13:59 - Senin, 16 Juli 2018
Selasa, 14 Februari 2017 | 08:15

Romantisme Rondo Royal

Kalau bicara soal sejarah, Ustadz Karimun pakarnya. Terutama jika itu sejarah lokal. Koleksi kalender bekasnya saja, lengkap sejak tahun 1965 hingga sekarang. Barang kuno mulai yang ada kaitannya dengan peristiwa penting maupun bukan, lengkap di rumah Ustadz Karimun.

Lesung masih terawat. Bokor, kloso pandan, kastok kuno, udeng canggahnya, alu, lumpang, bahkan gilesan jagung dari batu masih ada. Apalagi keris, tumpukan. Kenapa Ustadz Karimun mengumpulkan barang rongsokan begitu, “agar tak lupa sejarah, tak lupa asal muasal dan melestarikan kearifan orang tua.” Katanya.

Nah kalau bulan Pebruari begini, Ustadz Karimun akan menyempat-nyempatkan diri prei pengajian demi jalan-jalan ke GOR, menonton acara pameran produk UKM. Seperti biasa, bersama Firman Murtado yang ada kecenderungan sedikit sempel dan menyukai “barang seni”.

Wira-wiri seperti setrika, keduanya ngasuh di sebuah stand penjual kopi. Hampir semua stand yang berdiri hanya menawarkan jajanan. Hanya sedikit yang menyuguhkan kerajinan atau seni rupa khas.

“Kok konsepnya tidak sama dari dulu ya?” seloroh Firman Murtado, memulai “tugasnya” sebagai tukang maiduh.

images (39)-650x400

“Ya, tapi tak apa-apa lah, mas. Daripada tidak ada.”

“Ya mending tidak ada kalau asal-asalan, ustadz.”

“Lho, ini iktikad baik harus kita hargai. Paling tidak buat hiburan. Kota kita ini kering kalau bicara soal sesuatu yang agak nyeni dan bersejarah. Ya ada reog, jaran kepang, tayub, tapi munculnya hanya setahun sekali begini. Kan lumayan pas pembukaan kemarin mereka ditanggap.”

“Harusnya sih lebih serius. Misalnya sekolah-sekolah diwajibkan pakai bahasa daerah seminggu sekali. Para pegawai diwajibkan pakai baju adat seminggu sekali, kesenian daerah dimasukkan kurikulum sekolah, didirikan pasar wisata, adakan lomba kesenian daerah, diadakan penghargaan terhadap seniman-seniman kesenian lokal. Seperti Jogja gitu lho, anak mudanya tak gagap main angklung atau pakai blangkon. Kita ini kan aneh, orang Eropa belajar mbatik, ndalang dan nyinden kita malah sok Korea. Wong kulit kita korep, hidung model klampok lugur kenek icak dan dedek tak sampai satu meter setengah, sok Korea atau sok Jepang.” Firman Murtdo gas pol, rem pol maiduh.

“Hmm, pikiran kita kok sama ya, cak?” jawab Ustdaz Karimun.

“Saya dari dulu ngidam ada penulis lokal yang menyusun riwayat Pasuruan ala Babad Tanah Jawi atau History of Java. Dibuatkan ensiklopedinya agar anak-anak muda kenal siapa itu Mbah Surga Surgi, Mbah Dharmoyudo, Mbak Sakerah, Mbah Semendi, Sayyid Sulaiman dan Syarifah Khodijah. Agar makin banyak orang tahu jika Mbah Slagah, Syarifah Khodijah Swadesi, Mbah Semendi Winongan itu wali comblang, wali yang biasa mendoakan para jomblo agar segera dapat pujaan hati. Kita juga perlu tahu bagaimana sepak terjang Mbah Untung Suropati dan Mbah Sakerah dalam ngesroh gerakan penjajah. Perlu tahu jika Pasuruan ini sudah sepuh karena sudah ada yang mbabat alas hanya selisih dua abad setelah kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad. Perlu tahu juga kalau Pasuruan ini nggene wong sakti. Arya Kamandanu itu bukan fiksi, sebab ari-arinya di kubur di Lumbang. Pesarehan Mei Shin, Tabib Wong, Lou Shi Shan ada di Winongan, Mpu Gandring itu asli Lumbang. Perlu tahu juga kalau Mbah Sakerah itu sakti—digeret sepur ngguyu, ditembak ngakak—adalah karena berkah toto kromo kepada gurunya, Mbah Toha di Manikrejo Rejoso. Kata siapa Mbah Sakerah “brangasan”? wong kalau beliau sowan, mulai masuk desa sang guru sudah ngesot karena takdim. Dan mbahnya para wali se-Jawa bahkan Nusantara, Syaikhona Kholil Bangkalan, pernah ngangsu kaweruh ke Sidogiri dan Bangil.”

“Tapi sayang, ustad, pameran hanya menjual jajanan seksi Kontol Kambing dan Rondo Royal.”

Penulis : Abdur Rozaq

Filed in

Rasisme Bendera Batik

Laka Lantas dan Logika Kuwalat Kucing