15:20 - Selasa, 21 November 2017
Jumat, 26 Februari 2016 | 11:21

Balada Budak (Bawah) Perut

ilustrasi ceraiFirman geleng-geleng kepala setelah membaca berita Warta Bromo di handphone-nya. ”Rupanya masyarakat sudah benar-benar menghayati nasehat para artis di televisi” katanya setengah bergumam.

”Memangnya ada apa, cak?” Cak Manap bergeser mendekat.

”Coba baca” Firman memberikan HP-nya kepada Cak Manap. Setelah membaca sekilas Cak Manap juga geleng-geleng. ”Gila, dalam setahun ada ratusan istri menggugat cerai suaminya.”

Yang lain jadi penasaran.

”Coba baca yang keras, cak” ujar Mas Bambang

”Cerai gugat jauh lebih besar daripada cerai talak. Kebanyakan karena alasan ketidakcocokan dan masalah ekonomi” kata Cak Manap menyimpulkan isi berita. Para pengunjung warung saling pandang dan mulai bisik-bisik. Cak Mukri yang rajin tombok togel  sekaligus mbolos kerja terlihat sedikit pucat. Mungkin khawatir di-PHK  jadi suami oleh Yu Sri.

”Ya begitulah kalau istri ikut kerja, alamat sudah.” Mas Bambang langsung menjastifikasi.

”Lha kalau tidak belanja tidak cukup, apa salahnya gotong royong.” Cak Mukri menyahut.

”Makanya kalau terlanjur jadi suami di zaman sekarang, harus pintar-pintar cari uang agar tidak dipecat. Informasi, budaya dan penyakit sejarah telah mengajarkan kepada para istri untuk tidak betah sedikit melarat.”

”Hati-hati lho Mas Bambang, sampeyan bisa dituntut sama KPAI karena dianggap melakukan tindakan kurang menyenangkan terhadap kaum perempuan. Itu bisa dituduh melakukan semacam KDRT nonformal.” Ustadz Karimun mengingatkan.

”Itulah repotnya, ustdaz. KDRT hanya diartikan tindakan penganiayaan fisik, sedangkan tindakan penganiayaan psikis tidak ada pasalnya. Padahal ngomel sama suami karena uang belanja standart, karena penghasilan kecil, karena tidak memiliki profesi mentereng juga tak kalah menyakitkannya daripada KDRT formal. Membunuh suami secara perlahan dengan hanya memberinya makan mie instant atau telur ceplok juga KDRT. Mempercepat kematian suami karena jantung koroner akibat teror mental membandingkan penghasilan juga KDRT.  Apalagi menteror suami agar cari utangan tiap bulan, memaksa suami agar berurusan dengan debt collector dealer motor juga termasuk KDRT menurut saya. Ustdaz kan lebih paham kalau suami tidak wajib ganti motor setiap kali di-launching untuk menyenangkan istri?” Ustadz Karimun jadi garuk-garuk kepala.

”Tapi tidak boleh anarkis begitu, mas. Bukankah dalam agama istri hanya berkewajiban melayani suami di tempat tidur saja? Mengasuh anak, masak dan mencuci kan kewajiban kita?” Firman menyanggah.

”Iya, tapi zaman sekarang istri terlalu patuh pada iklan-iklan di televisi, cak. Jarang ada yang mengerti kemampuan suami dalam mencukupi kebutuhan standart, padahal kan kita masih bisa bertahan hidup kalau pakai motor butut, tinggal di rumah kontrakan atau meggunakan sandangan standart? Kita juga tidak melanggar UUD’45 kalau berpenghasilan rendah, memberi makan istri dengan menu seadanya, rekreasi seumur hidup hanya beberapa kali serta membocengnya dengan motor butut”

”Dimana-mana, suami itu akan bangga kalau istrinya bahagia. Kita rela kerja banting tulang, endas digawe endas, sikil digawe sikil bahkan keringet sampek tutuk bokong ya dalam rangka membahagiakan istri, mas. Kalau tidak mau kerja keras ya tidak usah menikah saja” Firman rupanya termasuk anggota ISTI,ikatan suami takut istri.

