15:11 - Jumat, 23 November 0931
Kamis, 5 November 2015 | 09:11

Keris: Antara Klenik dan Metalurgi

Kanjeng Raden Arya (KRA) Natakusuma Cakra Hadiningrat. WARTABROMO/Ahmad Sururi

NOVEMBER 2005 bisa jadi adalah momentum terpenting terhadap eksistensi keris. Sebab, saat itulah, tanpa melalui perdebatan panjang, keris yang merupakan sebuah karya adiluhung diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco, badan milik PBB yang membidangi pendidikan dan kebudayaan. Keris ditetapkan sebagai produk budaya yang harus dilestarikan.

Keputusan Unesco yang mengakui keris sebagai warisan budaya dunia itu memang cukup beralasan. Selain proses pembuatannya yang penuh dengan perjuangan, banyak makna filosofis yang terkandung di setiap bagian keris.

Alasan itu pula yang menjadi pertimbangan. Bahkan, dibanding produk budaya lainnya, keris bisa jadi adalah satu-satunya produk budaya yang diakui Unesco, yang bukan saja pada unsur bendawinya, tapi juga nonbendawinya (intangible).

Sayangnya, saat dunia luar memberikan pengakuannya secara utuh, situasi sebaliknya justru terjadi di negeri sendiri. Hingga kini, sebagian besar masyarakat hanya melihat keris sebagai benda yang sarat dengan klenik. Tak lebih. Imbasnya, banyak sisi-sisi lain dari prespektif metalurgi yang tak terungkap ke permukaan.

“Padahal, ada banyak makna filosofis yang tersimpan di balik setiap bentuk keris. Semakin orang melihat dari sisi mistik atau kleniknya, maka keris akan semakin kehilangan nilai-nilai yang membumi,” kata Kanjeng Raden Arya (KRA) Natakusuma Cakra Hadiningrat kepada wartabromo, akhir bulan lalu.

Pegiat budaya yang akrab disapa Mpu Purwo sendiri termasuk orang yang tidak sepakat bila keris hanya dilihat dari unsur mistisnya. Sebagai sebuah produk budaya, keris dibuat dengan beragam metode. Si pembuat pun, kata dia, harus paham lintas disiplin keilmuan. Termasuk, memahami karakter berbagai jenis logam.

Bagi Mpu Purwo, keris merupakan produk seni budaya, keris menyimpan banyak kerarifan lokal.  Karena itu, seyogyanya ia tidak hanya dipandang sebagai senjata yang kering mana. “Melihat keris hanya dari sisi mistiknya, akan menghilangkan pusaka itu dari aspek filosofisnya serta menghilangkan kearifan lokal yang ada di balik keris,” jelasnya.

Sayangnya, bagi Mpu yang tinggal di Dusun Parelegi, Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ini, pemahaman seperti itu belum banyak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan, sampai saat ini, ia masih kerap menjumpai sejumah tokoh yang melihat keris dari pendekatan klenik-nya. Imbasnya, pada tahap yang paling parah, menyimpan keris, indentik dengan perbuatan syirik.

“Tapi, biarpun begitu, keris ini mempunyai nilai non bendawi, bahwa keris itu juga suatu senjata spiritual dan tidak hanya sebagai senjata perang saja,” ujarnya.

Menurut Mpu Purwo, pada zaman jaman dahulu keris mempuyai 2 fungsi, yaitu sebagai senjata perang (Keris Tayuhan) dan sebagai pusaka (Keris Ageman). Nah, keris pusaka itu memang sengaja dibuat bukan untuk senjata perang tapi sebagai spiritual, atau jimat.

Sebagai pusaka, keris memang berbeda dengan senjata tajam lainnya. Karena itu, untuk membuatnya, tidak sembarang mampu. Diperlukan kemampuan khusus bagi seorang mpu (pembuat keris, Red) untuk menciptakan sebuah keris. Sebab, selain sebagai senjata, keris juga berfungsi sebagai ageman. Inilah yang membedakan keris dengan senjata tajam lainnya, seperti pisau atau pedang.

Keris sendiri dibuat dengan benda-benda yang datang dari ilahi, misal meteor benda langit yang datang ke bumi dan besi, sebagai benda logam yang ada di bumi. Melalui proses yang penuh penuh peluh, percampuran berbagai logam itulah yang kemudian diolah menjadi keris.

Menurut Mpu Purwo, pemahaman karakter masing-masing logam diperlukan guna menyesuaikan energy yang dibutuhkan. Sebab, masing-masing logam memiliki ion-ion atau energi yang boleh jadi berlawanan atau tidak sesuai dengan yang diinginkan pemegang keris.

Mpu Purwo sendiri mengaku banyak melakukan penelitian-penelitian yang mengkhususkan dalam mendalami keris sendiri, sehingga jika ada orang yang ingin memiliki keris akan dilihat kebutuhannya sehingga bahan yang digunakan dalam keris sendiri akan berbeda dalam setiap kebutuhan.

“Kalau membuat keris sendiri memang tergantung dari pemesannya, apakah untuk penglaris, keselamatan, kewibawaan, singkir boyo semua tentu berbeda dengan bahan dasar pembuat kerisnya,” terangnya. Tak hanya untuk keselamatan, keris juga dapat digunakan sebagai sabuk inten, jadi pembawanya dapat mempunyai fungsi anti bacok, anti silet dan anti peluru.

Bagi Mpu Purwo, keris merupakan produk dari seni tempa, seni pahat, seni rupa, seni patung yang memiliki filosofi sangat tinggi di dalamnya. Baik dari aspek budaya, spiritual dan juga filosofi. Walaupun banyak yang bilang keris memiliki kandungan mistik, Mpu Purwo mengatakan keris adalah seni budaya yang adi luhur karena bisa dikaji dan dipelajari.

“Ada ilmu Metalorgi yaitu ilmu mengenai pencampuran besi, karena bahan dari keris sendiri dari berbagai macam besi aji seperti nikel, baja, besi dan meteor digunakan sebagai pamor,” ujarnya. Karena itu, sebagai sebuah produk budaya, sudah selayaknya keris juga mendapat ruang untuk dilestarikan, bahkan diajarkan. TABLOID WARTABROMO – Oktober 2015/Ahmad Sururi

Komentar Anda

Komentar

Tambang Galian C di Prigen Ditutup Paksa

Jatuh Dari Motor, Penunggang Mio Tewas Tertabrak Supra