15:11 - Minggu, 23 November 4769
Rabu, 17 Februari 2016 | 11:32

Generasi Hama Sejarah

Kopi hitamWarung kopi, adalah salah satu tempat paling demokratis untuk menyuarakan gagasan atau ide-ide yang mungkin tak termuat di koran apalagi disiarkan di televisi. Apalagi negara sedang menggalakkan program PHK-isasi, maka warung Cak Manap selalu ramai beberapa minggu terahir.
            Alam pikir rakyat Indonesia Raya telah terbuka, meski masih sebatas wacana. Makanya diskusi alias monolog, dialog bahkan debat kusir sering berlangsung di sini, dan itu merupakan prototipe asli masyarakat melayu : gagasan lebih penting dari tindakan.
            Pening karena togelnya meleset, Cak Mukri bikin perkara di warung. Orang kecewa memang suka berpikir macam-macam, maka harap dimaklumi kalau Cak Mukri tiba-tiba sok filosofis, ini mungkin sekedar pengalihan isu agar kekecewaanya terhadap bandar togel tak seberapa kentara. Aneh bin ajaib, penghobi segala macam bentuk judi itu tiba-tiba bermonolog panjang dan mendalam.
            ”Putra-putra terbaik nusantara tidak dianugerahkan Tuhan pada masa Majapahit, tapi pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Terbukti mereka membludak, seakan dilahirkan oleh sejarah secara bersamaan, di berbagai bidang perjuangan. Negarawan, budayawan, ahli pendidikan, ahli ekonomi, filsafat, agamawan, komplit. Hamka, Tan Malaka, Hatta, Soedirman, HOS Cokroaminoto, KH. Wahid Hasjim, Ki Hadjar Dewantara, Soemitro dan Soekarno. Dan anehnya, mereka kompak dalam mencapai tujuan bersama: Meraih kemerdekaan.” Hmm, boleh juga wacananya. Tapi yang lain belum bereaksi.
            ”Beberapa dasawarsa terahir pendekar-pendekar sejarah negeri ini makin punah, terutama pasca reformasi dan Gus Dur membuka lebar-lebar ”pemikiran aneh”nya untuk dijadikan pola pikir nasional di negeri kagetan ini. Punahnya generasi-generasi terbaik semakin diperparah dengan menjamurnya stasiun-stasiun televisi swasta pada era 90-an. Dan kebebasan pers, demokrasi, HAM, permisifme, pemisahan negara dengan agama, praduga tak bersalah, liberalisme, pluralisme adalah kesalahan sejarah terbesar kita terhadap nenek moyang sekaligus  anak cucu.” Ustadz Karimun mulai respek. Mas Bambang mulai ancang-ancang untuk menyerang.
            ”Orientasi politik, ekonomi, idiologi bahkan budaya tertentu juga ikut memperparah fenomena tersebut, sehingga seperti yang kita tahu, beberapa tahun terahir generasi muda –bahkan juga kita—tak punya iktikad baik sama sekali terhadap bangsa tercinta ini. Pada zaman revolusi semua orang memberikan apa saja terhadap negeri ini, pasca reformasi semua orang merampok apa saja darinya.”
            ”Mungkin begini analisa sederhanya…” ujarnya lagi. ”Ahir-ahir ini kita terlalu sembrono dalam mencetak generasi penerus…”
            ”Maksudnya?” tanya Mas Bambang memotong.
            ”Kita terlalu asal-asalan dalam mengasuh anak”
            ”Lho, sekarang gizi masyarakat membaik lho Cak Mukri? Pendidikan sudah digratiskan, jaringan internet ada dimana-mana, teknologi sudah melek, sarana-prasarana sudah mendukung mobilitas, kreatifitas dan ide-ide paling nakal sekali pun, apanya yang kurang kalau dibanding dengan zaman kita dulu?”
            ”Malah itu semua yang menyebabkan punahnya genarasi emas kita sekarang”
            ”Ah, sampeyan ada-ada saja.”
            ”Sebelumnya perlu dimaklumi lho, mas. Ini analisa ala warung kopi. Makanya tak usah terlalu formal menilai ilmiah atau tidaknya. Ini analisa ala kitab tafsir seribu mimpi yang saya dalami buat meramal togel itu”
            ”Kalau begitu jangan diomongkan di sini, dong”
            ”Katanya penganut demokrasi?” Mas Bambang mati kutu.
            ”Coba lanjutkan, cak. Sepertinya menarik.” celetuk Ustadz Karimun.
            ”Ini aneh ustadz, yang dikatakan Mas Bambang tadi malah merupakan point-point yang menurut saya sebagai penyebab kepunahan generasi emas kita, lho. Jangan-jangan Mas Bambang ini sudah diangkat menjadi wali, buktinya weruh sak durunge winarah.” Ustadz Karimun semakin asyik.
            ”Kenapa anak-anak kita semakin pintar sekaligus semakin ndelurung? Karena mereka sekolah biayai dengan bantuan operasional sekolah atau BOS”
            ”Lho, itu kan memang kewajiban pemerintah? Pada zaman Abbasiyyah saja sudah begitu” Mas Bambang kalap.
            ”Tapi kita menganggarkan BOS dari pajak tempat prostitusi, pabrik miras dan pungli-pungli lainnya” jawab Cak Mukri.
            ”Para guru juga seharusnya tetap dibiarkan melarat, digaji 150 ribu perbulan dalam rangka memelihara berkah dari mereka. Sekarang murid-murid menjadi brutal karena guru telah menjadi buruh karena dibayar pemerintah, apalagi dari uang syubhat dan lebih sibuk mengurus perangkat pembelajaran serta diklat daripada mendidik.” Mas Bambang geleng-geleng.
            ”Itu lagi, si HAM, gara-gara dia guru tak boleh menempeleng siswa paling brutal, sekalipun. Maka, sukseslah anak-anak kita menjadi hama sejarah karena bahkan kenakalan pun mendapat perlindungan hukum negara bahkan disokong PBB.”

”Ke depan takkan ada lagi generasi-generasi semacam Soekarno dan Hatta, kita sepakat menyetop kelahiran mereka.” (Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Jamaah LGBT

Sulton, Menjual Cilok Demi Biaya Kuliah dan Nafkahi Ibunya