08:47 - Rabu, 28 Juni 2017
Minggu, 2 Oktober 2016 | 22:21

Wisata Murah Meriah Mendaki Candi Indrakila


Prigen (wartabromo) – Awalnya bertekad berangkat sendiri menuju ke sebuah komplek situs sejarah di Gunung Arjuna-Ringgit, yakni Candi Indrakila. Mengisi akhir pekan pada Sabtu (24/9/2016) lalu, dengan rekreasi murah meriah yang menyehatkan sembari menelusuri jejak sejarah.

Budiono, Pimpinan PSHT Pasuruan menunjukkan situs Satriyo Manggung yang jadi tempat penyambutan pengunjung ke Candi Indrakila di Gunung Arjuna. Foto : Warta Bromo/Harjo Suwon

Budiono, Pimpinan PSHT Pasuruan menunjukkan situs Satriyo Manggung yang jadi tempat penyambutan pengunjung ke Candi Indrakila di Gunung Arjuna. Foto : Warta Bromo/Harjo Suwon

Ternyata, begitu tiba di dusun paling ujung sebelum rute yang harus dilalui dengan jalan kaki, yakni Dusun Talunongko, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, justru berbarengan dengan sekitar 250 orang dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pasuruan. Mereka tengah melakukan pendadaran bagi para calon pendekar yang menjadi siswa-siswanya.

Situs Candi Indrakila yang menjadi tempat religi bagi orang yang biasa bertirakat ini, dikenal sebagai tempat pertapaan. Situs Indrakila ini dalam legenda pewayangan, konon menjadi tempat tokoh pandawa Arjuna, menyucikan diri. Membajakan batin hingga mendapatkan kesaktian dan kedigdayaan.

Konon saat menyucikan diri membajakan batin, selama bertapa Arjuna diusik atau digoda berbagai jenis siluman di tempat itu. Namun siluman itu berhasil dikalahkannya, hingga dia berhasil bertemu dengan Dewi Suprabowati yang kemudian menjadi istrinya dan menempatkan Arjuna sebagai tokoh yang sakti.

Pertapaan Indrakila ini sering didatangi oleh Putera Sang Fajar Soekarno, semasa mudanya. Di tempat inilah Sang Proklamator RI tersebut menenangkan diri untuk mendapatkan ilham dalam menyusun perjuangan demi Kemerdekaan Indonesia.

Cukup melelahkan, perjalanan berat dengan rute menanjak terjal yang serasa tak kunjung sampai, meski sudah beberapa kali istirahat. Napas ngos-ngosan, kaki yang terasa berat terus dipaksakan untuk melangkah. Tapi perjalanan menjadi sangat terhibur karena banyak teman.

Baru setengah jalan, tibalah di sebuah situs punden berundak Satriyo Manggung, yang konon menjadi sebagai tempat penyambutan peziarah sebelum ke Candi Indrakila. Di lokasi itu terdapat tiga punden berundak yang tersusun dari batu.

“Baru separuh jalan dan di sini kita bisa beristirahat melepaskan lelah. Sambil beristirahat, peziarah atau pengunjung biasanya tetap mampir di situs Satriyo Manggung ini,” kata Budiono, Ketua PSHT Pasuruan.

Dari keterangan Budiono, punden berundek Satriyo Manggung menceritakan perjalanan seorang satriya yang bertapa hingga muksa (sirna) setelah mendapat kesaktian dan kekuatan batin. Awalnya dulu hanya terdapat sebuah punden berundak, tapi sekarang bertambah menjadi tiga buah.

“Pertama kali saya datang ke sini pada 1996 dan hanya ada sebuah susunan batu (punden berundak), yang paling dalam itu. entah siapa yang menabahnya hingga jadi tiga buah. Kalau susunan batuannya terdiri dari batu bata dan ada batu hitamnya juga,” terang Budi, sambil menunjukkan situs yang asli.

Situs Satriyo Manggung ini berada di sebuah cungkup bangunan dari seng berukuran sekitar 3X4 meter yang juga beratap seng. Di luar cungkup bangunan, terdapat lokasi beratap seng yang terbuka dengan ukuran lebih luas, untuk pengunjung atau peziarah beristirahat.

Lebih dari 30 menit melepaskan lelah, kembali perjalanan ke komplek Candi Indrakila dilanjutkan. Rute yang bertambah berat, karena jalan setapak yang makin terjal. (hrj/hrj).

Komentar Anda

Komentar

Kondisi Gunung Bromo Senin (26/9/2016). Foto: Sundari/wartabromo.com

Status Bromo Naik Menjadi Siaga

Budiono, Pimpinan PSHT Pasuruan menunjukkan situs Satriyo Manggung yang jadi tempat penyambutan pengunjung ke Candi Indrakila di Gunung Arjuna. Foto : Warta Bromo/Harjo Suwon

Menuju Gunung Indrakila Alas Panji Lali Jiwo