03:14 - Selasa, 17 Juli 2018
Selasa, 7 April 2015 | 21:37

Menyoal Situs Candi, Sang Anak Tiri

Beji (wartabromo) – Kabupaten Pasuruan memiliki potensi luar biasa di sektor pariwisata. Bak surga kecil di kawasan Tapal Kuda, Kabupaten City of Mountains ini memiliki segalanya, baik wisata alam pegunungan maupun laut, wisata keluarga, wisata agro, wisata religi hingga wisata sejarah berupa candi serta bangunan-bangunan bernilai kainnya. Sayang, potensi tersebut tidak dilelola secara maksimal. Pemerintah daerah seperti setengah hati membangun sektor pariwisata ini. Pemerintah sepertinya tidak memiliki rancang-pikir yang jelas dalam pengembangan sektor ini. Sektor wisata seolah dibiarkan survive tanpa ada sentuhan.

Even-even kepariwisataan sebagian besar hanya bersifat seremonial dan tidak pernah menyentuh sasaran. Bisa diambil contoh festival durian yang pernah diselenggarakan Dinas Pariwisata beberapa waktu lalu di Bangil. Aneh bin ajaib! Kenapa tidak diselenggarakan di lokasi penghasil durian semisal di Tutur, Purwosari atau Purwodadi yang merupakan daerah penghasil durian.

Jika alasannya karena lokasi dianggap tidak penting, maka paradigma tersebut harus dibongkar. Jika digelar di lokasi penghasil durian, maka orang (luar) akan mengenal kawasan penghasil buah secara langsung dan memantik rasa penasaran orang luar untuk datang. Semakin banyak orang yang datang, jelas akan menambah semangat para petani durian untuk lebih meningkatkan produknya. Banyaknya orang yang datang, juga akan membuat perekonomian warga menggeliat. Dan masih akan banyak lagi dampak positifnya.

Jika pemerintah serius, pasti akan berpikir menciptakan even-even untuk mempromosikan potensi agro lainnya. Kenapa tidak ada Festival Apel Tutur atau Festival Krisan, Festival Mangga Rembang? Jadi jangan marah kalau orang lebih mengenal Apel Batu atau Mangga Probolinggo.

Itu beberapa contoh saja. Karena memang nyaris tidak ada kehendak serius pemerintah daerah untuk melakukan upaya mengembangkan potensi wisata lainnya. Gembar-gembor wisata keluarga di Tretes yang selama ini digaungkan juga sebatas wacana. Wisata religi pun tidak tersentuh, begitu juga yang lainnya.

candi-gununggangsir

Bromo? Orang Pasuruan banyak yang ngiri karena gunung yang keindahannya tersohor ke penjuru dunia ini lebih dikenal milik Kabupaten Probolinggo. Even Bromo Maraton yang dibangga-banggakan, juga diakuisisi oleh swasta, taman kera yang diimpikan juga masih jauh dari kenyataan, wacana perluasan lahan parkir di Wonokitri juga belum dilakukan, keinginan untuk membangun pos-pos keamanan di sepanjang jalur ke Bromo juga masih gamang padahal keamanan merupakan sarat utama agar lokasi wisata semakin banyak dikunjungi orang.

Tentu saja warga berhak menagih pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata. Frasa “koe dibayar lapo ae” akan meletup sebagai bentuk kejengkelan dan rasa geregetan.

Situasi paling buruk dialami objek wisata situs candi. Bak anak tiri, candi-candi yang tersebar di Kabupaten Pasuruan semakin ‘kesepian dan tanpa rasa kasih sayang’. Orang pemerintah punya kilah normatif dan klise saat candi-candi ini disoal: itu wewenang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Memang. Soal pemugaran dan perawatan situs menjadi kewenangan dan tanggungjawab Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto. Tapi apakah lantas potensi itu dibiarkan? Pemerintah daerah tentu saja bisa mengembangkan potensi ini agar bisa mendatangkan income, minimal untuk warga sekitar.

