20:16 - Senin, 18 Juni 2018
Rabu, 20 Januari 2016 | 08:36

Islam Garis Mlungker

Foto ilustrasi (Gesang Arif Subagyo)

Ustadz muda kita yang satu ini, adalah prototipe Kiai Umar bin Khattab : kenceng, kritis dan tak bisa dinego. Beliau begitu disiplin sehingga sering mengingatkan orang pada generasi beberapa dasawarsa pasca periode Nabi. Meski agama sudah menjadi “dongeng” dari alam masa lalu, beliau tetap kenceng layaknya baru kemarin ayat tentang amar ma’ruf nahi munkar diturunkan dan belum dijabarkan metodologinya oleh Kanjeng Nabi.

Idola beliau KH. Umar bin Khattab.Tetapi karena beliau kurang lengkap mengkaji karakteristik Kiai Umar, tak tahu jika sebenarnya Sang Singa Padang Pasir itu sangat melankolis dan mudah menangis, maka kiai kita ini sering dianggap menakutkan oleh umat.

Cara berislam beliau bisa bikin ciut para “muallaf” yang sudah lama bersyahadat tapi baru mendapat hidayah untuk mengamalkan rukun Islam selanjutnya. Menurut perspektif beliau, hukum itu hanya halal dan haram. Makruh, sunnah, mubah apalagi ma’fu, tidak ada. Beliau selalu mengambil sikap ihthiyat yang bagi seorang muslim ”pemula” begitu menyeramkan.

Kalau ada pelanggaran—karena mengambil prinsip amar ma’ruf kualitas super—beliau akan langsung mengingatkan si tersangka dengan tindakan seperti “tawaran” hadits. Tapi sayang, beliau kurang betul-betul teliti dalam mengkaji asbabul wurud hadits tersebut. Jika Allah membolehkan kita melakukan sholat dengan duduk atau bahkan tidur karena sakit, beliau seakan kurang puas dengan keputusan tersebut. Kegemaran memanfaatkan kemurahan Tuhan dianggap terlalu manja sama beliau.

Beliau juga sering mengkampanyekan pemurnian tauhid dengan hanya ber-Tuhan kepada Allah. Semua orang harus mampu mengikuti jejak Nabi Isa AS, harus berani kerasan di masjid sambil menunggu hidangan turun dari langit. Orang-orang lemah semacam Ciprut—yang hingga kini masih melarat—dihujat habis karena dinilainya belum Islam benar. “Kemelaratan adalah hukuman langit bagi orang-orang kurang memper-Tuhankan Tuhan” kata beliau. Apalagi umat Nabi yang sampai hari ini masih terjerembab di liang-liang paling remang kehidupan, belum bisa meloloskan diri dari culikan alkohol, renten serta entah apalagi—meski masih teguh memegang janji suci syahadatain—bisa-bisa beliau anggap halal darahnya.

Kiai kita ini memang tak pernah menengok umatnya yang masih tercecer di gang-gang tergelap kehidupan. Tak pernah nyambangi umat beliau di tempat karantina semacam panti pijat, warung berlampu temaram, diskotik, trotoar atau setidaknya di warung-warung kopi. Beliau kurang bisa menghayati “sulitnya” mencintai Allah dengan cara kurang wajar seperti itu. Belum berhasil menghayati jika perut keroncongan tak serta merta bisa tenteram dengan beberapa potong hadits dan jastifikasi halal-haram.

Kita harus kembali bersyahadat jika pembelaan terhadap saudara kita yang masih tersandera di jurang gelap merupakan kemurtadan. Tapi, bukankah hanya hak Allah untuk menentukan siapa ke sorga dan siapa ke neraka. Lagi pula kerendahhatian lebih pantas daripada kecongkakan merasa lebih suci.

Mengapa ajaran televisi bisa dianut orang meski ia lebih banyak mengandung mudharat, itu karena televisi menyebarkan ajarannya dengan cara menghibur. Bahkan pemerintah sampai tertarik untuk mengadopsi metode mereka dan menginstruksikan para guru untuk menjadi pengajar sekaligus penghibur.

Wali Songo juga mengerti benar teori psikologi dakwah ketika menyebarkan Islam di negeri ini. Seandainya saat itu Islam didakwahkan dengan metode Kiai Saklek, insya Allah kita minoritas. Atheisme juga bisa dianut banyak orang di negeri mayoritas muslim ini karena ia menjanjikan pembebasan-pembebasan, termasuk dari fatwa saklek yang digali dari literatur dalam ranah tasawuf namun diberi label fikih. Nabi juga tak pernah menajis-najiskan penduduk Thaif, bahkan berusaha melerai Jibril alaihis salam ketika beliau naik darah dan hendak menimpuk mereka dengan gunung. Meski, amat tidak bersahaja sikap mereka terhadap Nabi. “Ya Allah, berilah mereka hidayah, karena sesungguhnya mereka belum tahu kebenaran Islam” malah begitu doa Nabi. Bahkan, Al Qur’an “harus” step by step melarang khamr. Tentu saja Allah sudah “mempertimbangkan” reaksi masyarakat Arab jika hobi mereka diberedel. “Bisa-bisa” mereka malah ragu untuk menentukan pilihan : Islam apa khamr?

Di hadapan perempuan for rent, kurang bijak jika harus terang-terangan bilang zina haram apalagi mengutip ayat tentang kepedihan siksa neraka bagi para pezina. Itu terlalu to the point ibarat melaksanakan ibadah sunnah malam Jumat dengan istri tanpa foreplay. Akan terasa menyakitkan dan bisa-bisa membuat mereka phobia terhadap Islam.

Dakwah dengan metode seperti ini, selain kurang efektif juga merugikan Islam. Karena pertama, Al Qur’an akan disalah persepsikan hanya berisi pasal-pasal dakwaan, ancaman serta kabar sedih. Kedua, karena ego bisa membutakan kita hingga tak bisa melihat cahaya, sangat mustahil untuk bisa membuat orang tertarik dengan keindahan sunrise atau pelangi. Ketiga, siapa pun lebih menyukai pujian daripada kritik, lebih berharap untuk dimengerti daripada dimarahi. Lagi pula kurang bijak memarahi umat belum tamyiz yang belum terlalu kerasan dikarantina. Bisa minggat mereka nanti.

Dan pada suatu tayangan breaking news di televisi, beliau ditangkap Densus 88 dengan tuduhan menjadi otak pemboman yang baru saja menggunjang beberapa wilayah di negeri ini. (Abdur Rozaq)

Dana Insentif Rp 40,5 M untuk Kemaslahatan Warga Miskin

Ajian Semar Mesem