Selain Pakrida, Kabupaten Pasuruan Punya Batik Mendalan dan Batik Salwon

0
104

Pasuruan (wartabromo) – Selain batik bermotif pemandangan alam penanjakan dengan hiasan bunga-bunga Krisan dan Sedap Malam atau lebih dikenal dengan nama Batik Pakrida, Kabupaten Pasuruan memiliki aneka jenis batik hasil karya putra daerah, antara lain batik Mendalan, Batik Salwon dan beberapa motif batik yang terus dikembangkan pembatik yang terinspirasi oleh kekayaan alam.

Batik Mendalan merupakan batik asli dari Kecamatan Winongan. Batik ini dikembangkan masyarakat yang tinggal di Dusun Bicakan, Desa Mendalan, sejak beberapa tahun lalu.

Motif batik khas Mendalan sendiri yakni air dan ikan. Kedua motif tersebut menggambarkan potensi Kecamatan Winongan yang sangat kaya air, serta ditambah dengan limpahan ikan yang berkembang pesat, baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Selain motif air dan ikan, juga terdapat motif bunga dan dedaunan.

Ika Ariani (28), Sekretaris Kelompok Batik “Bina Lestari” di Desa Mendalan mengatakan, sudah empat tahun ini menggeluti pembuatan batik, baik cap maupun batik tulis. Total ada 20 anggota yang tergabung dalam kelompoknya, dan semuanya sudah bisa membatik.

“Membatik itu butuh ketenangan. Kalau sampai gusar apalagi biaya’an (gak bisa diam), maka bisa mbleber (tumpah ke mana-mana),” kata Ika, Sabtu (14/5/2016).

Menurutnya, membatik adalah seni yang bernilai tinggi. Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya.

Kelompok pembatik ini beberapa kali mendapat bantuan peralatan membatik mulai dari kompor, kuas, canting dan bantuan pendampingan, baik itu dari Disperindag Kabupaten Pasuruan maupun dari pihak yang lain.

Selain Batik Mendalan, di Kecamatan Winongan terdapat Batik Salwon. Batik Salwon merupakan hasil kreasi ibu-ibu Desa Wonosari yang tergabung dalam kelompok “Sari Jaya Kreasi”. Selama lebih dari setahun menekuni kerajinan batik yang didapatkannya saat mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Pemkab Pasuruan.

Setiap hari, secara bergantian di waktu senggangnya seusai mengerjakan kewajiban di rumah, mereka mendatangi Balai Desa Wonosari. Sambil mengawasi putra-putrinya bermain, para wanita kreatif tersebut, dengan telaten membatik.

“Anggotanya masih belum banyak, baru 15 orang saja. Karena baru satu kelompok ini yang mendapat pelatihan selama setahun terakhir ini. Jika sudah mahir, keahlian yang dimiliki akan ditularkan ke ibu-ibu yang lain,” kata Farkhiah, salah seorang ibu muda di sela-sela kesibukannya membatik.

Meski baru setahun menekuni kerajinan batik, ibu-ibu muda ini sudah menghasilkan batik bermotif khas yang menjadi unggulannya. Yakni batik motif Salwon, singkatan dari Salak Wonosari yang menjadi produk khas pertanian Desa Wonosari.

“Gambar-gambar batiknya berupa buah salak khas Desa Wonosari. Makanya kami menyebutnya batik motif Salwon itu,” ujar Khoiriyah.

Memang baru setahun para ibu muda ini belajar membatik, namun mereka sudah merasakan memperoleh manfaat dari keahlian yang ditekuninya. Selain waktu luang tidak terbuang percuma, mereka memanfaatkannya untuk membatik dan mendapat tambahan rejeki.

“Kami mengharapkan dukungan dari pemerintah, baik modal maupun pemasaran,” harap Khoiriyah.

Selain Batik Mendalan dan Batik Salwon, masih terdapat beberapa karya batik yang dikembangkan warga. Salah satu pembatik asal Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Ferry Sugeng Santoso (34), misalnya, terus berimprovisasi menciptakan motif-motif baru yang terinpirasi kekayaan alam Kabupaten Pasuruan.

Pemilik Sanggar Alam Batik ini mengatakan karya batik yang diproduksi sanggarnya sangat khas dan mengandung nilai filosofis.

“Semua nama itu diambil secara filosofi, misalnya batik raharjo yang bermakna kesejahteraan. Motifnya masih original, desainnya juga jadi khas sanggar alam batik,” urainya.

Ferry mengatakan, selain itu, sanggar batiknya juga mempertahankan bahan pewarna dari alam, seperti kulit buah jolawit, nilo, pisa orela, kulit kayu mahoni, mangga, dan matoa.

Terkini, di tengah pohon matoa yang mulai digalakkan ditanam petani di sejumlah desa di Sukorejo, Ferry menciptakan motif Batik Matoa. Batik Matoa ini sudah diperkenalkan pada 21 Desember 2015 lalu. (*/*)