Beberapakali Titik Temu yang datang ke Candi Sumber Tetek di Dusun Belahan Desa Wononsunyo Kecamatan Gempol, para pengunjung mengeluhkan akses jalan yang buruk. “Padahal jika jalannya bagus lokasi ini akan sangat ramai,” ujar Teguh, seorang pengunjung.

Candi Sumber Tetek dikenal karena selain indah juga khasiat obat yang dipercaya dari air yang keluar dari puting salah satu arca. Keyakinan ini sudah tersohor sehingga pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai daerah. “Saya sering ke sini. Kadang sendirian kadang sama keluarga. Kalau jalannya bagus pasti banyak yang datang ke sini,” kata pengunjung asal Surabaya yang datang bersama keluarganya.

Di lokasi ini terdapat sedikitnya empat warung. Kedatangan para pengunjung sangat menguntungkan dan membantu perekonomian mereka. Jika hari minggu mereka bisa agak tersenyum karena pengunjung relatif ramai. Namun saat hari efektif mereka pun gigit jari.

Untuk Sumber Tetek, pemerintah hanya perlu memperbaiki insfrastruktur mulai jalan, petunjuk arah dan membuat fasilitas MCK. Lokasi ini tidak memiliki MCK yang memadahi sehingga membuat pengunjung tidak nyaman. Pengunjung yang ganti baju atau buang air kecing harus memasang mata ke segala penjuru memastika tidak ada orang yang memperhatikan. Jangan tanya buang air besar. MCK di lokasi ini tidak memiliki fasilitas buang hajat.

Selain Candi Sumber Tetek, juga terdapat Candi Jawi, Candi Raos di Kejapan, Candi Gununggangsir di Beji dan candi lain yang tentunya bisa kembangkan. Memang harus diakui tidak semua candi itu punya potensi ekonomi yang bagus — yang bila tidak mendapatkan perhatian serius dan penuh kesabaran akan terus ‘kesepian’.

candi-gununggangsir1

Candi Gununggangsir, salah satu contoh, sangat sulit dikembangkan agar mampu menarik lebih banyak pengunjung. Candi ini bukan candi utama, dalam arti ‘hanya’ merupakan tugu peringatan atas keberhasilan sistem pertanian masyarakat waktu itu. Candi yang dibangun sebagai tugu biasanya sederhana dan tidak rumit. Candi jenis ini secara umum tidak memiliki nilai estetika yang tinggi sehingga tidak memiliki magnet yang kuat menarik pengunjung. Berbeda dengan candi yang dibangun untuk pertirtaan, peribadatan, candi untuk unjuk masa keemasan maupun situs yang berada di pusat kerajaan.

Candi Gununggangsir hanya dikunjungi segelintir orang tiap pekan. Para pengunjung yang datang biasanya untuk keperluan studi, penelitian maupun tugas belajar. “Saya kesini untuk penetilian, tugas sekolah,” kata Firman, siswa SMPN 2 Kota Pasuruan.

Namun demikian bukan berarti candi ini profitless atau tak bisa dikembangkan sama sekali. Candi yang dibangun akhir abad 10 pada masa Kerajaan Airlangga ini berdiri di atas lahan seluas 62 X 24 meter dengan luas bangunan candi 20 X 17 meter. Pelataran yang relatif luas sangat cocok digunakan sebagai lokasi pementasan seni gerak baik tari atau teater maupun seni musik seperti band dan lainnya. Seni kolosal seperti pegelaran wayang kulit akan sangat amboy jika dipentaskan di lokasi ini. Bangunan candi yang berbentuk segi empat bertingkat  semakin mengecil terdiri dari empat lantai sangat pas jadi latar semua pagelaran kesenian.

