14:43 - Sabtu, 25 November 2017
Rabu, 16 Maret 2016 | 10:28

Pengangguran Tersertifikasi

IMG_20160316_102155Dari rumah sebenarnya Firman ingin merayakan hidup barang sejenak. Minum-minum di warung Cak Manap seraya menghisap rokok eceran sekaligus rasan-rasan pemerintah. Rasan-rasan memang tidak baik, bahkan andai Kiai Umar bin Khattab masih sugeng, pasti pelakunya akan ditempeleng. Tapi sudah menjadi kutukan, minum kopi seraya menjelek-jelekkan pemerintah nikmatnya seperti sunat nanggap orkes.

Firman ingin santai barang sejenak. Leyeh-leyeh di warung kopi dalam rangka melarikan diri dari istrinya yang sudah dua hari dua malam berkhotbah tanpa henti. Beras habis, elpiji habis, susu anaknya habis, Firman masih saja sok pahlawan menjadi pekerja sosial dalam rangka mencerdaskan bangsa. Seperti yang pernah disinggung Cak Manap “sampeyan itu, pagi-pagi berangkat pakai sepatu. Bawa tas, bawa laptop, sering rapat bahkan sering lembur tapi tak pernah bayar kopi secara cash. Sebenarnya sampeyan itu kerja apa dikerjai?”

Pesan kopi, minta lima batang rokok eceran, Firman bersiap memulai pesta kecilnya. Biarlah hidup sumpek asal masih diberi umur panjang untuk bisa ngopi di warung Cak Manap. Toh hidup ini sendiri, sudah merupakan bencana. Tuhan pernah menanyakan kesediaan kita untuk di turunkan ke bumi saat masih di alam azali, dan kita menyanggupinya. Sekarang tak perlu menyesal, sudah tabiat hidup jika ia penuh romantika. Hari ini Firman dipecundangi nasib, siapa tahu besok ia gantung diri. Bulan ini Firman tak bisa membayar cicilan kreditan motor, eh siapa tahu bulan depan motornya disita dealer. Hari ini Firman tak bisa mencukupi belanja istrinya, barangkali saja besok mendapat surat gugatan cerai. Biarlah istri ribut, mertua sinis, tetangga mencibir dan menertawakan Firman yang begitu lugu “dikerjai” negara. Negara tak pernah punya iktikad baik untuk memperhatikan nasibnya, ia tetap setia memberikan segalanya. Orang curiga Firman malas bekerja kasar dengan terus menjadi relawan pencerdas bangsa karena tak tahu jika Firman sampai lembur-lembur mengerjakan ini-itu sebagai tuntutan “profesi”.

Kopi dituang, Mas Bambang datang. Masih jam kerja. Bahkan ini jam sibuk kantor, Mas Bambang datang dengan kendaraan plat merah bersama lima orang temannya. Semuanya berseragam, dan memesan kopi. Itu artinya, Mas Bambang dan kawan-kawan yang terlihat tak pernah baca buku itu akan ngendon lama di warung. Dan ini entah gelas kopi yang keberapa.

Kontan, rencana Firman buyar karena mood-nya langsung buruk. Ini pengangguran terselubung, batin Firman. Rakyat membayar pajak bahkan saat membeli peniti, digunakan untuk menggaji orang duduk di warung kopi. Rakyat membayar retribusi untuk membeli kendaraan dinas, membayar tunjangan lauk-pauk, santunan, asuransi dan biaya rekreasi para pengangguran formal ini. Kalau ini perjanalan dinas, apa ada perjalanan dinas ke warung kopi, tiap pagi tanpa membawa berkas apapun.

Ini pengangguran tersertifikasi karena mereka punya SK. Dalam SK itu memang tertulis tupoksi : ngopi, ke swalayan, melihat sabung ayam dan atau istirahat di hotel melati.

(Abdur Rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Sepenggal Kisah Anak-anak Pemburu Gerhana

Abang-abang Lambe Pasoeroean Djaman Bijen