15:11 - Senin, 24 November 0656
Sabtu, 20 Februari 2016 | 17:06

Di Bawah Erupsi Gunung Bromo, Suku Tengger Merayakan Kuningan

Foto: Sundari (wartabromo)

Sukapura (wartabromo) – Hari ini warga Tengger merayakan Hari Raya Kuningan. Meski dilakukan di tengah erupsi Gunung Bromo ritual berlangsuk khusyu.

Suku Tengger yang mendiami lereng Gunung Bromo mayoritas beragama Hindu. Hari Raya Kuningan merupakan rangkaian dari upacara Galungan yang dirayakan pada 10 Februari lalu. Hari raya ini merupakan ucapan rasa syukur kepada sang pencipta alam.

Dipimpin Dukun Suku Tengger Sutomo, upacara yang dilaksanakan di tengah erupsi Gunung Bromo tersebut berlangsung dengan hidmad. Ribuan warga Suku Tengger Brang Wetan (wilayah Probolinggo) yang tersebar di 3 kecamatan, yakni Sukapura, Sumber dan Lumbang, hadir di Pure Poten Agung Luhur yang berada di bawah Gunung Bromo. Warga seakan melupakan musibah yang tengah menimpa.

“Sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan bahwa kebenaran melawan ketidakbenaran ternyata kebenaranlah yang menang,” ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto, kepada wartabromo.com, Sabtu (20/2/2016).

Bambang Suprapto, juga mengatakan bahwa erupsi Gunung Bromo yang berlangsung hampir 3 lamanya, merupakan sebuah anugerah Tuhan kepada umatnya. Meski menimbulkan sedikit kerusakan, utamanya bagi pertanian, nantinya setelah erupsi berakhir warga akan merasakan manfaat yang luar biasa.

Apa yang diungkapkan Ketua PHDI tersebut diamini oleh Supoyo, salah satu tokoh Suku Tengger. “Bagi kami erupsi Bromo bukanlah musibah, melainkan sebuah anugerah. Kami yakin Tuhan dan leluhur kami tidak akan mencelakakan umatnya,” tutur anggota DPRD Kabupaten Probolinggo ini.

Saat ini, erupsi Gunung Bromo masih berlangsung dengan menyemburkan asap setinggi 1.000 mdpk atau 3.329 mdpl. Sembrono ini mengarah ke Timur dan Tenggara atau mengarah ke Kabupaten Probolinggo dan Lumajang. Jarak aman bagi warga dan wisatawan adalah radius 2,5 kilometer dari bibir kawah. (saw/fyd)

Komentar Anda

Komentar

Kisah Mahasiswa Penjual Cilok, Kehilangan Laptop Kesayangan Hingga Ngajar Mengaji

Luapan Sungai Welang Putus Pantura 4 Jam