02:06 - Rabu, 18 Juli 2018
Rabu, 12 Oktober 2016 | 08:27

Yatim, Janda dan Pilkades: Refleksi Santunan Anak Yatim 10 Muharrom

Alhamdulillah, puji Tuhan, tahun ini teman-teman karang taruna di kampung Firman Murtadho berhasil mengadakan gebrakan. Malam 10 Suro hari raya anak yatim, dirayakan dengan gebyar dan istimewa. Kalau acara-acara gebyar yang berbau hura-hura sih, sudah sangat sering dilangsungkan. Agustusan sudah rutin dangdutan. Ada hajatan pasti dirayakan saweran. Nah, kegiatan kali ini membuat Firman, Gus Hafidz dan Ustadz Karimun senyum-senyum bangga.

Tanpa banyak cing-cong teman-teman karang taruna bergerak agresif tak kalah dengan tim sukses calon pilkades. Dana digalang secara swadaya. Sarana-prasarana disiapkan dengan cara mempersilahkan para anggota untuk menghandle. Ketua karang taruna “mengharamkan” uang syubhat dari politisi desa mana pun karena kurang baik memberi anak-anak yatim yan akan menjadi calon pemimpin bangsa dengan uang seperti itu.

Dan terharulah seluruh kampung. Anak-anak muda telah bangkit dan berbaris di garda depan menghandle acara mulia dalam rangka merayakan komulasi hari sakral : Hari raya anak yatim, hari kemenengan para nabi dan umat Islam serta ratapan abadi kaum Syiah.

Anak-anak yatim itu didudukkan di atas podium –hasil pinjamaan. Diberi santunan yang dikumpulkan dari dana swadaya asli iuran sukarela para anggota. Sebelum “dipajang” di singgasana, anak-anak yatim itu dikirab keliling kampung dengan pawai obor yang diikuti oleh anak-anak PAUD, santri-santri TPQ, kawan-kawan Pagar Nusa, group marching band desa serta masyarakat luas.

Firman Murtadlo kebagian koar-koar di pengeras suara yang diusung becak motor. Ia berkali-kali menyitir hadits bahwa malam ini adalah malam istimewa karena Gusti Allah akan mengadakan big sale pahala. Mengelus-ngelus rambut anak yatim akan diselamatkan dari api neraka. Bujang lapuk akan segera menemukan jodoh, buruan debt collector akan selamat, pelanggan rumah sakit akan seger waras, para janda akan segera mengahiri statusnya dan segala kesialan apapun, insya Allah akan disembuhkan oleh Gusti Allah jika ikut nyawer kepada anak-anak yatim itu. Dan Alhamdulillah, ‘ceramah’ Firman Murtadlo berhasil. Beberapa orang tiba-tiba menyelipkan angpau di saku anak-anak yatim yang sedang dikirab itu. Di sepanjang jalan terjadi hujan uang menuju bak mobil pikap yang dipenuhi anak-anak yatim.

Firman Murtadlo yang memang punya bakat alam menjadi provokator, terus beraksi—dan ini di luar skenario ketua karang taruna— hingga pawai sampai di tempat finish. Beberapa calon kepala desa yang santer akan segera naik dalam pilkades, didekati oleh Firman.

Di samping panggung Firman bisik-bisik dengan Pak Komar, salah satu calon kades. Beliau termakan provokasinya, buru-buru ke toko membeli beberapa amplop, dimasukkannya beberapa pecahan uang berwarna biru. Dengan diiringi cuap-cuap provokatif di Firman dari mikrofon, Pak Komar naik ke panggung untuk membagikan saweran ahiratnya kepada anak-anak yatim itu.

Pak Udin rival Pak Komar, merasa tersinggung dengan keberanian Pak Komar memborong berkah dan doa anak-anak yatim itu. Buru-buru beliau bisik-bisik dengan ketua karang taruna, meminta sisa-sia amplop dan memasukkan beberapa pecahan uang berwarna merah marun.

Fastabiqul khairat rupanya belum selesai karena calon-calon kades yang lain tak rela jika doa-doa suci serta berkah anak yatim itu hanya diborong oleh kedua rival mereka. Beruntun, Pak Zaini, Pak Amin dan Pak Maksum berebut naik ke panggung untuk mengusap –dan mencium—kepala anak-anak yatim itu dengan hidmat dan amplop.

Selama ini keberadaan Firman Murtadho lebih banyak disepelekan daripada di apresiasi. Baru kali ini orang-orang memberinya acungan jempol karena provokasinya berbuah manis. Di sepanjang jalan ia memprovokasi masyarakat agar nyawer anak-anak yatim itu. Di panggung, ia membikin “perang dingin ukhrawi’’ antara para bakal calon kades.

Tapi ngomong-ngomong, memangnya Firman Muratdho nyawer berapa kepada anak-anak yatim itu? Ia hanya guru swasta, jadi tak bisa memberi secara materi karena rokok saja ia ngebon ke warung sebelum berangkat menjadi MC. Ia kan pejuang kemanusiaan, sudah banyak yang ia berikan kepada calon penerus bangsa di sekolah sana. Buktinya ia telah bertahun-tahun menjadi pahlawan bagi bangsa hingga menjadi pecundang bagi keluarga.

Malam ini Firman tak ikut nyawer, sebab sudah lama ia menggratiskan cukur rambut di lapaknya bagi anak-anak yatim, terutama jika anak yatim itu punya ibu janda muda nan bohai.

“Sayang sekali, kita hanya memperhatikan anak yatim setahun sekali. Hanya malam 10 Suro begini. Selebihnya biarlah Gusti Allah yang menyantuni mereka,” bisik Gus Hafidz di samping panggung.

Oleh Abdur Rozaq

Filed in

Markonah Dilarang Pintar!

Sesajen dan Pungli