15:11 - Sabtu, 23 November 4869
Sabtu, 9 April 2016 | 11:02

Panggil Robocop! Di Kota Ini Bondet Dilempar Seperti Jemblem

bom-ikan-pasuruanUntuk meringankan penyakit pening abadinya, Firman Murtadho iseng-iseng ikut lomba cipta jargon daerah yang diadakan pemerintah daerah dalam rangka entah apa. Mungkin pemda terlalu minim agenda sehingga bikin acara-acara “ringan” seperti itu.

Firman punya beberapa gambaran sebenarnya. Tapi apa salahnya diflorkan di warung Cak Manap. Ide dari banyak kepala kan, lebih baik meski kadang sering membuat gaduh dan perpotensi dead lock bahkan walk out?

“Pertama, saya punya ide soal kota santri,” katanya.

“Apa alasan sampeyan?” sambut Cak Manap.

“Kita punya Sidogiri, Besuk, Podokaton dan ribuan pesantren kecil. Sebuah desa kadang memiliki selusin pesantren-pesantren kecil, itu pertanda bahwa….”

“Pertanda bahwa banyak orang ingin menjadi raja-raja kecil,” potong Mas Bambang. “Kita ini kurang kompak. Satu pesantren saja kembang-kempis, sudah mendirikan pesantren tandingan. Perebutan tahta pengasuh bisa membuat pecah sebuah pesantren. Pesantren-pesantren besar sering bernasib seperti kesultanan Mataram ketika ditinggal pendirinya. Beda metode TPQ, sudah plerokan. Beda calon bupati, bikin madrasah di pinggir madrasah,” racau Mas Bambang.

Ustadz Karimun diam menyimak, tanpa ekspresi.

“Jadi, ide tentang kota santri ini, kurang realistis?” tanya Firman, mengalihkan pembicaraan.

“Ya, kurang lebih begitu.”

“Bagaimana kalau kota UKM? Kita punya Bukir sentra muebel. Punya Mayangan dengan pengecoran logamnya, punya …..” sekali lagi Mas Bambang memotong. “Wong semuanya sudah kembang-kempis diserbu produk Cina, kok?”

“Kalau kota wisata pasti masuk akal,” ujar Firman optimis.

“Apa andalan kita?” timpal Cak Manap.

“Bromo, Arjuno, Semeru, Tengger.”

“Malu sama Probolinggo kalau kita mengaku sebagai kota wisata, cak. Bromo itu bukan hanya milik kita, tapi juga milik Probolinggo. Apalagi Semeru, malah rebutan sama Malang, Probolinggo dan Lumajang.”

Benar, musyawarah memang begini sisi negatifnya, semua ide bisa dimentahkan.

“Lantas apa ide sampeyan semua?” tanya Firman agak ngambul.

“Kota preman!” kata Ustadz Karimun tiba-tiba. Semua yang ada di warung terperanjat. Bahkan Mas Bambang yang suka nyinyir sampai tersedak kopi.

“Ah, ustadz bergurau ya?” ujar Mas Bambang dengan senyum getir.

“Serius, mas. coba kita renungkan, bagian mana dari kota ini yang tidak pernah masuk berita kriminal? Ke timur kita ketemu pusat razia kendaraan bermotor dan hewan ternak. Ke utara, daerah pesisir dan ke selatan, di pegunungan, pusat kaum Yakuza Jawa. Di ujung Selatan dan ujung Utara kota ini bahkan, era Ken Arok masih berlangsung. Zaman modern begini kaum Samurai Jawa masih saja membawa senjata tajam kemana-mana. Bahkan tak jarang bondet yang jauh lebih dahsyat dari bom teroris di Jl. Thamrin itu, kita buat lempar-lemparan seperti jemblem. Kalau sampeyan semua tak terima dengan konsep saya, coba kita renungkan kembali, di manakah bagian kota ini yang nyaman? Santai di alun-alun kita akan ditarik retribusi semi formal, padahal setiap kali membayar pajak kendaraan bermotor kita sudah membayar biaya parkir berlangganan. Ngopi di trotoar kita ditarik retribusi untuk mendapat pertunjukan live concert musisi jalanan yang ratusan jumlahnya itu. Sekali duduk ngopi, bisa belasan kali disuguhi pertunjukan street concert ala Italia. Duduk di taman alun-alun kena retribusi nonformal buat sumbangan membeli pil “penenang” atau “cairan sorga”. Kalau kita pelit, menolak memberi sumbangan, akibatnya harus membayar biaya berobat yang jauh lebih mahal di rumah sakit. Bahkan, di rumah sakit pun kita akan mendapat teror kalau coba-coba merepotkan negara, membebankan biaya berobat pada dana APBD.”

“Konsep saya, Kota Preman, saya kira sangat pantas melihat realitas di kota ini. Kota ini ibarat kota Gotham tanpa Batman atau Detroit tanpa Robocop. Kita berusaha secara swadaya melindungi keselamatan diri sendiri dengan meminta air suwuk atau sabuk jimat kebal kepada kiai karena tak seorang pun yang bisa kita andalkan. Kalau kita mampu mengkredit sepeda motor baru, selamatan harus kita lakukan dua kali, untuk tasyakuran dan untuk keselamatan jiwa dan motor kita dari razia nonformal saudara-saudara begal saat kita kendarai. Motor yang kita kredit dengan banting tulang itu, kita taruh di dalam rumah bisa raib, kita parkir bisa amblas, kita kendarai bisa diminta secara terang-terangan. Kadang, motor yang kita kredit dan DP-nya kita bayar dengan uang hasil pinjaman itu, harus kita tebus kepada seseorang yang telah “meminjamnya” dari kita. Motor kita sendiri, “dirazia”, lalu harus kita tebus. Lucu. Tak jarang, saat kita santai membonceng anak istri, seseorang menghentikan kita di tengah jalan dalam rangka mengambil alih motor kita. Menolak, tak segan-segan mereka akan mengantar kita ke sorga karena mati syahid mempertahankan hak milik.”

“Di kota ini, ruas jalan manakah yang aman? Izrail mengintai di mana-mana dengan melibatkan panjenenganipun bapak begal, adik-adik pebalap pemula dan pekerja di dinas pertambalan lubang jalan, yang Alhamdulillah, selalu setia melestarikan lubang-lubang menganga di sepanjang jalur. Kota ini jauh lebih gawat dari jalun Gaza karena syahid mengintai kita secara sembunyi-sembunyi. Bahkan di kota ini, kita akan bertemu dengan saudara-saudara preman di mana saja. Saat berobat ke rumah sakit, saat memarkir mobil, saat melamar pekerjaan, saat mengurus dokumen-dokumen di kantor-kantor pemerintah bahkan saat melaksanakan sholat Jum’at di masjid.”

“Jadi, menurut saya, jargon yang pas buat kota ini, ya itu tadi.”

Penulis: Abdur Rozaq

Kirimkan artikel/esai/opini/keluhan pelayanan publik/foto/informasi menarik anda ke redaksi wartabromo melalui email wartabromo@yahoo.com atau redaksi@wartabromo.com atau bisa juga via whatsApp (WA) di nomor 081357992501.

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Kuli Priyayi

Iksan Skuter, Musisi Jalanan yang Lantang Suarakan Jeritan Petani