04:33 - Kamis, 19 Juli 2018
Kamis, 23 April 2015 | 18:27

Roda Ekonomi Wisata Kuburan

penjual pernak pernik makam yai hamidPasuruan (wartabromo) – Dulu semasa kecil, saya kerap takut jika menemani Ayah, berziarah ke makam Mbah Semendi. Pesarean waliyullah tertua di Pasuruan, itu terletak di daerah Winongan, lewat jalur selatan  menuju kota Malang. Pekuburan tua di sana, penuh rimbun pohon-pohon besar. Ayah mengajakku, pada hari senja menjelang Mahgrib. Di musholla tua dekat makam itulah, kemudian kami shalat berjamaah, dengan penerangan lampu teplok  sampai waktu menjelang Isya.

Kini makam Mbah Semendi sungguh berbeda. Jalan menuju ke sana penuh lampu terang benderang. Banyak peziarah datang dan pergi, pagi hingga malam hari. Juga berdiri tiga warung kopi, untuk peziarah butuh makan dan sekedar menyantap mie rebus.  Saya acapkali, ke sana sembari merapal doa-doa yang dulu Ayah ajarkan. Terlebih lagi, saya sering kebelet rindu berwudhu air bening nan menyejukkan. Bahka sengaja saya meminumnya, karena mata air sumur di pesarean itu satu aliran dengan mata air Umbulan, sumber air terbaik Pasuruan, sejak dulu kala.

Ramainya makam Mbah Semendi,yang bernama asli Sayyid Sholeh bin Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah, seolah tidak sendirian. Makam Mbah Slagah, Wali Segoropuro, berikutnya Kiai Abdul Hamid, waliyullah yang berpulang di era modern, juga menjadi kunjungan wisata religi bagi umat muslim yang mengadakan ziarah wali. Rentetetan itu bersambung karena para tokoh-tokoh yang dimakamkan di situ adalah pelanjut dari perjuangan Wali Songo dalam menegakkan tonggak agama Islam di pulau Jawa.

Maka kearifan lokal, yang kadang jarang dilirik nilai ekonominya, adalah wisata religi. Hakikatnya wisata kuburan ini membawa efek domino bagi penduduk sekitarnya. Ada begitu banyak capaian ekonomi dalam peningkatan wisata kuburan. Sambil teringat seloroh wakil gubernur Jawa Timur,  yang kocak, Syaifullah Yusuf. “Makin banyak orang pikirannya sumpek, maka makin ramailah wisata kuburan,” ujarnya dalam satu sesi  sambutan. Maka jika asumsi dan guruan itu benar, hari ini orang sumpek makin bertambah, buktinya ziarah ke makam para wali makin ramai kunjungannya.

Dan keramaian pengunjung bernilai bagi roda bisnis. Hitung saja berapa banyak warung tempat makan di area sekitar pesarean. Juga rombong penjual bakso, nasi goreng, es degan, es dawet, legen, dan aneka minuman. Belum lagi buah-buahan, baik buah khas daerah setempat maupun buah dari luar. Juga penjual souvenir, batik, alat rumah tangga, buku, lukisan, surban, sarung, kaset dan segala benda lainnya. Dan sungguh luar biasa, bisnis sewa kamar mandi dan toilet juga memberi pendapatan teramat besar bagi pelaku usaha ini. Cukup membangun kamar mandi sederhana, airnya mengalir, duitnya pun segera mengalir setiap hari.

wisata-kuburan

Dalam pandangan ilmu ekonomi, inilah bentuk dari pertumbuhan ekonomi kreatif. Sektor pariwisata berkembang ke segala arah dan menjadikan sesuatu yang dulu tidak bernilai ekonomi, menjadi kekuatan baru memberi keuntungan bagi pelakunya. Akan tetapi dari tinjauan religi, Habib Lutfi, dari Pekalongan seolah mengingatkan kita. “Mengunjungi makam para wali itu untuk berdoa kepada Allah, juga meneladani hidup mereka, bahkan meneladani kematian mereka”. Selanjutnya Habib Lutfi menegaskan,”berziarah ke makam para wali untuk memupuk rasa malu. Lihatlah, mereka yang sudah mati dapat menghidupi orang hidup. Sementara kita yang masih hidup terkadang malah merepotkan orang lain”.

