16:48 - Selasa, 17 Juli 2018
Jumat, 21 Oktober 2016 | 18:27

Petani Wonorejo Panen Semangka Jumbo, Satu Buah Berbobot 11 Kg

Wonorejo (wartabromo) – Cuaca tak menentu bukan halangan bagi petani Semangka untuk tetap bisa panen raya dan menghasilkan buah dengan kualitas baik. Hasbullah (30), salah satu petani semangka di Desa Cobanblimbing, Kecamatan Wonorejo, salah satunya. Ia mampu menghasilkan 7 ton Semangka jumbo.

“Di lahan seluas 2750 meter persegi, saya bisa panen sebanyak 7 ton atau sekitar 1.500 buah lebih,” kata Hasbulloh ditemui di ladangnya, Jumat (21/10/2016).

Semangka yang dipanen Hasbulloh terdiri dua jenis yakni Amor (berbiji) dan Riendu (tak berbiji). Rata-rata Semangka yang dipanennya Semangka jumbo dengan berat rata-ratai 11 kg setiap satu buahnya. “Mulai tanam benih hingga panen hanya butuh waktu dua bulan,” katanya.

Untuk melawan cuaca yang tak menentu dan menghasilkan buah dengan kualitas baik, Hasbulloh harus memilih benih terbaik. Setelah menyortir benih kemudian ditanam.

“Saat mulai tumbuh juga harus diperhatikan apakah daunnya bercabang atau pecah. Kalau pecah langsung dipotong. Begitu juga kalau daun pertama yang tumbuh ternyata tebal, juga langsung kita sortir karena jelas tidak akan menghasilkan buah. Kalau tanamannya ternyata kerdil juga, pasti akan kita sortir,” imbuhnya.

Selain benih, untuk mendapatkan semangka yang berkualitas, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, diantaranya teknik penanaman, cara pengolahan lahan, hingga pemeliharaan semangka itu sendiri.

“Tanaman semangka merupakan tanaman semusim dengan pola tanam monokultur, dimana apabila areal yang ditanami semangka tersebut adalah bekas kebun, maka perlu dibersihkan dari tanaman terdahulu yang masih tumbuh. Bila bekas persawahan, dikeringkan dulu beberapa hari sampai tanah itu mudah dicangkul, kemudian diteliti pH (keasaman) tanahnya,” terangnya.

Tak kalah penting adalah perihal pemupukan. Diungkapkan Hasbullah, pupuk yang dipakai adalah pupuk organik dan pupuk buatan. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari hewan sapi atau kerbau, serta yang dipilih adalah pupuk kandang yang sudah matang.

Lain pemupukan, lain halnya pengobatan dan penyiraman. Untuk pengobatan tanaman semangka, Hasbullah selalu menggunakan pestisida dan fungisida yang diberikan setiap seminggu satu kali. Terlebih ketika hujan tiba, maka penyemprotan fungisida harus selalu diberikan setelah hujan reda, lantaran air hujan selalu membawa jamur bagi setiap tanaman.

Hasbulloh mengatakan Semangka jumbo yang dipanennya ternyata laku keras. Dalam sehari saja, semangka-semangka miliknya tak sampai dijual ke pasar, karena banyak pembeli yang mendatangi Hasbullah di lahan semangka miliknya.

“Per satu kilogram semangka tanpa biji, Hasbullah menjualnya dengan harga Rp 5 ribu, sedangkan semangka berbiji, per kilogramnya dijual dengan harga Rp 3500-Rp 4000,” kata Hasbulloh yang lebih memilih menjual semangka langsung ke pembeli, bukan ke tengkulak atau pedagang. (mil/fyd)

Poncol Bakal Disulap Jadi Pasar Wisata

Ribuan Mangrove Segera Ditanam di Pesisir Semare