00:30 - Sabtu, 18 November 2017
Jumat, 12 Februari 2016 | 08:42

Namanya Jack Vodcha Danils

Seorang Ibu sowan kepada Ustadz Karimun. Mengeluhkan anaknya yang disinyalir mengalami kelainan DNA. Secara fisik bocah tersebut memang tanpa cela, bahkan mendekati sempurna. Postur, wajah, kulit, rambut tercetak dengan model mutakhir,camera face kata orang. Hanya sayang, meski masih duduk di bangku SLTP, ia sudah licin dan mata keranjang seperti James Bondliar seperti Rambo, urakan seperti para koboi,brutal layaknya Steven Seagal dan suka nekat bak samurai. Ayah dan Ibunya bahkan telah takluk seperti seorang sandera di hadapan para teroris. Apapun yang ia minta harus tersedia dan harus diiyakan.Kalau tidak, bisa fatal akibatnya. Gurunya di sekolah angkat tangan karena anak nakal dilindungi undang-undang. Pemerintah—atas saran zionis—telah mengesahkan undang-undang yang melindungi anak-anak nakal dari hukuman guru. Hukuman semacam apapun tak boleh diberikan kepada anak-anak meski senakal apapun ulahnya demi agenda besar perusakan moral yang dalam jangka panjang akan menggratiskan negeri ini kepada para zionis. Pak RT kewalahan dan para orang tua sering menyekap anak gadisnya ketika iakerasan di sebuah kampung. Ibunya bahkan curiga ia tertukar dengan kloning Ifrit saat diinkubasi di rumah sakit dulu.Hatinya secadas batu karang. KalauSayyidina Umar Bin Khattab yang mantan koboi saja masih mampu menangis dan tak anti kebenaran, bocah ini malah alergi benar dengan cahaya. Untuk digiring pada kebaikan,rayuan atau gertakan apapun takkan bisa meluluhkan hatinya. Jangankan mengerjakan shalat, untuk tak melakukan keonaran seharipun ia belum terbiasa. Ia begitu gerah dengan segala bentuk perbuatan baik, tapi selalu menjadi panitia dari hampir seluruh perbuatan belum baik. Jika dipikir-pikir, sebenarnya ia lebih brutal dari Iblis yang dilaknat Allah habis-habisan “hanya” karena melanggar satu perintah saja. Sedangkan dia, semua perintah Allah ia tinggal dan hampir segenap larangan Allah ia kampanyekan. Siapa sangka anak ingusan sepertinya sudah meraih “sabuk hitam” di beberapa bidang kenakalan: God father para pemalak, pencabul, pengedar pil kucing dan geng sekolah.

Ustadz Karimun lantas mewawancarai Ibunya. Mengidentifikasi asal muasal kejanggalan tersebut.

“Bagaimana proses produksinya?” tanya Ustadz Karimun. Ibunya hanya diam.

“Bu, bagaimana proses produksinya dulu?” Ibu muda berambut merah dan bercelana presbodi itu hanya diam. Tak mungkin jika beliau mengungkap aib bahwa anaknya “tercipta” setelah beliau bedah film biru kemudian mengerjakan PR. Beliau juga yakin  “Rambo” diproduksi jauh sebelum beliau menikah dengan sang suami. Ustdaz Karimun ahirnya mengerti dengan tsukutuha jawabuha –diam adalah jawaban iya—si ibu. Beliau tak mengulangi pertanyaanya.

“ Siapa namanya?”. Lanjut sang Ustadz setelah itu.

“ Jack Vodcha Danils, ustadz” sangustadz kagum benar dengan nama itu. Begitu modern,  mewah, gersang dan sedikit tragis.
“Tanpa Muhammad atau Ahmad di depannya?” tanya ustadz  lagi.
“Itu kuno, ustadz”

“Saat baru lahir, apa diperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqamah ditelinga kirinya?”

“ Tidak ustadz, tapi sejak bulan pertama kandungan kami  selalu memperdengarkannya Mozart atau Beethoven” Ustadz Karimun manggut-manggut.
“Apa makanannya pada bulan-bulan pertama setelah lahir?”
“Susu pabrik yang mengandung LA, AA, DHA, fos -gosinulin, omega 8, pengawet dan bakteri kazayaki
“Pernah di kasih ASI?”
“Sedikit, karena lebih diperlukan oleh ayahnya”
“Maaf ini agak sensitif, tapi demi keberhasilan investigasi kita, tolong dijawab apa adanya. Dari mana uang untuk membeli susu, bubur dan biskuit si Vodcha serta rujak saat Sampean ngidam?”
“Dari kami bekerja, tentu saja”
“Apa pekerjaan Sampeyan dan suami”?tanya Ustadz Karimun
“Suami saya politisi dan saya sendiribeternak uang“, sang ustadz berbinarlayaknya Sherlock  Holmes menemukan sebuah petunjuk
“ Si Vodcha pernah belajar di sekolah keagamaan?” lanjut Ustadz Karimun
“ Buat apa, ustadz. Bukankah agama hanya kisah-kisah yang belum tentu kebenarannya? Lagi pula makan apa nanti kalau ia sekolah di madrasah?” sang ustadz tersedak. Ustadz jadi miris jika harus mendengar lebih banyak hasil investigasi. Beliau lantas pamit untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat. Tak lama kemudian beliau keluar dari tempat shalat dengan wajah sedikit pucat.“Semoga usaha kita ini diridloi Allah, Bu” ujar Ustadz Karimun membuat wajah sang ibu muda berbodi bohai itu nampak tegang.
“ Sepertinya kita harus mengadakan terapi total agar si Vodcha diberi kesembuhan oleh Allah”. Sepi.
“ Apa saja, ustadz?”
“ Ia harus diet, apapun yang masuk ke tubuhnya harus steril”
“ Kami selalu ketat mengontrol higienisitas bahan konsumsi kami, ustadz”
“ Maksudnya higienis secara substansi. Dari mana serta dengan cara bagaimana ia didapat” wajah sang ibu muda tertunduk.
“ Tapi, bukankah mencari yang kurang steril saja sulitnya sudah bukan main, ustadz?”.
“ Dengan pertolongan Allah dan kemauan untuk mencari yang steril insya Allah bisa. Kita memang telah salah menganut faham, menganggap agenda terbesar hidup kita hanya untuk mencari nafkah banyak-banyak”.
“ Lalu apa lagi, ustadz”
“ Ya, meski sudah agak terlambat, tidak ada salahnya ia dikarantina di pesantren atau semacamnya”. Ibu muda itu mulai nampak ragu.
“ Jangan khawatir soal rejeki. Allah takkan membiarkan seorang hamba-Nya kekurangan, asal benar-benar berserah, menghamba. Apalagi tak ada jaminan jika seorang penganut sekularisme tulen akan makmur hidupnya”.“ Satu lagi, mulai nanti malam Sampeyan harus “curhat” kepada Allah. Sekaligus memohon agar Allah merahmatinya”. Wajah sang ibu muda terlihat tanpa ekspresi. (Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Pers dan Sihir

Hari Mesum Internasional