15:11 - Jumat, 23 November 1370
Sabtu, 23 April 2016 | 09:51

NU, Organisasi Sarang Tawon

NUSaya sudah mendapatkan Kartanu sejak belum lahir, karena konon buyut saya Hizbullah, mbah saya Ansor, ibu saya Fatayat dan bapak saya Banser. Saya sendiri pernah beberapa periode di IPNU meski selalu uring-uringan berada di sana. Akhirnya saya ngambul dan “murtad” dengan memeluk PMII. Nah, baru di PMII ini saya merasa nyaman karena di sini sistem kasta sudah tidak diberlakukan lagi.

Paragraf di atas bukan bermaksud curhat, hanya semacam pengamanan psikologis dari su’ul adabkalau pada paragraph-paragraf selanjutnya saya bawel.

Saya pernah antipati terhadap NU. Setahu  saya saat itu, NU adalah organisasi paling alladzifi di seluruh alam. Pengurusnya memang terstruktur mulai pusat hingga ranting, kantor kadang ada meski ngampung. Bahkan para aktivisnya sudah banyak yang berkiprah di berbagai bidang baik lokal maupun nasional. Namun saya belum puas dengan beberapa tradisi NU yang saya nilai begitu kolot.

Pertama, sistem kasta masih berlaku dalam organisasi orang sarungan ini. Bahkan di tubuh banom-banomnya. Seorang kader yang bukan gus atau ning, bagaimana pun besar kontribusi dan bernas pemikirannya, bisa dijamin akan menjadi khoddam alias seksi disuruh-suruh di sepanjang pengabdiannya terhadap organisasi. Mentok, hanya akan menjadi sopir ketua organisasi.

Kedua, sungkanisme berbungkus sami’na wa atho’na yang terlalu. Seringkali kreativitas kader-kader muda NU dikebiri oleh keputusan sepihak –dan seringkali tanpa alasan yang bisa dinalar—jajaran musytasar. Pergulatan ide antara golongan tua yang terlalu banyak pertimbangan dengan golongan muda yang pregresif, seringkali mentok karena alasan sami’na wa atho’na yang pada asalnya hanya berlaku dalam hubungan guru-murid –bahkan Tuhan dan hamba—itu.

Ketiga, kaderisasi usum-usuman. Orang NU selalu melestarikan budaya usum-usuman dalam berbagai hal, termasuk dalam kaderisasi anggotanya. Ketika keadaan tenang, tak pernah terpikirkan ide kreatif untuk membumikan aswaja ke bagian paling bawah anggotanya. Ketika terorisme, aliran sempalan dan gerakan merongrong NKRI telah akut menggerogoti masyarakat, baru diadakan diskusi, pelatihan serta entah apalagi dalam rangka meneguhkan aswaja dan NKRI.

Keempat, dan ini yang paling memalukan dan paling menyakitkan, NU adalah organisasi sarang tawon. Setiap kali ada event politik penting, warga nahdliyyin selalu dimobilisasi untuk mendukung—bahkan fanatik—terhadap aliran atau partai tertentu. Parahnya, itu dilakukan oleh seorang tokoh yang terlebih dulu dibeli oleh mesin politik tertentu, apapun aliran, warna  bahkan ideologinya.

Ini berbahaya karena di masyarakat telah berkembang paham bahwa kiai, gus atau santri yang berpolitik –praktis—sudah hilang kesaktian sosialnya. Dan kaum berjenggot, orientalis bahkan zionis, melihat peluang besar ini dengan menampilkan wajah teduh politik mereka. Seperti kita tahu, partai-partai zionis mulai mendapat simpati bahkan kalangan nahdliyyin dan kaum santri. Seperti kita tahu, pemimpin temperamental di Jakarta sana lebih disukai daripada habib Rizieq yang sebenarnya sepaham dengan kita.

Seperti koloni tawon, tokoh-tokoh kharismatik NU adalah ratu tawon yang akan diikuti oleh anak buahnya meski harus nyemplung got. Dan jangan coba-coba mengusik sang ratu, pasukan tawon penyengat yang fanatik buta itu akan menyerbu siapa pun yang dianggap membahayakan. (Penulis : Abdur rozaq)

Komentar Anda

Komentar

Rois Syuriah PCNU Gunakan Sistem Ahwa, Ketua Tandfiziyah Ditentukan 329 Suara

Pameran Produk UKM Meriahkan Konfercab NU Kabupaten Pasuruan