02:46 - Senin, 20 November 2017
Selasa, 16 Februari 2016 | 08:59

Jamaah LGBT

Foto ilustrasi: Gesang Arif Subagyo

Beberapa detik tangan Ustadz Karimun freezed memegang cangkir kopinya. Tak bisa bergerak seakan terkena ajian Ketang Markong, suatu ajian yang biasa dipasang di rumah agar pencuri yang masuk tak bisa bergerak. Sementara Firman, Cak Manap, Cak Mukri dan lainnya sudah geleng-geleng kepala seraya berkomentar ngalor-ngidul khas orang Indonesia.Dan presenter berita di televisi semakin menjadi-jadi memberitakan konferensi LGBT alias jamiyyah lesbi, gay, biseksual dan transgedender yang sedang memperjuangkan haknya.

            ”Hebat ya demokrasi di negeri kita?Setiap warga negara boleh membentuk jamiyyah, paguyuban bahkan gerombolan. Lalu atas nama demokrasi dan gerombolan itu memperjuangkan hak, kalau tidak diluluskan akan mengadu kepada komnas HAM atau bahkan PBB. Dan PBB akan menjewer atau bahkan melakukan genosida terhadap kita.” Cak Manap bikin perkara.

Mas Bambang yang sering dicurigai idealismenya dan kadang orang menuduhnya salah satu agen Mossad, langsung menyalak. ”Lha memang begitu kan prinsip demokrasi? Daripada ditutup-tutupi kan lebih baik blak-blakan, lalu dilokalisasi, dibikinkan undang-undang khusus, agar jelas. Yang suka silahkan merapat, yang tidak suka boleh mengkritik asal santun dan tidak anarkis. Mereka juga rakyat Indonesia lho, cak. Membayar pajak, ikut nyoblos saat pemilu, punya KTP dan SIM, dan mereka tidak memohon kepada Tuhan agar terlahir sebagai LGBT.”

”Jadi dalam hal ini yang bersalah Tuhan?” Cak Mukri tersinggung.

”LGBT itu fitrah. Tak ada seorang pun dari mereka yang ingin terlahir seperti itu.” Mas Bambang kukuh.

”Hmm, fitrah?” Cak Mukri tersenyum kecil seraya menyembulkan asap rokoknya.

”Fitrah itu menenteramkan lho, mas. Jangan lupa itu. Secara anatomis saja perangkat reproduksi laki-laki dan perempuan sudah klop. Satunya berbentuk mur, yang lain berbentuk baut. Ahli ilmu reproduksi manapun paham kalau kedua perangkat itu akan berfugsi maksimal jika dipasang secara berlawanan. Apalagi naluri manusia untuk melestarikan jenisnya hanya akan tercapai dari hubungan pernikahan yang wajar….”

”Mereka bisa mengadopsi anak.” Ujar Mas Bambang memotong. ”Kawan-kawan LGBT bisa membantu pemerintah untuk mengurangi beban untuk mengasuh anak-anak yatim yang memerlukan bantuan material dan pengasuhan”

”Jangan –jangan malah bisa menambah daftar panjang kekerasan terhadap anak. Pernikahan semacam itu, diakui atau tidak, cenderung kurang harmonis karena memang menyalahi fitrah. Dan lagi, secara psikologis anak-anak yang diadopsi akan mendapatkanpemodelan yang ”ganjil” dari kedua ”orang tua” mereka. Di sekolah mereka akan dicemooh oleh teman-temannya, di masyarakat mereka akan menjadi bahan ejekan, jangan-jangan mereka akan meniru juga apa yang dicontohkan oleh kedua ”orang tua”nya karena dianggap pernikahan semacam itu wajar.”

”Kita juga harus ingat, jika manusia melawan fitrah, keseimbangan nuraninya akan terganggu sehingga nalar macet dan beberapa tragedi bisa terjadi. Di Jombang pernah terjadi, belasan jiwa tak berdosa diberangkatkan ke hadapan Tuhan karena posesifme dan kecemburuan dari hubungan samacam itu. Di lokasi tol Gempol juga baru saja terjadi kasus serupa. Bahkan kopi bersianida yang masih gentayangan beritanya di televisi, yang diberitakan untuk mengalihkan isu-isu besar nasional, asal muasalnya juga hubungan semacam itu. Belum lagi kekurangsehatan psikologi, nurani, sosial dan budaya yang mesti kita bayar?”

”Sekali lagi, LGBT itu fitrah, kok?”

”Apa benar, apa bukan hanya karena kita mbelenger melakukan pelanggaran seksual dengan lawan jenis lalu ingin mencari sensasi petualangan yang lebih menantang? Apa bukan karena nurani kita sudah terlalu kerontang lalu mencari pelepasan? Apa bukan karena anak-anak kita terlalu cepat puber, sembrono mempergunakan perangkat kelamin, lalu bosan dan mencoba hal baru? Apa bukan karena anak-anak kita mengalami patah hati terlalu dini lalu membenci lawan jenisnya? Apa bukan karena kita materialistis sehingga hubungan asmara yang wajar membutuhkan biaya begitu besar? Apa bukan karena pertalian asmara anak-anak kita hanya berdasarkan kesamaan kasta motor yang dikendarainya?”

”Itu analisa tak berdasar, cak. Kalau memang benar begitu, kurang apa orang Belanda?. Uang, pendidikan, kebudayaan, keteraturan hukum. Dan hubungan semacam itu, di Belanda baik-baik saja, kok.” Mas Bambang yakin.

”Disini bukan Belanda, mas. Sejak zaman Majapahit penyimpangan orientasi seksual sudah dianggap ilegal. Maaf, perzinahan antar jenis saja dihukum penggal.”

”Dan lagi, kalau adopsi dilarang, mereka bisa memelihara anjing” ujar Mas Bambang mengembalikan tema.

”Inna lillahi!” Cak Manap kaget tak alang kepalang. Ustadz Karimun gemetar.

”Bencana apalagi ini?” tanya Cak Mukri merasa memang karena ide Mas Bambang memang aneh.

”Nuwun sewu, mungkin begini,….” kata Firman tiba-tiba.

”Saya pribadi memang tak berani menghakimi siapa pun karena ini negara demokrasi dan HAM sudah dijunjung tinggi oleh konstitusi. Teman-teman LGBT juga punya dasar hukum untuk mendapatkan pengakuan negara atas pernikahan mereka. Namun, bukankah demokrasi sendiri juga juga mengajarkan kalau kepentingan minoritas harus legawa terhadap kepentingan mayoritas? Hasil voting yang sedikit harus mengalah kepada hasil voting yang banyak, bukan?”

”Itu diskriminasi golongan mayoritas atas minoritas namanya.” Mas Bambang terprovokasi.

”Lho, saat kita SD, kalau memilih ketua kelas kan begitu?”

”Ini hak azasi, hanya Tuhan yang boleh melarangnya” Mas Bambang sudah menyalahi undang-undang parlemen warung kopi pinggil kali : memaksakan pendapat dan terprovokasi saat bersidang, eh berdebat kusir.

”Bagaimana kalau Tuhan yang melarang praktek LGBT?”

”Negera kita sekuler, kok?” Mas Bambang ngotot. Ustadz Karimun jatuh dari lincak warung. Pingsan! (Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Hari Mesum Internasional

Generasi Hama Sejarah