04:58 - Kamis, 19 Juli 2018
Minggu, 16 Oktober 2016 | 06:46

IPNU, Bangkiyak dan Nietzsche

Pasuruan (wartabromo) – Benar memang apa yang dikatakan Pak Karno saat itu. Pemuda, adalah salah satu kekuatan besar suatu bangsa dan peradaban. Banyak sudah sejarah mencatat bagaimana “kegilaan” anak muda yang mendunia. Soekarno dan kawan-kawan, Chairil Anwar, Gie, Tan Malaka serta lainnya, berada di usia muda saat mereka belingsatan mencetak jejak mereka pada kanvas sejarah.

Memang tak sedikit pemeran sejarah yang memulai debut mereka di usia matang, namun jika ditimbang secara bijak, protagonis-protagonis peradaban yang memulai debutnya justru pada masa ugal-ugalan darah muda, lebih mencengangkan. Lumrahnya kan, masa muda adalah masa acuh-tak acuh terhadap apa saja yang di luar dirinya? Jika ada anak-anak muda yang mulai memikirkan orang lain, masyarakat, negara serta umatnya, yang seperti itu layak dijadikan menantu.

images (1)_1476575126026   Di bawah kolong jagat ini banyak anak-anak muda yang “bergerombol” dalam rangka meraih kepentingan mereka. Ada banyak komunitas-komunitas mulai yang hedonis, memanjakan ego, menegaskan eksistensi, hura-hura hingga yang sedikit peduli terhadap apa yang ada di luar dirinya. Dan dari sekian “gerombolan” itu, Gusti Allah menganugerahkan anak-anak muda yang menamakan diri mereka IPNU kepada republik Indonesia ini.

Siapa mereka? Siapakah pemuda-pemuda yang “bergerombol” dalam jamiyyah bernama IPNU itu? Mereka adalah anak-anak petani yang turun gunung untuk merebut berbagai kancah perang di kota. Anak-anak pemakai sarung dan bangkiyak yang mulai membiasakan diri untuk mengenakan dasi dan jas. Kaum pengkaji kitab kuning yang mulai coba-coba membaca buku Karl Mark, Nietsche hingga Derrida.

Mereka adalah kaum pengamal hizib yang mulai mempelajari kuantum fisika. Rahasia alam jin telah mereka akrabi sejak tinggal di gotakan-gotakan, dan sekarang mereka mengkajinya melalui perspektif fisika, gelombang elektromagnetik serta rahasia infra merah.

Mereka generasi tengah-tengah atau yang dalam fiqih disebut syubhat. Tak terlalu ke kiri dan tak terlalu ke kanan. Fanatik namun tidak radikal. Sangat mencintai Islam namun selalu mengedepankan pikiran dingin untuk membela Islam, bahkan ketika Islam dilecehkan. Mencintai Islam dengan sekaligus mencintai NKRI dalam garis lurus yang sejajar.

Secara historis—dan andai boleh mengklaim—pemilik sah negeri ini adalah mereka dan mbah buyut mereka yang telah mensedekahkan nyawa dalam merebut NKRI dari tangan penjajah. Namun mereka tak lantas tinggi hati memaksakan egoisme dalam bernegara. Sebenarnya mereka lebih layak dan berhak “menghijaukan” Indonesia, namun demi kelansungsungan apa yang disebut NKRI, mereka ridlo jika bendera hijau dengan logo bumi diikat tampar berkibar di bawah Sang Saka.

IPNU adalah anak-anak yang mulai piawai mengawinkan merah, putih, hijau, kuning idealisme. Dari bapak- ibunya mereka mewarisi kedewasaan singkretisme. Bahwa tak haram membakar menyan, menyimpan keris, ziarah dan hormat pada bendera meski mereka rajin sholat lima waktu. Mereka tahu benar jika batas antara iman dan syirik tak setipis kulit ari. Maka, beragama Islam sekaligus ber-hubbul wathan minal iman, tak menyebabkan seseorang menjadi kafir.

Penulis : Abdur Rozaq

Filed in

Masfur, Satpam Pabrik yang Mengabdi Jadi Guru Madin

Pemkab Pasuruan Sabet Penghargaan Kawastara Pawitra