”Dan kita juga mesti ingat kalau pernikahan itu bukan untuk mengekploitasi suami. Kalau dengan menikah istri berhak mempekerja rodi kan suami, apa bedanya dengan perbudakan?”

”Begitu juga, kalau suami hanya memberi uang belanja standar padahal uang itu dimakan bersama, tidak ada nafkah khusus buat istri, apa bedanya dengan penyekapan?”

”Waduh, kok jadi eyel-eyelan begini?” kata Ustadz Karimun melerai. ”Coba kita baca beritanya dengan lengkap. Tuntutan cerai bukan hanya karena uang belanja, cak-mas!, tapi juga karena masalah ketidakcocokan.”

”Apalagi begitu, ustadz. Masalah perselingkuhan malah tidak bisa ditolelir. Apa tujuan utama kita menikah hanya masalah perut dan di bawah perut? Apa pernikahan itu ibarat channel televisi, tidak cocok ganti, tidak suka gugat cerai? Apa bedanya dengan zaman jahiliyyah?” Semuanya lama-lama curiga karena omongan Mas Bambang tidak seperti biasanya. Kok tumben tidak ada hawa atheisme sama sekali dalam omongannya kali ini?

”Kadang kita sendiri kok yang nggak pokro. Contohnya sekarang, malam Jum’at, dingin, kita malahnyangkruk di warung. Kalau istri jablay dan berpikir macam-macam kita ngamuk.” kata Firman memukul telak semua anggota jamiyyah cangkrukan itu.

”Kita kan butuh pelepasan, cak. Seharian kerja, sudah bertahun-tahun pula, masa hidup akan kita habiskan buat kerjaaaa terus? Lagi pula urusan selingkuh tak ada sangkut pautnya dengan warung kopi. Selingkuh itu adalah dampak dari hobi istri kita melihat sinetron dan drama India di televisi. Televisi membuai hayalan-hayalan mesum dengan cerita mesum dan wajah ganteng gagah pemerannya.”

Nggak ilok, mas. Kalau soal selingkuh malah kaum kita yang lebih ndablek. Kaum Hawa hanya ada di rumah dan menjadi semi pembantu yang kerjanya full time. Pagi nyuci kain, siang angkat kain, sore menyetrika kain dan malam malah buka kain. Mau selingkuh, mana sempat?” meyakinkah sudah kalau Firman Murtadlo adalah aktivis jender, eh, bertakwa kepada istrinya.

”Tadi beritanya berbunyi jumlah tuntutan cerai meningkat karena masalah ketidakcocokan. Kalau istri sudah tidak cocok kepada suami, itu artinya para istri sekarang sudah menerapkan emansipasi sepenuhnya seperti laki-laki. Kalau laki-laki berselingkuh dan mencerai istrinya, perempuan sekarang sudah beremansipasi dengan menuntut cerai dan menikah dengan pria idaman lainnya.” sepi, Firman bungkam beberapa lama.

”Ini semua adalah akibat perut yang maha kuasa!”

”Maksudnya?” semua bertanya hampir serempak.

”Perceraian tadi, juga berbagai penyakit sejarah yang telah, sedang dan akan menimpa kita adalah karena perut telah memperbudak kita. Kenapa para istri ramai-ramai menuntut cerai, salah satu faktornya adalah uang belanja, dan itu artinya masalah perut. Selanjutnya, setelah perut kenyang libido akan memuncak. Maka, diakui atau tidak, perceraian terjadi semata-mata karena perut dan organ di bawah perut.”

(Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Prof. Firman Murtadlo: Jadi Guru Swasta, Cara Bunuh Diri Paling Indah

Walikota Pasuruan Tawarkan Pelabuhan dan Wisata Bangunan Belanda ke Investor