02:16 - Rabu, 18 Juli 2018
Selasa, 7 Februari 2017 | 10:56

Sensus Wong ‘Sempel’

“Mas, sampeyan saya data sebagai budayawan, ya?” tanya Pak Carik di lincak warung. Firman Murtado langsung keselek rondo royal karena ia memang sedang menggasak jajanan seksi itu.

“Maksudnya, pak?” katanya begitu bisa bicara.

“Ini kan ada pendataan tokoh-tokoh masyarakat di desa.” Pak Carik lalu duduk di lincak warung. Memilih tempat paling bersih takut seragam kekinya terkena kotoran.

“Apa hubungannya dengan saya?”

“Sampeyan kan penulis, di koran sering saya baca pitenah sampeyan.”

“Wah, janganlah, pak. Tulisan saya itu cuman berisi omelan orang ngelindur. Wong saya nulisnya di sini, kok. Kalau saya bawa kertas dan pen ke warung itu bukan dalam rangka ngeramesi togel, apalagi ngerekap orang tombok.”

“Lha tapi kan sampeyan sering…”

unnamed (2)

“Kalau ada sensus wong sempel, baru Mas Firman Murtado ini  yang harus dimasukkan.” Potong Cak Manap. Firman Murtado tak marah karena –diam-diam—ia merasakan juga kalau dirinya memang bakat nggak jangkep.

“Kalau bapak mau mendata budayawan di desa kita, sekarang sudah tidak ada, pak.”

“Itu Mas Arif kan sering demo masuk tivi?”

“Demonstran kok dikategorikan budayawan sih, pak? Budayawan itu misalnya Wak Takrip yang jago nabuh ketipung dan ngajar pencak. Misalnya juga Cak Somat yang suka terbangan.” Usul Cak Manap.

“Ndak ada, cak. Budayawan tidak ada di kampung kita.” Protes Firman Murtado.

“Budayawan itu seperti apa sih?” Pak Carik penasaran.

“Ya yang hidupnya didedikasikan untuk kebudayaan dan kesenian, pak. Wak Takrip sih bisa juga dipaksa sebagai budayawan karena dengan suka rela melestarikan pencak silat warisan para leluhur. Nanti kalau ada musuh macam-macam sama NKRI enak bisa njotosi. Tapi sayang, kita, apalagi generasi di bawah kita tak ada yang becus pencak silat. Nanti kalau ada huru-hara kecirit sembunyi.”

“Kalau pemain jaran kepang itu termasuk budayawan?” kejar Pak Carik.

“Ya, tapi kan sudah tidak ada?”

“Kalau anak-anak muda corat-coret tembok pakai cat atau ngamen, apa termasuk kegiatan kebudayaan?”

“Ya bukan. Wong nggak ada pesan moralnya.” Pak Carik mulai bingung.

“Kalau ada sih, yang biasa main sandiwara, drama, akting.”

“Tapi politisi bukan termasuk budayawan, lho pak.” Cak Manap buru-buru meralat.

“Kalau begitu sulit juga ya mendata budayawan di kampung kita?” kata Pak Carik garuk-garuk kepala.

“Gini lho, budayawan itu orang yang kerjanya di bidang kesenian, tapi yang keseniannya melestarikan kearifan lokal. Bukan kesenian yang digunakan untuk cari uang, ketenaran, apalagi hura-hura semata. Orang yang hobi bikin gerombolan ini-itu, touring kesana-kemari apalagi kalau mereka lewat orang disuruh minggir, berkesenian sambil memuja syahwat, kesurupan di atas panggung, menyembah berhala seni rupa, menjilati cat minyak, mandi setahun sekali, beternak kutu di rambutnya yang gimbal, menganggap sanggar lebih suci dari Baitul Maqdis, saya kira bukan budayawan karena kurang memberi santapan rohani kepada masyarakat dengan karyanya. Kalau setiap yang berambut gondrong dan tak mandi dianggap budayawan, maka setiap orang gila di jalan juga termasuk, pak.” Kata Firman panjang lebar. Pak Carik garuk-garuk kepala.

“Kalau ada orang menghabiskan usia dengan kelayapan, tidur di hutan, mbambung di jalanan, mempersembahkan hidup untuk sesuatu yang tak jelas, misalnya mengkoleksi peniti, ngalor-ngidul naik motor rongsokan, atau orang menghabiskan usia dengan hobi yang tak jelas kontribusinya dengan kemanusiaan, juga bukan termasuk budayawan. Hanya orang gila yang belum tahu cara memulainya.”

“Memangnya ada apa sih pak, kok ada sensus aneh-aneh begitu?” Cak Manap penasaran.

“Ini kan seperti sensus penyuluh agama kemarin. Pemerintah ingin tahu, ada berapa tokoh masyarakat di sebuah desa.”

“Disertifikasi ya?” Firman nyaut.

“Sepertinya ya.”

“Ada honornya, pak?”

“Kalau melihat program penyuluh agama kemarin, sepertinya ada gajinya juga.”

“O, kalau begitu ndak apa-apa wes, pak. Saya didata sebagai budayawan.”

“Tapi judul pendataanya bukan lagi sensus budayawan, pak.” Usul Cak Manap.

“Apa, Cak Manap?”

“Sensus wong sempel.”

Penulis : Abdur Rozaq

Filed in

Kyai, Cahaya dan Tangga Langit

Rasisme Bendera Batik