Dagelan. Eh, Pengajian

0
57

santri ngajiAlhamdulillah, kita sudah masuk di bulan Rabiul Awal lagi. Masih seger waras dan bisa ngopi. Kenapa mesti bersyukur, karena bulan ini adalah bulan kelahiran idola kita. Bulan dilahirkannya kekasih hakiki kita, nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam. Berbagai bentuk rasa syukur kita peragakan—belum kita hayati. Kita rayakan hari kelahiran Sang Junjungan dengan berbagai macam upacara, yang kadang membuat hati beliau malah kurang berkenan. Salah satunya, adalah mengadakan acara-acara seremonial dengan gebyar.

Itu bukan sebuah kesalahan, hanya saja—menurut Cak Manap— mubaddzir. Jangan keburu-buru mencap Cak Manap anti Islam tradisional, lho ya… Ia hanyalah bagian dari umat Islam yang mencoba mengkritisi salah urat kebudayaan masyarakat kita. Dan semoga ia tidak sedang mencari-cari celah untuk narsis. Ngomong macam-macam biar cepat terkenal. Menurut pengakuannya, Cak Manap hanya meluapkan kegusaran yang selama ini ia umbar dalam seminar-seminar di warung kopi. Tak lebih. ”Saya kan umat Islam, boleh dong saya mengomentari rumah saya sendiri?. Sama seperti Sampeyan yang kurang sreg dengan model korden di rumah, lalu coba-coba kasih masukan sama istri.”

”Coba bayangkan, kita ini baru punya madrasah dengan jumlah murid tak genap bilangan jari tangan sudah ”repot-repot” bikin karnaval saat perayaan hari jadi. Punya TPQ dengan enam atau tujuh gelintir santri sudah ”repot-repot” bikin acara haflatul imtihan dalam rangka memperingati milad ke setengah tahun, dengan menelantarkan bisyaroh para guru ngaji atau agenda renovasi gedung TPQ. Karena ingin ikut serta membumikan ”cahaya” Tuhan, kita mendirikan madrasah Y di samping madaraah X. Bayangkan juga para takmir masjid yang hobi mengadakan pengajian umum. Tujuh belas kali dalam setahun kepontal-pontalmengirim proposal ke seantero nusantara dalam rangka menggali dana untuk mengadakan pengajian tapi membiarkan pembangunan masjid terbengkalai—meski sudah membikin posko penggalian dana di jalan-jalan.”

”Sudah terlalu banyak pengajian umum yang bisa kita hadiri dalam setahun. Pengajian umum dalam rangka halal bi halal, haul kubro, isra’ mi’raj, nuzulul Qur’an, asyuro, idul adha, muharraman, haul syeh anu bin anu, belum lagi pengajian umum dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia, walimatul khitan, walimatul arusy bahkan dalam rangka syukuran haji dari hasil menernak uang, tapi kita masih saja hobi mengadakan pengajian umum. Sekali lagi, saya bukan anti pengajian umum dan tidak menganggapnya sia-sia, hanya saja saya merasa tersindir oleh cerpen Amplop Abu-abu-nya Mbah Kiai Mustofa Bisri.”

”Pengajian-pengajian itu cukup menguras tenaga, pikiran dan dana. Sayangnya ia kurang memberi dampak dalam membangun moral umat” begitu curah Mbah Mustofa Bisri. Dan saya ikut gerah atas hobi kita itu. Bagaimana tidak, wong pengajian hanya kita jadikan sebagai hiburan semata. Buktinya, kita hanya mau mengundang dai-dai ”menyenangkan” yang materi ceramahnya 95% berisi humor dan 5% pesan moralnya pun hanya diambil dari lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama atau Bunda Ida Laila, bukanDzurratun Nasihin apalagi Al-Hikam.”

”Selanjutnya, dai malah menjadi semacam artis sehingga manajemen serta sistem marketingnya tertata rapi bahkan melibatkan campur tangan event organizer semi profesional. Styleketika berceramah pun selalu di-up date meski materi ceramahnya bisa diulang hingga ratusan kali di beberapa tempat. Bukan hanya tema, redaksi, ayat atau hadits yang dibaca, lagu-lagu yang disitir serta humor yang mesti dilontarkan pun sama persis. Lama-lama tak berbeda jauh dengan peserta pildacil yang berceramah berdasarkan materi hafalan dan tema itu-itu juga. Kemulyaan majelis ilmu jadi ternoda oleh pembelokan idealisme jihad. Bukankah tak pantas jika ayat-ayat Qur’an dikutip untuk kemudian diikuti oleh demontrasi humor sarkastik atau lirik-lirik lagu dangdut?”

”Tapi umat terlalu gerah jika kearifan dituturkan dengan cara konvensional seperti biasanya, Cak”. Kata Cak Mukri menimpali.

”Tapi kan tidak harus campur aduk seperti itu, Cak? Harus jelas mana pengajian dan mana dagelan. Sebagian dai sekarang takut kehilangan ”order” jika materi ceramahnya tak lucu. Saking parahnya, sembilan puluh lima persen melenceng dari tema karena terlalu memanjakan para hadirin dengan banyolan. Bahkan tak jarang, masalah amplop atau uang saku sebagai pembicara dijadikan materi guyonan.”

”Ah, Sampeyan lupa ya kalau Kanjeng Sunan Kalijaga bahkan menggelar pengajian sambil wayangan dan Kanjeng Sunan Bonang sambil memainkan gamelan?”

”Pokoknya saya kurang setuju kalau pengajian harus berubah fungsi menjadi hiburan.”

”Umat ini sudah terlalu pening, Cak Manap. Jadi jika mau menasehati mereka pun harus dengan cara dagelan.”

” Ya nuwun sewu, cak. Terlalu jauh kalau kita bandingkan para dai sekarang dengan para sunan. Bainas sama’ was sumber minyak jauhnya. Sekarang materi semata kok yang dijadikan ukuran. Jabatan dai sering dianggap sebagai matapencaharian. Kadang, seorang dai tak mau datang lagi kalau pernah diundang amplopnya kurang tebal,”

”Nyebut, Cak Manap! Para dai itu juga manusia, cak. Butuh penghidupan seperti kita. Memangnya mudah momong umat? Kita ikut seminar tak jelas juntrungnya saja mesti membayar ratusan ribu per orang, lha ini, kita memberi uang transport dari urunansaja Sampeyan undat-undat begitu.” Cak Manap terlihat komat-kamit membaca istighfar dan syahadat.

”Pokoknya saya tidak setuju kalau ada pengajian umum campur dagelan.”

”Lha kalau para hadirin ngantuk, gimana?”

”Ya, materinya harus menarik.”

”Kita orang Indonesia, cak. Jawa, lagi. Dagelan adalah salah satu cara kita menertawakan hidup. Rakyat sudah jengah dengan permainan sirkus di Senayan, pilkadal dan masalah beras.”

”Oke, boleh ada sedikit banyolan asal cerdas dan tidak saru seperti gaya Kiai Anwar Mujahid, bukan seperti dakocan yang tiap pagi berlompatan di tivi swasta itu. Bukannya Islam menjadi indah, tapi Islam akan menjadi lucu.”

”Oalah, cak, cak!” Untungnya Cak Saepul datang memesan kopi. Cak Manap langsung menyelinap ke dalam warung untuk kembali menyeduh kopi. Beberapa hari setelah jagonya kalah dalam pilkada, Cak Manap jadi suka nyinyir. (Abdur Rozaq)