Pasuruan