18:23 - Sabtu, 25 November 2017
Rabu, 24 Februari 2016 | 22:25

Potensi Hutan Pinus Puspo Terkendala Rawan Air Bersih

Geledekan kayu meluncur di jalan berkelok diantara rerimbunan hutan pinus. Kendaraan tradisional pengangkut rumput ini menjadi keunikan tersendiri untuk tetap dilestarikan sebagai kekhasan budaya transportasi. WARTABROMO/Harjo Suwun

Puspo (wartabromo) – Desa Puspo dengan keberadaan hutan pinusnya, memiliki potensi besar untuk menjadi daerah pengembangan wisata. Di tambah lagi, Puspo menjadi jalur wisata menuju lokasi Gunung Bromo dengan keindahan panoramanya, akan makin melengkapi kepuasan wisatawan, baik wisatawan manca negara maupun domestik dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun potensi wisata hutan pinus yang bisa dikembangkan tersebut, hingga saat ini masih terkendala dengan kebutuhan dasar hidup. Yakni rawan kekurangan air bersih. Terutama saat musim kemarau.

(Baca: Potensi Wisata Hutan Pinus Yang Terabaikan)

“Karena rawan kekurangan air bersih itu, villa-villa yang dulu mulai banyak didirikan dan akan terus dibangun kembali, akhirnya tidak dilanjutkan. Bahkan villa yang sudah berdiri, malah tidak difungsikan oleh pemiliknya. Itu menjadi kendala terberat yang harus segera kami penuhi,” kata Kepala Desa Puspo, Bambang Hendro Laksono, Rabu (24/2/2016)

Rawan kekurangan air bersih di Desa Puspo itu terjadi, lantaran banyaknya mata air yang terus mengecil maupun mati. Penyebabnya adalah gundulnya hutan akibat pembalakan liar pada awal reformasi dulu.

Air Terjun Tundu Pitu Puspo, dengan tujuh lapisan tanah yang menonjol, membuat air yang turun dari atas bukit setinggi lebih dari 40 meter nampak indah dilihat dari kejauhan. WARTABROMO/Harjo Suwun

Penebangan pohon di hutan lindung di desa tersebut, sejak beberapa tahun terakhir dirasakan oleh warga setempat. Dari puluhan mata air, saat ini hanya tinggal sekitar empat mata air, dan itu-pun debit juga terus menyusut drastis. Di tambah lagi penggunaan air untuk pemenuhan kebutuhan pertanian.

“Di musim kemarau, warga di Dusun Gondosuli harus mengumpulkan dari sejumlah mata air yang terus mengecil. Bahkan Air Terjun Rambut Moyo saat musim kemarau, airnya sudah asat, tidak gerojok lagi. Karena digunakan untuk mengairi lahan pertanian,” kata Tiari, salah satu ketua RW di Dusun Gondosuli.

Selama musim kemarau, pemenuhan kebutuhan air bersih, warga Desa Puspo mendapatkan pasokan yang dikirimBadan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan. Setiap harinya sekitar empat hingga delapan tangki dikirimkan ke desa yang dulunya memiliki banyak mata air itu.

Untuk mengatasi kebutuhan air bersih tersebut, warga dan aparatur Desa Puspo tidak berpangku tangan. Mereka berupa untuk menanami kembali hutan yang dulu gundul dan saat ini, pohon-pohon pinus mulai tumbuh kembali. Diharapkan, pohon-pohon pinus itu akan bisa menyimpan air hujan yang turun dan memenuhi kembali serta menghidupkan kembali, banyaknya mata air yang ada.

Selain itu, aparatur Desa Puspo saat ini juga tengah mengupayakan pemenuhan kebutuhan air bersih melalui program pipanisasi. Dana Desa yang bakal didapatkan, skala prioritas pertama akan digunakan untuk membangun dan memasang pipa dari sumber air Putuk embut di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari sejauh sekitar 13 kilometer.

“Kebutuhan air sangat penting. Warga dan pinisepuh sudah sepakat menjadikannya skala prioritas untuk pemenuhan kebutuhan air bersih. Dana yang didapatkan dari pemerintah, akan digunakan untuk pemenuhan air bersih itu,” pungkas Bambang Hendro. (hrj/hrj)

Komentar Anda

Komentar

Relawan Lokal hingga Australia Tanam Pohon di Lereng Bromo

Potensi Alam dan Budaya Puspo Dilirik Investor