13:34 - Selasa, 21 November 2017
Selasa, 30 Juni 2015 | 00:00

Bulan Nepotisme

Ini bulan, adalah bulan nepotisme bagi umat Nabi Muhammad. Tidak ada umat yang mendapat perlakuan begini sebelumnya dari Gusti Allah. Jangankan bulan Ramadhan ini, bulan Sya’ban saja sudah membuat Nabi Musa iri terhadap kita. Beliau sampai ingin menjadi umat Kanjeng Nabi karena kita dikaruniai “program” Nisfu Sya’ban yang ibadah semalam saja di dalamnya, bisa menyetarai ibadah puluhan tahun.

Umat-umat terdahulu, meski juga disayang Allah tiada beda seperti kita, belum pernah mendapat fasilitas nepotisme seperti yang kita peroleh ini. Umat-umat terdahulu tak pernah memiliki baju baru karena untuk menyucikan pakaian mereka yang terkena najis, tidak cukup hanya dengan mencucinya. Bagian yang terkena najis harus dipotong lalu ditambal dengan bahan yang suci. Bahkan jika seseorang melakukan pelanggaran, serta merta kepala mereka benjol sebagai persekot adzab di dunia.

Kita ini, meski diturunkan ke bumi pada episode terahir dagelan besar alam dunia, mendapat perlakuan khusus karena kita adalah umat Nabi kesayangan Allah. Kita sebenarnya tak kalah benggalnya dengan umat-umat terdahulu yang naudzu billah min dzalik itu. Jika kaum Nabi Luth pernah melakukan penyelewengan seksual nasional, kita juga. Jika kaum yahudi berkali-kali ngece-ngece Nabi Musa dkk—banyak para Nabi yang diturunkan kepada kaum yahudi—, kita juga begitu. Lebih parah malah. Kaum ‘Ad merusak ekosistem jazirah Arab dan sekitarnya, kita malah merusak langit, bumi dan daratan. Tapi alhamdulillah, Allah masih belum “tega” memberi mandat malaikat adzab untuk menuangkan goro-goro ke bumi kita ini.

ramadhanSebenarnya, sudah lama bumi matur kepada Allah, minta izin untuk menelan kita hidup-hidup seperti menelan Kang Tsa’labah dan Wak Qorun dulu. Laut juga begitu, sudah lama minta izin untuk mencuci bumi dari hama-hama sejarah macam kita. Angin, sudah geregeten ingin menerbangkan kita seperti belalang. Gunung, dari dulu ingin menyemburkan lava panas secara berjamaah. Namun Allah tetap tidak tega. Paling tidak Allah “masih merasa” tak tega melihat bayi-bayi yang menyusu, binatang-binatang yang melata mencari makan serta orang-orang jompo yang bermunajat pada sepertiga malam terahir.

Kenapa umat Nabi Nuh langsung disapu bersih begitu melakukan penyelewengan?. Wallahu a’lam. Yang jelas Gusti Allah Maha Pengasih, bahkan Maha Penyayang. Wong Iblis saja masih diberi kesempatan untuk bertobat asal mau bersujud di makam Nabi Adam. Iblis saja yang terlalu congkak. “ Daripada sujud di makam Adam, lebih baik di neraka selama-lamanya. Gengsi, dong!”. Sumbarnya.

Nah, mumpung kita ini diperlakukan secara nepotis oleh Gusti Allah, apalagi ini bulan khusus pesta nepotisme bagi kita, apa salahnya kita pandai memanfaatkan kesempatan seperti keponakan pejabat yang minta jatah pengangkatan sebagai PNS Kepada Pak Liknya?.

Coba kita pikir, kita merasa gembira dengan kedatangan Ramadhan saja, jasad kita sudah diharamkan masuk neraka. Kita sholat tarawih pada malam pertama Ramadhan saja dosa-dosa kita sudah “diputihkan” seakan baru tadi kita dilahirkan. Begitu juga kalau kita tarawih pada malam ketiga. Kalau kita tarawih di malam kesembilan, kita akan diberi pahala seakan-akan kita beribadah seperti Nabi. Edan-edanan, bukan?.

Pada bulan ini malaikat pencatat amal buruk “dicutikan”. Malaikat urusan neraka diperintah menutup pintu-pintu neraka. Malaikat “tukang gebuk” arwah “cuti”. Sedangkan malaikat-malaikat pemberi kabar gembira malah “lembur-lembur”. Sebab amal baik yang kita lakukan harus dicatat seribu kali lipat. Doa-doa diangkat untuk langsung “di-ACC”. Malaikat di dinas rahmat juga sibuk. Malaikat urusan ampunan sibuk “mendata” para bromocorah yang sejatinya harus masuk neraka, di-“P21” kan alias mendapat amnesti ke sorga. Allahu Akbar!.

Bahkan kita berpuasa sambil ngorok di surau seharian pun, malaikat masih membaca istighfar buat kita. Bukan hanya beliau-beliau, bahkan burung, ikan, ayam, semut dan semua yang bernyawa—kecuali Iblis dan setan—beristighfar agar kiranya Gusti Allah sudi mengampuni kita.

Jika berhasil mengolah diri pada Ramdhan ini, saat Idul Fitri kita akan kembali tanpa dosa seperti bayi. Segala urusan dengan Allah –kecuali syirik—dihapus. Tapi soal kita pernah menyunat APBD, mangkir saat ngantor lalu nongkrong di warung kopi padahal kita sudah punya NIP, makelaran tender, menjual akikjenangan dibilang batu asli, ikut menyirami “rumput di pekarangan tetangga”, merekap togel, menernak uang dan segala urusan yang berkaitan dengan anak Adam, belum di-P21-kan oleh Allah. Allah itu demokratis, kok. Hak asasi manusia saja masih dihargai oleh Allah. So, mari pesta ampunan mumpung ini bulan nepotisme. | Penulis : Abdur Rozaq

Komentar Anda

Komentar

Jam Kerja Dikurangi Selama Ramadhan, Pegawai Pemkab Pasuruan Diminta Tetap Fokus

240 Anak Yatim Dapat Bingkisan Ramadhan dari Istri Bupati