15:12 - Senin, 25 November 7439
Rabu, 24 Februari 2016 | 16:20

Potensi Wisata Hutan Pinus Yang Terabaikan

Geledekan kayu meluncur di jalan berkelok diantara rerimbunan hutan pinus. Kendaraan tradisional pengangkut rumput ini menjadi keunikan tersendiri untuk tetap dilestarikan sebagai kekhasan budaya transportasi. WARTABROMO/Harjo Suwun

Puspo (wartabromo) – Jalanan berkelok-kelok dengan panorama indah nan asri. Hijaunya dedaunan dengan batangan yang tegak dari pohon-pohon pinus di sepanjang jalanan yang berkelok, mendatangkan semilir angin kesejukan yang menyegarkan tubuh serta otak.

Di tengah kesejukan yang menyegarkan badan, terasa enggan untuk memacu motor sekencang mungkin. Yang ada dibenak dan pikiran, hanyalah menikmati keindahan alam serta kesejukan yang mendatangkan kedamaian itu.

Itulah jalanan di Desa/Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Jalanan menuju ke kawasan wisata Gunung Bromo yang terkenal seantero dunia dengan panorama keindahan sunrise-nya.

Keinginan berhenti menikmati kesejukan alam dengan semilirnya angin, menjadi tak terhankan. Sejumlah titik cukup nyaman untuk disinggahi, menghabiskan waktu guna mendapat kesegaran. Hijaunya dedaunan yang rimbun dari pohon-pohon pinus yang berdiri kokoh, membuat kelelahan di mata terobati. Mata terasa segar dan menjadi lebih bening memandangnya.

Namun hal itu tak mungkin dilakukan berlama-lama, hanya cukup sesaat. Lantaran tidak tersedia tempat yang representatif untuk bisa berlama-lama, santai menikmati kesejukan dan kesegaran angin semilir dari pohon pinus.

“Warga menginginkannya, menjadikan hutan pinus itu sebagai lokasi wisata. Paling tidak untuk mengawali, kami akan menyiapkan lokasi wisata untuk outbond dan pendirian gazebo-gazebo di titik tertentu, serta membuat rute untuk motor trail,” kata Kepala Desa Puspo, Bambang Hendro Laksono, Rabu (24/2/2016).

Bambang Hendro Laksono menyampaikan, sejak setahun terakhir, pihaknya berkoordinasi dan membicarakan potensi wisata hutan pinus itu dengan pengelolanya, yakni Perhutani. Namun hingga saat ini, aparatur Desa Puspo dan PT Perhutani, masih belum bisa mewujudkan keinginan warga tersebut.

Pria berbadan tegap itu juga mengakui, bahwa Desa Puspo dengan keberadaan hutan pinusnya, juga menjadi daerah pengembangan wisata yang sangat potensial. Sehingga diharapkan pengembangan wisata hutan pinus, dapat memberikan kesejahteraan bagi desa dengan populasi penduduk sekitar 6.000 jiwa yang terdiri dari 1.652 keluarga yang tersebar di delapan padukuhan serta 52 rukun tetangga.

Dari kondisi di lapangan, sedikitnya terdapat tiga titik atau spot hutan pinus di Desa Puspo yang bisa menjadi lokasi wisata. Potensi wisata hutan pinus itu, bisa dipadukan dengan outbond dan bentuk rekreasi lainnya, seperti rute motor trail yang menantang pengendara motor yang berjiwa petualang.

Di tambah lagi dengan dua potensi wisata air terjun, yakni Air Terjun Rambut Moyo dan Air Terjun Tunduh Pitu. Namun sayang, akses menuju ke lokasi kedua air terjun tersebut, susah untuk ditempuh. Terutama lokasi jalan yang menuju ke Air Terjun Tunduh Pitu, karena harus melalui jalan setapak di antara dinding curam yang terjal dan sewaktu-waktu dihantui longsoran tanah saat musim penghujan.

“Kami berkeyakinan, hutan pinus itu bisa dikelola bersama masyarakat dan pihak terkait untuk menjadi lokasi wisata menarik. Kami juga yakin, Perhutani selaku pemangku hutan akan memberikan ijinnya. Karena hutan pinus itu adalah hutan lindung dan untuk menjaga keberadaan serta kelestariannya, Perhutani tidak bisa mengabaikan masyarakat sekitar,” terang Bambang Hendro Laksono.

Hal itu juga dibenarkan Tiari, anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Puspo, bahwa untuk menjaga kelestarian hutan lindung, tidak bisa lepas dari peran masyarakat.

“Kami sudah menyadari fungsi hutan lindung sangat penting untuk kehidupan. Kami akan menjaga dan melestarikannya, dengan ikut serta menanami hutan yang sudah gundul. Bukan hanya sebatas untuk lokasi wisata hutan pinus, tapi juga untuk menyimpan air yang kami butuhkan,” urai Tiari.

Selain hutan pinus, penggunaan transportasi tradisional untuk pengangkut rumput, berupa geledekan kayu, bisa menjadi daya tarik tersendiri yang bisa ditawarkan bagi wisatawan. Geledek kayu menjadi transportasi yang unik dan menunjukkan kearifan warga, menjaga lingkungannya. Yakni, tidak dikotori dengan polusi udara yang berlebihan akibat emisi gas buangan kendaraan bermotor.

“Dulu geledek kayu, jumlahnya mencapai ratusan buah. Warga yang sebagian memiliki ternak, pasti memiliki geledek kayu untuk mengangkut rumput yang diambilnya dari hutan. Sekarang jumlah geledek itu jauh menyusut, tinggal beberapa puluh saja. Keberadaannya digantikan motor,” ungkap Andre Siswanto, salah seorang warga.

Bukan hanya geledek kayu untuk mengangkut rumput saja yang dimiliki warga Desa Puspo. Dulu banyak dijumpai sepeda-sepeda kayu yang digunakan anak-anak untuk bermain. Bahkan keberadaan sepeda kayu itu, sekitar 6 tahun yang lalu masih dijumpai Warta Bromo, digunakan sejumlah anak-anak untuk mengisi liburan sekali. Namun saat ini, sepeda kayu itu sudah tidak dijumpai sebuah-pun.

Potensi wisata yang besar jika sejumlah titik lokasi sebaran hutan pinus di Desa Puspo tersebut bisa dikelola. Banyak manfaat besar yang bisa diraih oleh banyak pihak, terutama masyarakat, jika hutan pinus itu menjadi lokasi wisata.

Manfaat pertama, masyarakat setempat akan mendapatkan dampak berupa peningkatan ekonomi menjadi sejahtera dan wisatawan akan mendapat kepuasan menikmati kesejukan serta kesegaran hutan pinus. Kedua, dengan keberadaan hutan pinus sebagai lokasi wisata yang mendatangkan keuntungan, otomatis akan ikut serta menjaga kelestariannya.

Sedangkan manfaat ketiga, bahkan bisa menjadi yang terbesar, yakni terjaganya lingkungan hidup karena terpeliharanya hutan lindung. Sumber-sumber air terjaga kelestariannya. Banjir dan longsor hingga banjir bandang yang membawa lumpur, dapat dicegah serta tidak menyusahkan ratusan ribu warga Kabupaten dan Kota Pasuruan, seperti peristiwa banjir lumpur yang menyeret 24 rumah pada April 2015 lalu. (hrj/hrj)

Komentar Anda

Komentar

Tremor Terus Menurun, Status Bromo Masih Siaga

Relawan Lokal hingga Australia Tanam Pohon di Lereng Bromo