Demo Kepada Tuhan

0
53

Gonjang-ganjing “salah bicara” Koh Ahok di ibu kota sana, ahirnya merembet ke kota Firman Muratdlo. Ada desas-desus selepas sholat Jum’at akan diadakan “silaturrahmi” ke kantor anggota dewan untuk menyampaikan keberatan –sebagian—umat Islam.

Maka Gus Hafidz panik tak alang kepalang. Di warung Cak Manap beliau mencoba mencari tahu.

“Siapa yang ngobong-ngobongi?” katanya entah kepada siapa.

“Wong sudah dingin kok masih ada saja yang meniup-niup? Memangnya dibayar berapa untuk utek-utek NKRI ini”

“Yang menyulut ya si rasis itu, gus!” kata Firman Murtadlo tiba-tiba. Rupanya dari tadi ia sudah geregeten karena –sepertinya—Gus Hafidz pro penyulut rasisme.

“Tapi kalau kita arif mengkoreksi diri, sebenarnya kita yang kurang bijak, mas.”

“Kok bisa?”

“Ya salah sendiri, mayoritas kok belum bisa menjadi teladan bagi minoritas.”

“Ya justru karena mayoritas itulah yang sulit. Di Amerika sana, yang ngutil, njambret, selingkuh ya kaum mayoritas.”

“Tapi kita ini kenemenen, mas. Harusnya karena mayoritas itu malah banyak tokoh dan pemimpin yang bisa dibanggakan. Mayoritas saja kita kesulitan mencari figur, apalagi kalau minoritas, jangan-jangan semuanya jadi penyakit?”

“Ini permainan media, gus. Kalau ada orang kita yang bagus dan patut dibanggakan, media takkan mengabarkannya. Tapi kalau golongan kita yang korupsi, dunia bising oleh berita, hujatan bahkan tukang angon bebek pun tahu.”

“Ini salah kita juga, kenapa kita tidak punya media yang bisa membela kita dalam perang isu serta wacana. Kita mayoritas, bukan?”

“Tapi kalau yang ini, yang salah memang dia, bukankah sudah berkali-kali ia menyinggung kita dengan pernyataannya yang gregeteno itu?”

“Ini negara demokrasi, mas.”

“Tapi undang-undang melarang rasisme, gus.”

“Nah, kalau sekarang kita mau mendemonya, apalagi ia sudah minta maaf dan keadaan sudah mulai tenang, apa bukan kita yang rasis?”

“Apa kita akan diam saja keyakinan kita dihina?”

“Yang menghina agama, kita apa dia? Coba kalau kita menempatan agama sebagai ahlak nasional, coba kalau kita tidak menggunakan ayat-ayat kitab suci dalam berkampanye, takkan ada kegaduhan semacam ini.”

“Dia itu agen, gus. Dia boneka yang dikendalikan invisible hand, yang agendanya adalah…….”

“Nah, kalau kita tahu begitu, kenapa masih semangat untuk “mengadilinya”? Kalau dia sampai lecet, NKRI lho taruhannya.”

“Lantas, apa kita biarkan saja ada orang yang menyinggung keyakinan orang lain? Katanya ini negara hukum, kenapa belum ada yang memanggilnya untuk dimintai keterangan?”

“Ya salah kita juga, mayoritas kok tidak bisa menjadi dalang, malah diombang-ambing jadi wayang?”

“Lantas apa yang mesti kita lakukan, gus?” ujar Firman putus asa.

“Tidak usah demo, tidak usah gaduh, mending istighotsah mendoakannya, barangkali saja ia terketuk nuraninya dan menjadi muallaf.”

Penulis : Abdur Rozaq