18:23 - Selasa, 24 Januari 2017
Minggu, 2 Oktober 2016 | 23:28

Menuju Gunung Indrakila Alas Panji Lali Jiwo


Prigen (wartabromo) – Perjalanan makin berat dengan rute menanjak cukup terjal, melalui jalan setapak yang juga jalur air hujan yang turun di sekitar Gunung Arjuna-Welirang. Harus hati-hati, karena jalan setapak itu menjadi licin setelah diguyur gerimis, di kanan-kirinya dikenal dengan Alas Panji Lali Jiwo, hutan yang terkenal angker yang acap kali banyak pengunjung tersesat.

Purwanto, warga sekitar lerang Gunung Arjuna, memikul makanan menuju Candi Indrakila. Foto : Warta Bromo/Harjo Suwon

Purwanto, warga sekitar lerang Gunung Arjuna, memikul makanan menuju Candi Indrakila. Foto : Warta Bromo/Harjo Suwon

Beruntung banyak kawan seperjalanan selama pendakian menuju ke komplek Candi Indrakila ini. Meski jalur yang dilalui nampak gelap, karena kanan-kiri hanya dijumpai pepohonan hutan maupun tumbuhan perdu-perduan, dapat ditembus dengan sinar kecil yang keluar dari power bank.

“Rute ini naik terus dan cukup tajam, nyaris tidak ada bonus jalan landai. Pelan-pelan saja, lima-sepuluh langkah berhenti sebentar dan terpenting bisa sampai di tujuan,” ujar Budiono sambil menyalip Warta Bromo.

Ternyata bukan hanya Warta Bromo saja yang terpaksa harus berhenti, bahkan untuk waktu yang cukup lama. Kawan seperjalanan dari PSHT Pasuruan, ternyata cukup banyak yang beristirahat bergantian.

Bahkan sempat terdengar kelakar dari pendaki lain, ketika Purwanto (38) warga Dusun Talunongko, dengan terbatuk-batuk membawa pikulan yang berat berisi makanan, dengan ringannya melangkahkan kaki, menyalip yang lain menuju ke puncak.

“Kita seperti ditertawakan. Pikulannya sampai meliuk karena beratnya makanan yang dibawanya, malah menyalip banyak orang seperti ini. Ayo semangat, terus naik,” ujar seorang anggota PSHT.

Jika di rute awal sebelum situs Satriyo Manggung, istirahat bisa dihitung tiga hingga empat kali. Namun untuk rute tanjakan yang ekstrim ini, Warta Bromo sudah tidak mengingat lagi berapa kali beristirahat.

Bahkan sempat sekali istirahat sendiri di tengah rimbunnya pepohonan untuk waktu hingga 15 menit. Suasana benar-benar sunyi, hingga tak terasa bulu kuduk berdiri. Dan memaksa Warta Bromo untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan sekitar 2 jam dari situs Satriyo Manggung, muncul Purwanto, warga pemikul makanan dari atas. Harapan dan semangat segera tiba di lokasi tujuan kembali berkobar.

“Saya sudah dua kali ini perjalanan bolak-balik membawa makanan untuk peziarah. Untuk sekali bolak-balik butuh waktu 3 jam untuk itu (naik 2 jam, turun 1 jam). Itu sudah dekat, tinggal beberapa langkah saja,” ucap Purwanto ringan.

Bagi Purwanto dan warga di sekitar gunung itu cukup pendek, tapi tidak bagi orang lain. Beberapa langkah yang disampaikan Purwanto, ternyata masih butuh waktu hampir 1 jam lamanya.

Total perjalanan mendaki ke komplek Candi Indrakila, yang informasinya cukup ditempuh 2 hingga 3 jam. Ternyata butuh waktu lebih bagi yang belum terbiasa melalui rute itu, yakni 4 hingga 5 jam.

Tapi perjalanan 4-5 jam itu terbayar dengan rasa lega, ketika kaki mulai menginjak gapura memasuki komplek candi Indrakila dengan hawa dingin yang mulai menyangat di ketinggian sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). (hrj/hrj)

Komentar Anda

Komentar

rps20161002_221311

Wisata Murah Meriah Mendaki Candi Indrakila

warmo pendapa indrakila

Keheningan Menenangkan untuk Pembajaan Batin di Indrakila