15:11 - Senin, 23 November 1057
Jumat, 6 November 2015 | 20:30

Diawali Tirakat, Begini Rumitnya Proses Pembuatan Keris Pusaka

Kanjeng Raden Arya (KRA) Natakusuma Cakra Hadiningrat. WARTABROMO/Ahmad Sururi

Purwodadi (wartabromo) – Sebagai sebuah senjata pusaka, proses pembuatan keris tidak sama dengan senjata tajam lainnya. Karena itu, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum memulai membuat sebilah keris. Mulai dari ritual sebelum memulai, hingga pewarangan.

Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah keris? Menurut Kanjeng Raden Arya (KRA) Natakusuma Cakra Hadiningrat, lama pembuatan keris sangat bergantung pada jenis keris yang diinginkan. Sebab, beda jenis, beda pula bahan yang dicampur. Bergantung energi atau ion-ion logam. Dimana, masing-masing logam memiliki kekuatan berbeda ketika dilebur.

Namun, sebagai gambaran, menurut Mpu Purwo, untuk membuat keris bagus (pusaka), lama pembuatan bisa mencapai 1 hingga 3 bulan. Sedangkan keris dengan kualitlas biasa, proses pembuatan mencapai 2 minggu sampai 1 bulan.

Sebagai pembuat keris, Mpu Purwo sendiri mengkhususkan diri pada pembuatan keris pusaka. Akan tetapi, ia tak menolak bila ada yang meminta dibuatkan keris sekadar untuk cenderamata atau souvenir. Untuk keris jenis terakhir itu, ia bahkan mampu membuat 3-4 keris setiap minggunya.

(Baca: Keris: Antara Klenik dan Metalurgi)

Mengapa pembuatan keris pusaka memakan waktu lebih lama? Ini dikarenakan proses pembuatan keris sendiri cukup memakan waktu, dari tirakat, doa, proses pelipatan besi sampai finishingnya, sehingga keris yang dihasilkan benar-benar memiliki nilai yang tinggi baik dari segi seni sampai spiritualnya.

Sebelum Mpu membuat keris, terlebih dahulu melakukan tirakat, tirakat ini melakukan puasa 3 hari dengan sahur dan buka hanya mutih atau makan nasi putih dan air putih saja. Setelah itu baru melakukan doa dengan ubo rampe yaitu perlengkapan ritual bunga (rempah-rempah dll) disertai saksi doa si mpu dengan menggunakan media alam semesta.

Setelah selesai baru proses penempaan keris, dimana bahan logam dijadikan satu dan dipanaskan dalam suhu lebih dari 1000 derajat celcius. Proses ini memakan waktu yang cukup lama, karena besi yang bercampur meteor ini harus di tempa dipanjangkan dan dilipat terus menerus. Proses ini dinamakan Satonan Besi.

Kemudian membuat kodokan keris yaitu mulai membentuk keris dan dilanjutkan dengan detail keris. Setelah keris mempunyai bentuk, untuk finishingnya kerus dilakukan penggerindaan yaitu proses mendetailkan sisi pinggir keris agar memiliki nilai seni tinggi, setelah itu pewarangan yaitu dicelupkan ke dalam air warang yang mengandung arsenikum selama 10-15 menit untuk mengeluarkan pamor dari keris.

Setelah selesai keris dibersihkan dan diberi minyak keris yang berasal dari minyak cendana, mawar atau seribu bunga, fungsi peminyakan ini sendiri untuk menghindarkan dari korosi dan karat dan pamor tetap tampak indah.

Dalam pembuatan keris harga termahal untuk keris yang bagus bisa seharga Rp 60 juta per kerisnya. Untuk karya keris yang masterpiece. Namun untuk keris rata-rata bisa seharga Rp 3,5 juta sampai diatasnya tergantung kemampuan dari pemesan sendiri.

Kalau yang dijual di pasaran untuk keris sebagai suvenir atau cinderamata rata-rata dengan harga dari Rp 500 ribu sampai Rp 750.000. “Ada juga yang ukuran kecil yang bisa masuk di saku itu bisa dengan harga Rp 300 ribu dan keris suvenir yang paling bagus bisa seharga Rp 3 juta,” jelasnya. TABLOID WARTABROMO | OKTOBER 2015 | Ahmad Sururi

Komentar Anda

Komentar

Dear Pendaki, Arjuno-Welirang Masih Tutup

Bertema Zamrud Katulistiwa, Carnival On The River Semakin Keren