15:11 - Rabu, 24 November 9830
Rabu, 3 Februari 2016 | 08:51

Namaku Nisbi Alphawati, Eks Gafatar

Foto ilustrasi/WARTABROMO

Namaku Nisbi. Nisbi Alphawati. Entah kenapa orang tuaku memberi nama seganjil itu ketika aku lahir. Mungkin nama itu merupakan sebuah isyaratsebuah pertanda bagi alur hidupku di suatu episode. Terutama pada episode hidupku saat ini. Aku seorang istri dan seorang ibu. Aku dikarunia seorang suami dan seorang bayi lelaki lucu yang keduanya –kucurigai—sebagai ”titisan” Muhammad. Kenapa begitu, karena kedua orang tercintaku itu merupakan manusia sempurna. Suamiku mengingatkanku kepada Ali bin Abi Thalib, suami terbaik sepanjang sejarah manusia, meski ia bukan seorang nabi. Dan Azam anakku, adalah Abdul Qadir al Jilani kecil yang menolak ASI demi berpuasa ramadhan sejak bayi. Hidupku bisa dikatakan sempurna meski sesekali aku dihantui oleh sebuah penyesalan di alam bawah sadar : aku tak pernah mengenal Tuhanku secara ”utuh”. Secara kaffah.

Memang, sedari kecil aku tak pernah mendapatkan hakku untuk diperkanalkan kepada Tuhan oleh kedua orang tuaku. Mereka lebih sibuk mengupayakan agar trah kami tak pernah kelaparan hinggu keturunan ke tujuh. Ayahku selalu bekerja di sepanjang usianya, ibu juga begitu. Kedua orang tuaku bukan orang awam sebenarnya, namun apalah artinya jika aku tumbuh dibawah asuhan pembantu kami. Bagaimana pun tinggi kearifan dan pengetahuan ayah dan ibu, yang menjadi model dan panutanku”hanyalah” Bik Inem. Wanita desa yang tak lulus SR, yang tak pernah membacakanku dongeng Cinderella, apalagi cerita nabi-nabi.

Ayah memasukkanku ke sebuah SD favorit begitu aku menginjak usia sekolah. Sebuah sekolah dasar yang pada ahirnya kutahu milik yayasan agama lain. Di sana aku belajar banyak hal-hal hebat, tapi aku tak pernah diajari bagaimana cara berwudlu dan sembahyang. Setiap kali ada jadwal jam pelajaran agama aku disuruh belajar di luar oleh guruku.

Selulus dari SD aku didaftarkan ke sebuah SMP favorit. Karena sekolah-sekolah Islam tak ada yang berkualitas—kata ayah—aku kembali bersekolah di sebuah lembaga milik agama lain. Dan seperti saat SD, setiap jam pelajaran agama berlangsung aku disuruh keluar oleh guruku. Disuruh belajar sendiri di perpustakaan, tapi buku-buku agama yang kubaca isinya berbeda dengan yang pernah kudengar dari seorang ustadz. Semua pendidikanku kutempuh di lembaga yang dikelola oleh agama lain, termasuk ketika SMA.

Kau tahu bukan, setiap orang pasti pernah dicekam kerinduan kepada Tuhannya? Dan itu kurasakan ketika aku masuk di perguruan tinggi. Seperti nabi Ibrahim, aku mencari-cari Tuhan tanpa kenal lelah. Kubaca setiap pertanda keberadaanNya. Kubaca kutipan-kutipan ayat dan hadits pada kalender, stiker-stiker bahkan bungkus kacang goreng. Hingga pada ahirnya, aku bertemu dengan Ustadz Abu Kaddzab, seorang ustadz yang alim dan begitu semangat dalam berdakwah. Maka tentu saja ”kehausanku” akan Tuhan bisa dengan puas kureguk. Ustadz Abu Kaddzab ibarat Jibril yang menurunkan ”wahyu” secara langsung kepadaku.

Darinya aku mendapat bimbingan, pencerahan bahkan pemahaman iman yang benar. Tidak seperti pemahaman yang pernah kubaca dalam buku-buku agama yang kubeli di pedagang kaki lima. Aku bahkan pernah terkejut ketika Ustadz Abu Kaddzab berkata ”kita perlu menyelamatkan banyak orang dari kekafiran. Termasuk kedua orang tuamu. Kita juga perlu membangun sebuah negara yang berdasarkan agama, karena negara yang kita huni sekarang ini adalah daarul kufr, negara kafir karena tidak menerapkan hukum-hukum Tuhan.”

Ustadz Abu Kaddzab adalah pembimbingku dan wakil Tuhan yang diutus untuk menyelamatkanku dari kesasatan. Maka apapun yang ia perintahkan wajib kulaksanakan. Pembangkangan terhadapnya berarti pembangkangan terhadap Tuhan. Pada suatu majlis ia berkata kepadaku ”sudah saatnya kau berhijrah. Pindahlah dari pulau Jawa karena pulau ini adalah ”Makkah” tempat berdiam para kafir jahiliyyah. Imanmu belum sempurna jika kau belum berhijrah ke ”Madinah” untuk menyambut kejayaan agamamu. Jual semua hartamu sebagai modal ketika sampai di ”Madinah”. Berhijrahlah seperti para sahabat nabi untuk menyempurnakan agamamu.”

Maka, pada suatu malam, tanpa sepengetahuan suami aku berangkat ”hijrah”. Kutinggalkan anak, suami, orang tua dan kujual rumah tanpa sepengetahuan mereka. Kulakukan semua itu dalam rangka meniru jejak langkah para sahabat nabi. Bukankah dulu mereka juga harus meninggalkan keluarga, meninggalkan harta dan kemapanan di Makkah? Aku berangkat berhijrah ke Kalimantan dalam rangka menyempurnakan agamaku.

Namun aku kecewa karena Kalimantan bukanlah Madinah. Tak ada kaum Anshar yang menolong kami begitu sampai di sana. Jangankan sambutan, kami malah diusir, dicaci, dikejar dan tampung di penampungan para pengungsi. Lalu, para taghut—pemerintah—memulangkan kami ke rumah masing-masing.

Aku, tak tahu harus pulang ke mana. Rumah dan tanah sudah kujual. Suami telah menceraikanku dan anakku telah diasuh oleh mertuaku. (Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Pakta Integritas Pengamen

Gerakan Senja Nusantara