Pedangdut Cilik Penakluk Ratusan Panggung

0
14

Tasya-dangdutRembang (wartabromo) – Namanya Najwa Camila Tasya, usianya baru sebelas tahun, namun di usia sangat belia tersebut gadis cilik asal Desa/Kecamatan Rembang ini sudah menaklukan ratusan panggung.

Hampir semua grup Orkes Melayu di Jawa Timur pernah mengiringinya bernyanyi. Semua label di Jawa Timur pernah merekam suanya yang amboi. Bahkan, Tasya sudah masuk dalam puluhan album kompilasi dan memiliki satu album pribadi.

“Alhamdulillah sudah (manggung) kemana-mana. Surabaya, Kediri juga Jawa Tengah. Rekaman juga sudah sering,” kata Tasya saat Titik Temu berkunjung ke rumahnya.

Para penggemar dangdut bisa melihat aksi panggung pelajar kelas 6 SD ini di VCD-VCD yang dijual di toko-toko, situs berbagi video YouTube atau melihatnya live saat manggung di sebuah acara. Di usia yang masih belia, Tasya sudah mampu melantunkan hits lama yang dipopulerkan Rita Sugairto, Elvi Sukaesih, Iis Dahlia dan penyanyi top lainnya dengan ciamik. Lagu-lagu yang sudah akrab di telinga tersebut terdengar fresh dilantunkan dengan suara indahnya.

Tidak hanya jago nyanyi dangdut klasik, si centil Tasya ternyata mahir menyanyikan lagu-lagu dengan beat tinggi seperti hits Belah Duren, lagu-lagu Jaipong hingga koplo. Ia juga fasih melantukan lagu-lagu dengan beat rendah seperti single-single milik Ida Laila dan Orkes Melayu Awara.

Anak pertama pasangan Sugianto (44) dan Ifa Maghfiroh (32) ini sudah mampu menguasai panggung dan bisa berinteraksi dengan para penonton. Kostum-kostum yang dipakainya selalu klik dengan posturnya yang masih mungil dan parasnya yang imut.

Kepada Titik Temu Tasya berkisah sudah mulai senang menyanyi sejak usia dua tahun. Sembari tersenyum dan menunjukkan reringsut khas bocah, ia mengisahkan saat beryanyi selalu mengambil benda apa saja yang terdekat yang diumpamakan sebagai microphone.

Bakat menyanyi yang ia dimiliki bisa dimaklumi karena ayahnya merupakan seorang penabuh gendang dan memiliki grup musik melayu sementara ibunya juga seorang penyanyi. Alunan musik dangdut sudah akrab di telinganya sejak dini. Karena bakatnya itu pula, saat masih duduk di bangku TK, Tasya sudah berkesempatan tampil menyanyi di JTV.

Di usia empat tahun, bakat Tasya kian terlihat. Ia bahkan selalu ingin tampil bernyanyi saat grup ayahnya manggung. Sang ayah yang tidak tega melihat putriya bernyanyi di atas panggung selalu melarangnya, namun Tasya bersikeras.

“Dia terus berontak pingin nyanyi. Akhirnya saat ada waktu latihan di rumah Tasya ikut latihan. Karena nyanyinya bagus dan nggak fals, malamnya saya ajak main ke Surabaya dan dia tampil bagus di panggung. Waktu itu niat saya hanya ingin menguji mentalnya, dia takut nggak, ternyata tidak takut,” kata Sugianto yang menemani putrinya.

Sejak saat itu, Tasya diberikan kebebasan bernyanyi. Di bawah bimbingan kedua orang tuanya, Tasya terus mengasah kemampuan. Hingga pada usia tujuh tahun, orang mulai mengenal penyanyi cilik ini. Undangan demi undangan manggung mulai berdatangan sehingga orang tuanya harus mengatur jadwal.

Lambat laun, Tasya kian populer. Banyak grup dangdut yang mengajaknya tampil ke berbagai kota, label demi lebel rekaman Jawa Timur tidak canggung mengontraknya. Kepopulerannya berbanding lurus dengan pundi-pundi rupiah yang didapatkanya. Honornya melejit hingga di atas satu juta rupiah sekali manggung.

“Sekali manggung tiga sampai empat lagu. Saya tidak pernah memasang tarif, orang yang menilai sendiri,” ujar Sugianto, yang juga berperan sebagai manager Tasya.

Diakui Sugianto, Tasya sudah menjadi penopang perekonomian keluarganya. Meski demikian, ia tidak mau berpangku tangan dan tetap berwirausaha.

“Saya bekerja apa saja. Untuk makan sehari-hari saya bisa nyari sendiri,” ujarnya tanpa merinci pekerjaan yang dimaksud. (fyd/timu)