Siswa SDN Banjarsari II ‘Bertaruh Nyawa’ Untuk Pergi ke Sekolah

0
62

WhatsApp-Image-20160502Sumberasih (wartabromo) – Potret buram dunia pendidikan di tanah air tidak pernah ada habisnya. Ditengah semarak perayaan Hari Pendidikan Nasional, siswa sekolah dasar di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, justru bertaruh nyawa. Mereka berjuang melewati jembatan yang nyaris ambruk agar sampai ke sekolah.

Perayaan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal dua Mei, tidak bermakna apapun bagi siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banjarsari 2 Kecamatan Sumberasih. Faktanya, dunia pendidikan mereka tetap suram. Agar sampai ke sekolah saja, bocah-bocah ini harus berjuang bertaruh nyawa melewati jembatan lapuk yang nyaris ambruk.

Jembatan sepanjang 50 meter dengan lebar 1,5 meter ini rusak sejak 2014 lalu, pasca banjir besar menerjang sungai setempat. Namun sejak saat itu, perbaikan tidak kunjung dilakukan sehingga kondisinya kian memprihatinkan.

Badan jembatan yang berbahan kayu dan bambu semakin usang. Sementara besi penyangga didasar dan kanan kiri jembatan sudah berkarat. Ironisnya jembatan ini merupakan akses satu-satunya bagi siswa maupun warga desa menuju desa seberang sungai.

“Tiap hari lewat jembatan ini, kalau muter lewat jalan lain sangat jauh,” tutur Zainal Hasikin, salah satu siswa SDN Banjarsari 2, Senin (2/5/2016).

Lolos dari jembatan maut, siswa juga harus menempuh jarak sejauh 2 kilometer guna mencapai sekolah yang terletak disisi selatan jembatan.

Kerusakan infrastruktur ini menjadi contoh tingginya kesenjangan dunia pedidikan di tanah air. Jika siswa di kota besar memperebutkan sekolah favorit, namun bagi siswa di daerah pedesaan untuk menikmati sarana penunjang sekolah saja mereka tidak mampu.

“Kami hanya berharap jembatan penghubung itu segera diperbaiki. Sehingga proses belajar mengajar berjalan lancar. Kasihan anak didik kami yang setiap hari lewat disana,” ujar salah satu  guru SDN Banjarsari 2 Muji Rahayu.

Pihak sekolah berharap, Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo segera melakukan perbaikan jembatan. Selain mengancam keselamatan siswa dan warga pada umumnya, juga berdampak pada banyaknya siswa yang terlambat datang ke sekolah. (saw/yog)