15:13 - Jumat, 16 Desember 2472
Sabtu, 24 Desember 2016 | 04:33

Suwuk Mbah Dur ( Refleksi Haul Gus Dur)

Leyeh-leyeh di teras surau selepas pengajian rutin, Gus Hafidz dan umat kesayangannya belum juga beranjak pulang. Cak Manap mesisan prei. Belasan tahun istikamah ngudek kopi, adakalanya ia ingin istirahat sejenak. Talak tiga dengan warung. Toh, misalnya sehari –dan hampir—semalam hingga ratusan kali ia ngudek kopi, yang dibutuhkan oleh perutnya hanya sepiring nasi. Arif wegah pulang karena ia memang bisa dan boleh tidur dimana pun. Arif adalah Peterson udik, anak asuhan rembulan. Mas Bambang belum pulang, sebab kalau ia pulang hanya akan tengar-tenger sendirian. Mau nonton berita di TV tak ngerti sama sekali itu tentang apa. Mau utek-utek garapan kantor, apa yang mau digarap. Wong tidak dilembur saja ia selalu nganggur sepanjang hari, sepanjang bulan, selama puluhan tahun. Deretan angka NIP menjamin Mas Bambang boleh dan bisa bekerja dengan kinerja semacam itu. Dan Firman Murtado, tak pulang karena kesumpekan kian hari kian bertambah di dada dan kepalanya. Ia sudah sumpek memikirkan nasib bangsa dan umat ini, kini istrinya mulai ikut-ikutan merecokinya. Mulai suka berkhotbah dengan tema stabilitas ekonomi. Semoga istrinya tidak kecantol seseorang dari dunia lelembut –dunia maya—lalu menggugatnya cerai. Naudzu billah!

Nah bedanya kalau leyeh-leyeh sama Gus Hafidz, yang dirasani dan dipaiduh bukan hanya pemerintah. Gus Hafidz selalu pura-pura tidak tahu kalau pemerintah sebenarnya kurang genah di mata rakyat. Sedari tadi yang dibahas cuma cerita-cerita kiai, wali, wirid, dan sesekali keprihatinan terhadap diri sendiri.

“Nah, coba sekarang kalau Mbah Dur masih gesang, insya Allah takkan gaduh begini.” Ujar Gus Hafidz menerawang jauh.

“Betul gus. Dulu kasus gonjang-ganjing penyedap rasa enzim babi, saya sampai tak berani makan apapun karena takut haram. Untungnya Mbah Dur kasih fatwa halal, hobi saya makan pakai sambal terasi bisa terus berlanjut.” Timpal Cak Manap berbinar.

“Kalau saya, setiap kali baca buku biografi beliau yang ditulis sama Greg Barton, rasanya ingin ambil celurit, gus.” Firman nyeletuk.

“Kok gitu, mas?” heran Gus Hafidz.

“Lha wong para bajingan kompak menggulingkan beliau. Nyata benar kalau bangsa kita ini, adalah bangsa yang memusuhi kebenaran, atau setidaknya tidak ada niat baik untuk bangsa.”

“Tapi Mbah Dur itu bukan nabi, lho Cak Firman.” Celetuk Mas Bambang.

“Benar. Tapi insya Allah beliau ini wali. Buktinya beliau weruh sak durunge winarah. Visinya bahkan menembus masa depan yang tak terjangkau oleh pengamat mana pun.” Firman ngotot.

FB_IMG_1482528582410

“Mas Firman ini pengagum Mbah Dur, ya?” sela Gus Hafidz.

“Ya, gus. Kenapa?”

“Pengagum Mbah Dur kok ngamukan?” wajah Firman Murtado mbrabak abang.

“Mbah Dur itu insya Allah wali abdal, wali yang sangat pengasih. Buktinya, cinta beliau begitu universal. Tak cukup dengan hanya mencintai sesama muslim, bahkan beliau mencintai seluruh umat manusia tanpa pandang bulu. Masih ingat ketika beliau mengadakan layatan ke Israel? Padahal kita tahu siapa itu Bani Israil. Dan ketika saudara-saudara kita yang suka bertakbir sambil membawa pentungan mengecam lawatan beliau, Mbah Dur hanya bilang, biar sejarah yang membuktikan. Belakangan terbukti, NKRI tidak buyar oleh makar zionis.”

“Sekarang ini, andai Mbah Dur masih gesang, kita bisa tetap tenang nyuruput kopi dan ngudut di warung Cak Manap. Sehebat apapun orang ingin umek-umek NKRI, insya Allah beres disuwuk Mbah Dur. Tapi, beliau sudah berpulang. Jadi kita harus rajin menangis kepada Gusti Allah agar NKRI selamat.”

“Ya untungnya, meski tidak persis, masih ada kiai-kiai yang memahami “kitab teles” yang beliau ajarkan dulu.” Cak Manap menimpali.

“Ya, alhamdulillahnya kita masih punya kiai. Santri-santri ideologis beliau ini adalah tukang injak rem ketika NKRI ramai-ramai mau didorong ke jurang disintegrasi.

“Tapi terus terang, saya gemeter, gus.” Ujar Firman Murtado pucat.

“Saya juga begitu, mas.” Gus Hafidz berkaca-kaca.

“Kita ini, sudah dibidik dari berbagai arah oleh banyak sniper. Lengah sedikit bisa amblas.”

“Makanya, paling tidak kita harus tutup mulut dan membuka mata hati. Jangan ikut  menebar kabar burung, fitnah dan provokasi. Kalau sampai hobi kita memperkeruh suasana dengan menebar fitnah kita perturutkan, kehancuran sepertinya tak bisa terelakkan.”

“Hati-hati kalau menulis postingan di sosmed, mas Firman. Sebab Mesir dan Libya sudah menjadi arang hanya oleh percik api dari dunia maya.”

Penulis : Abdur Rozaq

Filed in

Demam Berdarah Darah

Generasi ‘Maya’ Antara Ada dan Tiada