Racun Manis Itu Bernama Kopi

0
139

Pasuruan (wartabromo.com) – Sejak sekitar lima tahun terahir, trend minum kopi merambah hampir semua lapisan masyarakat Indonesia umumnya, di kota ini khususnya. Jika dulu kopi identik sebagai minuman para manula, kini digemari hampir oleh semua orang, termasuk anak-anak.

Trend minum kopi kian hari kian bergeser pada usia peminumnya yang kian belia. Pada dekade 70-an hingga 90-an, kopi lebih banyak diminum oleh masyarakat dewasa hingga para manula berusia 30 hingga 70 tahun. Pada dekade 2000-an, anak-anak muda mulai menggemarinya. Dan kini malah dikonsumsi oleh anak-anak pra remaja berusia 10 hingga 13 tahun. Menjamurnya warung-warung kopi dengan jaringan internet makin membuat marak anak-anak yang menyukai kopi.

Beberapa literatur menyebutkan data yang berbeda tentang sejarah kopi. Ada yang mengatakan kopi ditemukan pertama kali oleh masyarakat Afrika tanpa sengaja, yaitu ketika ternak yang mereka gembalakan tiba-tiba begitu agresif setelah memakan buah “aneh”.

Bukan hanya agresif, ternak-ternak itu juga disinyalir mengalami peningkatan libido. Masyarakat kemudian melacak buah “aneh” tersebut dan mencoba menkonsumsinya, dan mereka mengalami seperti apa yang terjadi pada ternak-ternak itu. Sejak saat itu kopi mulai dikonsumsi secara massal.

IMG-20170224-WA0108

Sumber kedua mengatakan jika kopi ditemukan oleh bangsa Arab. Data pendukungnya adalah salah satu jenis kopi yang oleh masyarakat diberi nama Arabika Robusta. Menurut sumber ini pula, seorang sufi terkenal, Hasan Al Bashri merasa kesulitan untuk menjaga vitalitas saat bermujahadah pada malam hari. Hingga suatu hari, ia bermimpi bertemu Rasulullah dan disarankan meminum buah Qohwah agar tahan kantuk dan bisa qiyamul lail dengan sempurna. Dan belakangan kita kenal buah Qohwah itu adalah kopi.

Dari Afrika, kopi bermigrasi ke jazirah Arab bersama mobilitas perdagangan bangsa Arab yang sangat tinggi. Diekspor juga ke Eropa. Dan ketika mampir di Italia, sebutan Mocha mulai digunakan orang. Masuknya kopi ke Indonesia tak luput dari program tanam paksa yang digalakkan pemerintah kolonial Belanda, hingga sampai kini kopi bisa kita nikmati.

Kembali pada  minum kopi, tak kurang dari dua tahun terahir, trend minum kopi begitu terasa di kota ini. Awalnya para pengelola warung kopi hanya menawarkan kenyamanan serta kebersahajaan kepada para pelanggan.

Ketika persaingan makin ketat karena dinilai bisnis warung kopi kian menjanjikan, mereka mulai menggunakan strategi perdagangan yang lebih beragam. Pernah digunakan strategi adu konsep. Dimana warung-warung kopi berlomba mendesain, memilih lokasi serta kebersahajaan pelayanan terhadap pelanggan. Setelah trend itu hampir seragam, satu dua pengelola warung kopi menerapkan strategi penjualan yang lebih “berani” dan “ganjil”.

Dipekerjakanlah gadis-gadis cantik atau wanita setengah baya sebagai pelayan. Ada juga yang melengkapi warung dengan perangkat audio-video, pelanggan bisa berkaraoke seraya menikmati kopi.

Setelah konsep itu pun dirasa menjamur dan perang “model warung kopi” makin tajam, apalagi kebetulan akses internet mulai menjadi kebutuhan vital masyarakat, kecerdasan bisnis para pengelola warung kopi segera memanfaatkannya. Orang kemudian tak perlu repot pergi ke warnet untuk berselancar di dunia maya karena seraya nongkrong di warung kopi pun, bisa “keliling dunia”. Yang terjadi selanjutnya adalah, warung kopi mana yang tercepat dan terbagus koneksi internetnya, akan menguasai pasar alias menjadi favorit pelanggan.

Pada tahap ini warung kopi sepertinya mulai kehilangan fungsinya sebagai “tempat suci”. Kehangatan interaksi sosial mulai terganggu manakala warung kopi menjadi tempat umum namun pada hakikatnya setiap orang tenggelam dalam wilayah privasi karena terlalu sibuk dengan gadget masing-masing.

Kehangatan interaksi sosial menjadi hambar karena gojlokan, tegur sapa hingga obrolan-obrolan ringan antar pelanggan semeja pun, menjadi mandeg.

Maka kemudian bisa dirumuskan antropolgi serta geografi warung kopi. Para mahasiswa-pelajar, aktivis, pegawai kantoran serta orang-orang berprofesi mewah akan memilih warung kopi ber-wifi bagus, sementara “rakyat kecil” seperti para tukangg becak, sopir dan kuli bangunan memilih warung kopi yang lebih bersahaja dan tanpa jaringan internet.

Yang perlu dikaji mungkin, ritual minum kopi ahirnya bergeser menjadi sebuah kegiatan berbahaya karena akan menyumbang generasi penderita penyakit komplikasi medis dan psikis. Anak-anak dan remaja yang sejak begitu dini kurang bisa mengontrol asupan gula, kafein dan nikotin, bisa ditebak bagaimana masa depan kesehatannya. Apalagi duduk berlama-lama, begadang secara rutin dan memaksakan retina bekerja keras memelototi gadget, bisa berakibat fatal bagi kesehatan ginjal, kandung kemih serta mata. