Topo Bisu Untuk NKRI

0
67

Lama-lama suker juga Firman Murtado dengan kegaduhan di Jakarta sana. Apalagi tiap saat perusahaan pitenah, sekumpulan orang yang mencari beras dengan jual-beli pitenah menyiarkan adu domba, omong kosong serta obong-obong. Mungkin ini tafsir kalau mulut dajjal itu bisa mengeluarkan seribu satu bahasa berisi pitenah. Sudah sampai masanya.

Firman Murtado sebenarnya adalah manusia penganut paham pluralisme ajaran Mbah Derakman Wakid. Tapi kalau sudah kiai, habaib atau ustdaz yang di-santapi, tukang cukur itu bisa muntap juga.

Kawan-kawan Banser konon sudah siap pergi ke Jakarta untuk tabayyun atawa konfirmasi. Yang terjadi itu, benar-benar keprucut omong apa diskenarioi? Ini benar-benar human error apa terencana? Manusia memang wajib salah dan lupa, tapi kalau berkali-kali lupa, apa tidak ada kesengajaan, ujar Bang Haji Rhoma Irama.

Firman Murtado, sudah dari kemarin geregeten. Inginnya njotosi entah siapa tapi belum nemu sasaran. Kemarahannya adalah akumulasi kekecewaan terhadap insiden “keprucut omong” di Jakarta sana, ketersinggungan sebagai umat Islam –meski sembahyang belum jangkep—dan darurat nempur beras yang abadi itu. Makanya berkali-kali ia ndingkik Gus Hafidz, minta fatwa untuk membenarkan murang-muringnya.

Tapi aneh, Gus Hafidz tiba-tiba menghilang dari peredaran. Di sanggong di warung Cak Manap, tak pernah muncul. Di hadang saat pengajian, prei. Ahirnya, demi misi fatwa Resolusi Murang-Muring itu, Firman Murtado meliburkan hobinya tidur pagi untuk ngelurug ke dalem Gus Hafidz selepas subuh.

Assalamu alaikum sampai tujuh belas kali tak ada jawaban. Tak biasanya begini. Rumah Gus Hafidz selalu open house dua puluh empat jam. Cemilan dan morong kopi tak pernah kosong untuk menyambut tamu –meminjam istilah Cak Nun, anak-anak yatim sejarah—yang selalu lungo teko itu.

images (20)-650x400

Tapi aneh. Gus Hafidz singitan. Mobilnya ada. Sandalnya ada. Dari dalam rumah terdengar lantunan qira’at Muammar ZA sebagai pertanda Gus Hafidz sedang menyalakan komputer, menulis ini- itu entah khotbah Jum’at, menerjemah kitab kuning atau meresum materi kuliah buat para Mahasiswanya di Undar Jombang sana.

Setelah putus asa karena Gus Hafidz sepertinya tak mau nemoni, Firman Murtado balik kucing dengan memeram geregeten yang makin menjadi. Tapi belum melangkah, Fatahillah, putra Gus Hafidz menghampirinya di pintu ruang tamu.

“Mas, disuruh pinarak sama abah.” Katanya. Firman langsung masuk dengan lega.

Gus Hafidz ternyata sudah duduk di kursi ruang tamu siap nemoni Firman Murtado. Dasar wong sempel, Firman Murtado langsung nyerocos tak karuan.

“Bagaimana ini gus? Kita sudah diam, ngelus-ngelus dada dan sok gendeng meski  dikamplengi, malah ngelunjak mereka.” Gus Hafidz hanya diam menyimak. Maka Firman Murtado makin menjadi.

“Toleransi ada batasnya, kan gus?” Gus Hafidz masih diam.

“Apa yang kurang dari kita, gus? Kalau setiap keprucut omong dimaafkan, mereka akan makin menjadi, gus.” Gus Hafidz menghela nafas panjang di kursinya.

Fatahillah yang keluar dari ruang tengah membawa nampan kopi, segera menghampiri Firman Murtado

“Maaf, mas. Saya lupa menyampaikan tadi. Abah sedang Topo Bisu, mas. Puasa bicara nirakati NKRI ini.” Makanya dari tadi Gus Hafidz diam saja meski tangannya mengepalkan tinju.

“Tolong baca itu, mas” kata Fatahillah seraya menunjuk banner di dinding dekat kaligrafi. Tertulis dengan huruf kapital dengan warna mencolok:

“TAK ADA JALAN LAIN, KITA HARUS BERSABAR, KARENA KEUTUHAN NKRI TARUHANNYA.”

Dalam hati Firman Murtado misuh-misuh tak karuan.

Penulis : Abdur Rozaq