15:11 - Jumat, 24 November 0941
Minggu, 22 November 2015 | 20:04

Kopdar Bareng Milanisti Pasuruan

Kopdar Bareng Milanisti Sezione Pasuruan.

Pasuruan (wartabromo) – Kobe Bryant, megabintang NBA, mengakui atmosfer dan gairah dalam pertandingan sepak bola sangat berbeda dengan basket. Bryant, bahkan menyebut sepak bola layaknya sebuah agama.

“Tidak diragukan lagi, hasrat di sepak bola berada pada level lain. Sepak bola sangat berbeda. Hal itu seperti sebuah agama. Besar di Italia memberi saya pengalaman jatuh cinta pertama dengan sepak bola,” kata Bryant.

Suka atau tidak, sepak bola sudah seperti agama.  Pemain-pemain diidolai layaknya nabi. Tingkah-pola dan gayanya diikuti. Menamai si buah hati dengan nama pemain pujaan, salah satu yang lazim dilakukan.

Para fans bisa merengek seperti anak kecil saat melihat pemain pujaannya pindah ke klub lain. Mereka juga marah jika idolanya tersebut tidak mendapatkan perlakuan yang layak dari klub. Bahkan, banyak yang tidak merelakan sang pemain pensiun meski performanya di lapangan sudah dirampas usia.

Klub-klub sepakbola punya ‘umat’ yang mendukungnya dengan sepenuh jiwa. Air mata bisa meleleh tanpa disadari saat klub kesayangan ditumbangkan tim lawan.

Sebaliknya, kebahagian membuncah saat melihat timnya meraih kemenangan. Pesta-pesta dilakukan, nyanyian-nyanyian dan yelyel diteriakkan sepanjang waktu bak sebuah ritual pemujaan.

Kecintaan para penggemar sebuah klub sepak bola menembus ruang dan waktu, tidak terhalang oleh batas negara, warna kulit atau usia. Mereka bergerak dalam sebuah satu panji bernama fans klub.

Klub-klub besar di Eropa rata-rata memiliki penggemar fanatik. Fanatisme bukan hanya di kota maupun negara asal klub tersebut, tapi sudah menyebar ke belahan dunia lain.

Klub-klub di liga-liga paling elit dunia seperti Italia, Inggris dan Spanyol memliki jaringan penggemar hingga ke penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia yang masyarakatnya memang gandrung dengan olah raga kolektif ini.

Di Indonesia, banyak kelompok penggemar klub-klub elit Eropa, yang beberapa diantaranya bahkan memiliki jaringan sangat kuat hingga memiliki struktur organisasi yang lengkap. Salah satunya adalah kelompok pendukung Associazione Calcio (AC) Milan, yang dikenal dengan sebutan Milanisti. Salah satu klub paling sukses di Negeri Pizza, Italia, ini bahkan memiliki kelompok penggemar hingga tingkat basis.

Basis Milanisti layaknya sebuah kecamatan dalam struktur administrasi pemerintahan. Hanya saja, basis ini belum terdaftar secara resmi di Milanisti Indonesia. Basis merupakan embrio dari Sezione, sebuah struktur paling kecil dari ‘pemerintahan’ Milanisti Indonesia. Sezione sendiri berada di bawah Paguyuban Milanisti Tingkat Provinsi.

Sezione merupakan kelompok Milanisti di tingkat kota madya dan/atau kabupaten yang diketuai oleh seorang yang disebut sebagai “Capo”. Dalam Bahasa Italia, “Capo” bermakna pemimpin.

Meski Sezione merupakan bagian terkecil dalam struktur resmi Milanisti Indonesia, bukan  berarti basis Milanisti diabaikan karena dari basis-basis inilah akan berdiri Sezione.

“Dulu kita juga asalnya dari basis. Milanisti Basis Pasuruan, tepatnya. Kemudian pada tanggal 16 Februari 2013, baru menjadi Sezione Pasuruan,” ujar Risky Febrianto, Capo Milanisti Sezione Pasuruan, saat ngopi darat di Miland, maskas Milanisti Sezione Pasuruan, beberapa waktu lalu.

Untuk bisa menjadi Sezione, sebuah basis harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Salah satunya, minimal harus memiliki 20 anggota resmi. Selain itu basis juga harus memiliki kegiatan rutin, seperti kopi darat, nonton bareng dan lain-lain untuk bisa menjadi Sezione.

“Setelah memenuhi syarat, basis bisa mengajukan proposal ke pusat. Kalau memenuhi baru bisa resmi jadi Sezione,” ujar pria yang biasa disapa Kewor ini.

Kewor sendiri merupakan Capo kedua Milanisti Sezione Pasuruan yang terpilih lewat Pemilihan Raya (Pemira) pada Mei 2015 lalu. Pemira tersebut diikuti sekitar 100 anggota resmi. Ia dipercaya memimpin Milanisti Sezione Pasuruan dari tahun 2015-2017.

Sebelum Kewor, Capo Milanisti Sezione Pasuruan adalah Lukman Dian. Lukman Dian sendiri hadir dalam kopdar yang gayeng tersebut. Dian, merupakan founder Milanisti Pasuruan bersama Oktabrianto Patty dan Heri. Ketiga orang inilah yang mendirikan basis awal Milanisti Pasuruan.

Kopdar di Miland berlangsung dalam suasana santai. Apalagi, selain sebagai markas, Miland sendiri merupakan sebuah warung yang menyediakan aneka minuman dan makanan sederhana. Para punggawa Milanisti Pasuruan yang lintas generasi hadir dalam kopdar yang rutin diadakan tersebut.

Seperti kopdar lainnya, pembicaraan juga cair dan menyoal banyak hal seperti kehidupan sehari-hari, pekerjaan, permasalahan kecil dan lainnya. Hanya saja karena memang orang-orangnya merupakan penggemar Rossoneri, julukan AC Milan, perbincangan pun selalu mengarah ke seputar tim dari kota mode tersebut. Soal transfer pemain, jadwal pertandingan, klasemen dan pernak-pernik pertandiangan lainnya.

Meski rutin dilakukan, tidak harus semua anggota berkumpul dalam setiap kopdar. Profesi mereka yang heterogen mulai dari karyawan, polisi, PNS, pekerja lepas hingga anak-anak sekolah tidak memungkinkan mereka terus-terusan berkumpul. Meski begitu ada saatnya dimana semua anggota diundang untuk menghadiri sebuah acara, rapat atau kegiatan organisasi lainnya.

“Komunitas ini pada dasarnya merupakan media silaturahmi. Media saling mengenal antar Milanisti, antar para penggemar AC Milan. Kita juga bisa saling bertukar pengalaman masing-masing, dan yang terpenting bisa saling membantu,” kata Oktabrianto Patty, salah satu fouder kelompok ini.

Pria yang juga anggota polisi ini mengatakan semakin banyak penggemar AC Milan yang berkumpul, maka komunitas akan semakin kuat. Jika komunitas semakin kuat maka solidaritas akan semakin tinggi.

“Obrolannya yang macam-macam. Memang banyak seputar Milan, tapi masalah-masalah lain juga di bahas,” terang pria yang akrab disapa Brian ini. (fyd/fyd)

Komentar Anda

Komentar

Buruh Pasuruan Siapkan Aksi Mogok Nasional

Cegah Macet, Traffic Light Simpang Empat Taman Dayu Akan Digeser