Jika punya kehendak, tentu saja lokasi ini bisa dipilih sebagai lokasi untuk even-even lain seperti pemilihan Cak-Yuk. Daripada di hotel yang tentu sangat mahal, kenapa tidak dicoba di candi ini? Bayangkan betapa eksotisnya bila cak-cak yang ganteng dan yuk-yuk yang cantik beraksi di situs bersejarah ini. Dengan sedikit sentuhan dekoratif di beberapa titik, candi ini bisa disulap jadi panggung pementasan atau pegelaran yang sangat layak.

Kegiatan-kegiatan lain seperti hari jadi juga bisa memanfaatkan candi ini sebagai lokasi salah satu evennya. Jika mau ‘ngawur-ngawuran’ instansi-instansi pemerintahan bisa juga melakukan rapat atau berkegiatan di sini. Kenapa tidak? Bukankah ada larangan rapat di hotel? Bukankah bupati juga menginginkan agar pejabatnya lebih kreatif dan berpikir out of the box? Toh tidak ada aturan yang dilanggar. Kalaupun tidak seluruh dinas, setidaknya Dinas Pariwisata atau Dewan Kesenian bisa memulainya. Dengan begitu candi akan ramai dan dengan sendirinya perekonomian akan menggeliat.

Sekali lagi, sangat banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi wisata candi ini. Kalaupun mentok upaya itu tidak membuahkan perputaran ekonomi, setidaknya akan menumbuhkan rasa cinta pada sejarah  terutama bagi generasi muda. Kecintaan pada sejarah akan menjadikan seseorang lebih mengenal ‘muasalnya’ sehingga tidak tercerabut dari akar budaya dan jati dirinya. Hal ini juga merupakan investasi jangka panjang.

Tidak adanya perhatian dari pemerintah daerah diakui Budi Mulyono, Pj Kades Gununggangsir. Sebagai pemimpin desa Budi sebenarnya memiliki hasrat dan pemikiran bagaimana caranya Candi Gununggangsir menjadi ramai. “Sebenarnya candi ini punya potensi, tapi memang tak dioptimalkan,” kata Budi Mulyono.

Ia merasa yakin lokasi tersebut bisa jadi objek wisata yang ramai jika mendapat perhatian. Namun ia mengaku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengarahkan kegiatan-kegiatan di desanya digelar di candi. “Setidaknya kalau ada kegiatan kan jadi ramai. Pikiran saya kalau sudah ramai kan banyak yang bisa jualan. Saat ini tak ada yang jualan di sana, kecuali satu tokoh milik warga,” kata dia. Ia mengaku tidak bisa berharap banyak pada pemerintah daerah. “Saya kan hanya kades mas,” imbuhnya.

Bagaimanapun, apa yang diupayakan Budi patut mendapat apresiasi. Para pejabat daerah yang punya tanggungjawab mengembangkan potensi wisata belum tentu terbersit pemikiran serupa. Alih-alih mengembangkan, mereka mungkin tidak pernah memikirkannya. “Sayang ini kan ini kan candi bersejarah,” pungka Budi.

Nurjanah (53), Juru Pelihara Candi Gununggangsir mengatakan, candi yang berdiri megah di tengah pemukiman penduduk itu memang tidak banyak dikunjungi orang. Selain studi dan jalan-jalan, ada beberapa orang yang datang untuk melakukan ritual. “Biasanya pada malam hari jum’at legi banyak yang ritual. Katanya ada yang mendapatkan biji emas setelah semedi,” kata Nurjanah.

Memang harus diakui mengembangkan objek wisata sejarah berupa candi tidaklah mudah. Dibutuhkan kesadaran, kehendak dan kesabaran serta rancang-pikir yang matang. Pada dasarnya semua pengembangan sektor wisata secara umum dan wisata sejarah khususnya bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. Namun pemerintah punya kekuatan untuk mendorong dan memulainya. Tinggal apakah pemerintah punya daya dorong dan kehendak? Atau mungkin tidak punya kepedulian sama sekali? Perlu dinanti… (mis/fyd)

Sudah Dandan, Pawai Budaya Kota Pasuruan Nyaris Batal

Paska Banjir Bandang dan Tanah Longsor, Banser Pasuruan Siaga 1