Hikmah yang dihaturkan Habib, penyuluh Toriqoh, itu menyindir kita. Lihatlah sekitar makam Sunan Ampel, peradaban sosial, tata kota, dan ekonominya meningkat. Di dekat Sunan Giri, sarana  transportasi ojek dan pedagang kaki limanya bisa membantu pemerintah mengurangi pengangguran. Dan, Makam Sunan Bonang wujud ikon, wisata kota Tuban yang menjadi sandaran sektor pariwasata lainnya. Pun, makam Mbah Kholil Bangkalan, kini kemilau di malam hari, karena orang tak perlu lagi repot naik kapal feri, sejak jembatan Suramadu terpancang megah membantu kita menikmati pulau Madura.

Jika para wali terdahulu kita hanya mendengar lewat manaqib dan tutur cerita, maka Kiai Hamid kategori manusia  berperilaku terpuji, penuh keteduhan di era modern. Beliau berpulang di tahun 1981.  Ia berjuluk Kiainya para Kiai. Karena tak satupun orang memberi keraguan atas perilaku ibadahnya kepada Allah SWT, maupun hubungan santunnya pada mahluk di sekitarnya. Akan tetapi, lihatlah suasana sekitar masjid Jamik tempat ia disemayamkan, makin hari kian ramai laksana pasar di area alun-alun Pasuruan. Plaza Giant dibangun, nebeng di dekatnya, toko kain, busana muslim, kitab, makanan dan semuanya memadati riuhnya jalan menuju makam. Bahkan Walikota, membuat usulan pada Gubernur, untuk hari libur sehari, ketika Haul Kiai masyhur ini digelar setiap tahunnya.

Efek percepatan ekonomi ziarah kuburan, pernah tergores masalah yang mengundang guyonan. Suatu ketika di tahun 2002, tiba-tiba ditemukan ‘kuburan mumbul’ di daerah Kraton dekat pesantren Sidogiri. Dijuluki mumbul, karena makam itu menggelembung membentuk gundukan tinggi. Maka ramailah kabar beredar, bahwa di situ bersemayam tokoh agama berasal dari Turki yang sempat mampir ke Kraton, lalu wafat di situ. Serempak masyarakat riuh berkunjung ke sana. Setiap hari, gundukan makam makin tinggi, karena peziarah menabur ribuan bunga di sana. Para pedagang berjualan dan meraup keuntungan tidak sedikit.

Pokoknya, makam tiban itu jadi ramai dikunjungi masyarakat dari segala penjuru. Sampai akhirnya, seorang ulama menjelaskan bahwa tidak ada risalah yang menjelaskan tokoh yang dimaksud. Termasuk, mumbulnya makam itu disengajakan orang sekitarnya untuk harapan agar diziarahi orang dan berefek ekonomi untuk masyarakat sekitar. Sungguh kreatif, meski ujungnya penipuan.

Nah, yang tak bisa dilupakan adalah sosok Gus Dur. Bukan karena makamnya di Tebuireng yang kini mendapat julukan Wali 10, karena derasnya kunjungan orang berziarah ke sana. Tetapi karena investigasinya di makam Troloyo, Mojokerto. Melalui penyelidikannya dengan para ahli sejarah, mantan Presiden Indonesia itu menyatakan bahwa, di situ dimakamkan Raja Brawijaya II, yang merupakan Ayahanda Raden Patah, Sultan Demak. Sang raja, masuk Islam kemudian dikudeta adiknya yang bergelar Brawijaya III.  Untuk kemudian, raja tua ini menyepi, membangun masjid dan wafat di Troloyo dengan gelar Sunan Lawu.

Maka ramailah makam dekat Trowulan itu. Hanya saja rombongan peziarah justru kebingungan waktu berada di sana. Disaksikannya, bentuk kuburan di sana ada tiga yang panjang. Mungkin jenazah yang wafat bertubuh tinggi besar, karena trah seorang raja. Selanjutnya puluhan peziarah itu memilh berdoa sangat panjang di kuburan yang paling panjang. Usai berdoa, sang juru kunci berkata sambil tersenyum. ”Maaf Pak! makam yang paling panjang itu kuburan kudanya Mbah Kanjeng Sunan”. | Penulis : Ahmad Baihaqi Kadmi

Filed in

Hari Kartini, Pelajar Putri SMAN Kejayan Jahit Bendera 100 Meter

Pra Muktamar NU, Ki Ageng Ganjur Hibur Warga Nahdliyin di Pasuruan