06:03 - Selasa, 21 November 2017
Senin, 7 Maret 2016 | 07:53

Wisata Srengenge Gering

Sumber foto pulsk.com

Pada zaman Tiongkok kuno, seekor naga raksasa murka terhadap masyarakat bumi yang sudah keterlaluan membuat kerusakan. Sang naga menelan matahari yang merupakan lentera dunia dan sumber energi di bumi. Masyarakat bumi geger dan panik. Tak dapat dibayangkan bagaimana gulitanya dunia jika matahari musnah ditelan sang naga. Kegelapan malam akan berlangsung selama-lamanya, tanaman takkan bisa tumbuh, bumi membeku dan pada ahirnya segenap mahluk bisa mati karenanya. Di tengah kepanikan itu, seorang bijak bestari mendapat ilham untuk mengusir sang naga, ia memerintahkan penduduk membikin gaduh dengan memukul apa saja.

Beberapa dekade yang lalu masyarakat Jawa juga bisa panik setiap kali rembulan ”sakit”. Para perempuan hamil disuruh keramas agar si jabang bayi tidak dimakan rembulan sebagai tumbal untuk menyembuhkan diri. Pepohonan dipukul dengan sapu lidi agar tak mandul, sumur dan tempayan ditutup agar tak tertimpa pagebluk. Bangunan yang hampir selesai namun belum sempat dipasangi genting, harus dibongkar kembali atau dirukat agar penghuninya kelak tak terkena sangkolo atau kesialan. Gerhana bulan, adalah pertanda ketidakseimbangan kosmos yang bisa berakibat kurang baik terhadap penduduk bumi. Apalagi gerhana matahari. Apalagi jika itu gerhana matahari total!

”Benarkah gerhana mengandung murka Tuhan, ustadz. Kenapa orang tua kita dulu memukul lesung, kentongan dan apa saja setiap kali ada gerhana?” tanya Cak Manab kepada Ustadz Karimun.

Belum sempat dijawab, Mas Bambang langsung memotong ”mitos itu cak! Gerhana hanyalah fenomena alam seperti yang kita pelajari dalam buku IPA kelas 5 SD.”

”Kalau hanya fenomena alam, saya kira Kanjeng Nabi takkan repot-repot mengajari kita sholat khusyuf, mas. Apalagi sholat gerhana disertai khotbah segala. Kita tahu, dalam khotbah kita diwanti-wanti untuk meningkatkan ketakwaan. Menurut kiai saya, gerhana adalah suatu pasemon Gusti Allah atas perilaku kita,” jawab Ustadz Karimun panjang lebar.

”Lho, ilmu astronomi jelas-jelas mengurai sebabnya, kok, ustadz. Hanya kebetulan saja bulan, bumi dan matahati sejajar posisinya. Jadi menurut saya tidak ada kaitannya dengan mitos segala.”

”Terlepas dari kita dianjurkan sholat khusyuf atau sholat gerhana, perlu dipertanyakan juga, kok dengaren Gusti Allah atau dalam hal ini malaikat ”alpa” mengatur keteraturan posisi benda-benda langit itu? Biasanya kan jarang sekali posisi mereka sejajar sehingga salah satu dari mereka menutupi yang lain, masa Gusti Allah mempunyai sifat semacam human error? Itu artinya, gerhana adalah semacam ketidakwajaran yang mesti kita baca dalam rangka meningkatkan kewaspadaan.”

Mas Bambang terdiam sejenak. Cak Manap dan lainnya sedikit terperangah.

”Jadi orang tua kita yang suka menabuh lesung dan kentongan saat gerhana bisa dibenarkan, ustadz?”

”Tergantung niatnya. Jika menabuh lesung itu dibarengi dzikir apalagi sampai sholat gerhana segala, ya baik.”

”Tapi sayangnya, dulunya orang hanya menabuh lesung saja,” Mas Bambang masih bersuara.

”Orang sekarang tidak kalah gawat kok, mas.” sambut Ustadz Karimun.

”Gerhana yang dulunya menjadi sumber kepanikan kini malah menjadi wisata. Orang Indonesia memang hebat sekaligus gawat. Ada bom meledak, selfie di pinggirnya. Ada gunung berapi erupsi juga selfie di sampingnya. Bahkan tak jarang sampai nyebur ke kawah demi memburu gambar paling dramatis. Ada maling digebuki direkam dengan kamera lalu di-upload. Bahkan melakukan ritual cinta terlarang di kandang ayam, juga direkam dan diunggah ke dunia maya.”

”Nuwun sewu, semestinya, sekali lagi semestinya lho, kita tak terlalu bergembira dengan gerhana matahari besok. Apalagi sampai dijadikan wisata. Sebab selain ada indikasi gerhana sebagai pertanda kurang baik, paparan sinar ultraviolet dan inframerah saat saat gerhana matahari berbahaya bagi mahluk hidup.” Warung hening.

”Dan kalau kelak, jika ada hari raya jatuh pada hari Jumat dan pada saat itu terjadi gerhana matahari, maka kiamat akan segera datang.”

”Kok bisa?”

”Karena dalam sehari kita diberi khotbah tiga kali. Itu artinya, kebenggalan kita sudah tidak bisa ditolelir, dunia sudah tidak perlu diperpanjang masa berlakunya.”

(Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

USAID IWINS Gelar Pelatihan Jurnalisme Warga

Distribusi Air Tak Merata, Butuh ‘Tangan Kuat’ Pemerintah