Mengenal ‘Mbak-Mbak’ di Tretes

0
19709

Mau cari model yang bagaimana?. Semua ada. Kalau soal harga, ada yang 200, 300, sampai 2 juta. Padahal rasa sama pak, hahaha. Apa Bapak butuh yang bisa mijat plus esek-esek atau yang bisa nyanyi sama joget plus esek-esek, ada lagi yang bisa menyenangkan Bapak karena pandai ngomongnya. Cewek-cewek banyak yang dari Malang, Lumajang, Jember, Ngawi, Lamongan, ada Pasuruan juga, lengkap Pak!.

Keberadaan para PSK di kawasan Tretes, Prigen tak luput dari peran induk semang alias Mami. Salah satu “mami” yang namanya sudah banyak dikenal oleh para lelaki hidung belang adalah Tante Permata (nama samaran). Wanita ini mempunyai jam terbang tinggi mengenai bisnis prostitusi di kawasan Tretes.

Sejak kecil, Tante Permata sudah terbiasa dengan hingar bingar dunia malam dan gemerlapnya dunia prostitusi. Hingga pada akhirnya, saat orang tuanya mulai sepuh. Tante ini kemudian yang menggantikan pekerjaan orang tuanya.

Tante Permata adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Saudara pertamanya yaitu seorang lelaki yang kini berprofesi sebagai tukang ojek. Dan kakaknya yang nomor dua kini berprofesi sebagai pelayan sekaligus penjual makanan di kawasan Watu Adem. Tante Permata sendiri mempunyai rumah tinggal pribadi dan 2 wisma.

Rumahnya berada dikawasan villa yaitu di daerah sekuti, lumbang. Sedang kedua wismanya berada dikawasan Watu Adem. Sebagai seorang ‘mami’ dirinya mempunyai 9 orang anak “nakal”. Salah satu anak nakalnya tersebut adalah seorang mahasiswa yang nekad menjadi budak nafsu seksual lantaran terlilit biaya. Selain itu, ada juga yang menjadi buruh di salah satu pabrik di kawasan Pandaan.

Sebagai seorang pemain yang cukup lama bergelut dengan bisnis prostitusi. Relasi yang dibangunnya cukup kuat, baik dengan pihak hotel maupun jaringan lainnya di kawasan Tretes.

Selama menjalankan bisnisnya, dirinya mengaku sangat diuntungkan dengan peran para tukang ojek yang selalu membantunya termasuk saat menjamu dan melayani para tamu yang datang.

Para tukang ojek tersebut, selalu siap untuk mengantarkan ‘anak nakalnya’ bertemu dengan para tamu, menjemputnya saat pulang usai menemui tamu dan juga belanja kebutuhan para tamu.

Pembagian komisi antara para penjajah cinta, mucikari alias mami dan tukang ojek pun kerap dilakukan. Dari 100 persen hasil yang diterima langsung dibagi secara merata yakni sang mucikari dan PSK memberi 10 persen kepada tukang ojek sehingga total komisi yang diterima yaitu 20 persen. Sedangkan untuk tukang ojek yang hanya menunjukkan kamar, villa atau wisma saja hanya mendapat komisi dari penjaga villa sebesar 15 persen.

Banyak cerita dibalik aktivitas para Pekerja Seks Komersial (PSK). Lebih-lebih mengenai alasan kenapa mereka sampai terjerumus ke lembah hitam dan menjadi penghibur lelaki hidung belang di kawasan Tretes, Prigen. Sebagian besar PSK yang mangkal di kawasan Tretes, Prigen berasal dari daerah Malang, Lumajang, Jember, Ngawi, Lamongan, dan Pasuruan. Bahkan beberapa diantaranya dari luar Jawa Timur seperti Bandung, Jakarta, Medan, dan Batam dengan tingkat pendidikan mulai dari putus sekolah, sekolah dasar hingga tingkat SMU.

“Siapa sih yang mau kerja beginian?. Setiap malam harus (melayani) gonta-ganti orang,” kata Rere (nama samaran), salah satu PSK asal Indramayu, Jawa Tengah yang berhasil mencurahkan hatinya.

Perempuan yang tak pernah luput dari penampilan seksinya ini masih berusia 29 tahun. Namun, ia mengaku sudah mengalami pahit getirnya menjadi seorang PSK di berbagai tempat.

Sebelum singgah dan menghuni di salah satu wisma di kawasan Tretes, Rere pernah mangkal di daerah Batam, namun perjalanan hidupnya akhirnya mengantarkan dirinya untuk singgah di kawasan Tretes, setahun yang lalu.

Sambil menghisap sebatang rokok, perempuan itu menceritakan jika dirinya terjerumus ke lembah hitam tersebut karena ada campur tangan jahat ayahnya yang tega menggandengkan dirinya dengan seorang pria berparas china.

“Waktu itu masih berusia sekitar 17 tahun,” kenangnya.

Di usia yang terbilang masih belia itu, keperawanan rere telah dijual. Menurutnya, alasan sang ayah sampai hati menjual anak gadisnya semata-mata karena uang. Ayahnya terlilit persoalan hutang lantaran kalah di meja perjudian. Tak ayal, ketika hutangnya sudah numpuk maka putrinya pun menjadi korban.