Balada Kiai Barsiso dan ‘Banyu Londo’

0
120
Korban pencabulan anak saat melapor ke polisi. (Foto: ilustrasi/wartabromo.com)

Beberapa tahun lalu Pakistan diguncang oleh maraknya kasus kejahatan seksual. Puluhan –bahkan mungkin ratusan—bocah laki-laki “dikerjai” oleh para perampok harga diri. Menyusul kemudian, India diguncang oleh kasus yang sama. Ratusan perempuan dijadikan jenang abang bancakan syahwat, dan tak jarang diantar ke alam kubur setelahnya. Ahir-ahir ini malah negeri kita sendiri dikejutkan oleh banyak kasus kejahatan seksual. Dan yang paling memilukan, adalah dilakukan oleh 14 orang ABG—bahkan sebagian lagi bocah—hingga mengakibatkan YY sang korban, berpulang. (Tragedi pemerkosaan kejam di Bengkulu)

Tragedi YY hanyalah puncak gunung es dari kasus kejahatan seksual yang terungkap dan diekspos oleh media. Ahir-ahir ini, hampir tiap hari, media baik cetak, online maupun elektronik tak pernah sepi oleh berita serupa. Dan seperti biasa, sebuah kasus baru kita tangani setelah akut dan mencapai stadium tak masuk akal. Setelah korban bergelimpangan, orang lantas menseminarkannya, menulis buku dengan tema itu lalu kuli legislatif rapat hingga berminggu-minggu untuk membahas undang-undang—yang biasanya hasilnya mengecewakan.

Beberapa pakar mengatakan bahwa ini merupakan dampak langsung dari makin mudahnya masyarakat mendapatkan akses—bahkan memproduksi sendiri—video tak senonoh. Tapi jika dirunut dengan metodologi penelitian Mbuh Jarene Sopo, video semacam itu hanya sedikit persen mempengaruhi perilaku masyarakat.

Lalu –seperti biasa—dicarilah kambing hitam, dan yang paling “berdosa” dalam hal ini adalah pemerintah yang hingga kini masih pekewuh untuk menutup pabrik “banyu londo” serta segenap variannya. Pemerintah yang kita percaya dan kita gaji, belum juga mampu mengupayakan rasa aman masyarakat secara paripurna. Memang, petugas keamanan sering merazia warung-warung bahkan grosir “banyu londo”. Pemerintah juga mati-matian main petak umpet dengan para pedagang asongan “obat penenang”. Tapi ya itu masalahnya, belum mampu mencerabut akar tunggang benalu peradaban yang satu ini.

Padahal, Al Qur’an dan Hadits telah menegaskan bahwa nenek moyang dari segenap pelanggaran yang pernah terlintas dalam kreatifitas manusia, adalah “banyu londo” dan sepupu serta keponakannya. Bahkan salah satu kisah legendaris menuturkan, Kiai Barsiso—seorang ahli ibadah, tujuh puluh ribu santrinya bisa terbang—yang tak pernah melakukan hal-hal ndlurung, ahirnya membegal, meminjam istri orang, mengantar orang ke hadirat Tuhan dan ia sendiri diberangkatkan ke Barzah tanpa membawa iman gara-gara “banyu londo”.

Alkisah Iblis gregeten dengan Kiai Barsiso yang hobi sekali beribadah namun tak pernah berselera untuk kakean macem. Suatu hari Iblis menjelma menjadi seorang tua yang bertamu ke padepokan Kiai Barsiso. Tanpa basa-basi Iblis langsung main drama, beribadah selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, kentut, apalagi sampai ngopi dan sedal-sedul rokok. Kontan saja Kiai Barsiso terpesona dengan stamina “ibadah” Iblis dan bermaksud ngangsu kaweruh bagaimana tips agar bisa beribadah full perseneling begitu. Iblis menyarankan agar Kiai Barsiso melakukan dosa besar sebagai bahan bakar ibadah tenaga kuda. Tapi tentu saja Kiai Barsiso menolak. Dalam logika Kiai Barsiso, mana ada kiai membuat proposal abal-abal. Mana pantas ada kiai BBM-an dengan istri orang, memboking losmen melati dan “beristirahat” berdua di sana. Yang biasanya begitu kan orang-orang berbaju safari atau berbaju keki? Apalagi membunuh umat secara perlahan sebagaimana menggusur lapak dagangan PKL, mengusulkan sistem outsourching atau menandatangani perjanjian perdagangan bebas, itu kan hanya pantas dilakukan oleh raja kanibal?

Tapi Iblis memang memiliki IQ jauh lebih tinggi dari IQ koruptor, politisi atau tim sukses caleg. Maka Iblis menyarankan agar Kiai Barsiso melakukan pelanggaran maha pelanggaran : menenggak “banyu londo”. Hasilnya, dalam keadaan trance akibat “efek samping” banyu londo Kiai Barsiso ahirnya meminta sedekah secara paksa buat biaya pesta “banyu londo”, mengendarai istri penjual “banyu londo” yang semlohai dan “menenangkan” si penjual “banyu londo” yang protes karena istrinya dipinjam. Kiai Barsiso ahirnya diberi honor yang setimpal oleh pemerintah saat itu. Ia dihukum gantung. Nah saat menggelinjang di tiang gantungan itulah Kiai Barsiso salah jalan dalam meminta amnesti. Kiai Barsiso meminta Iblis menurunkannya dari tiang gantungan. Iblis bersedia dengan syarat ia menyembah Iblis dengan isyarat. Baru saja bersujud dari jauh kepada Iblis, malaikat Izrail mendapat mandat Tuhan untuk menjemput Kiai Barsiso. Matilah ia dalam keadaan ingkar.

Begitulah tragedi Kiai Barisiso dengan “banyu londo”. Tapi sayangnya, kita gemar benar dengan “banyu londo” dan “obat penenang” uyuhe setan. Dari anak tukang becak hingga bupati. Tidak di kota tidak di desa, ada hajatan atau sekedar melek-melek takziyah orang meninggal. Jangankan merayakan tahun baru, ngobong boto atau sekedar jandoman di teras surau saja, teman sedal-sedal rokokan adalah “banyu londo” atau “obat penenang” uyuhe setan.

Tragedy YY dan puluhan tragedi lainnya terjadi akibat pelaku menenggak “banyu londo” atau “obat penenang. Akankah bangsa ini dipenuhi oleh Kiai Barsiso- Kiai Barsiso generasi baru? Mari kita renungkan jawabannya di warung kopi Cak Manap.

Penulis: Abdur Rozaq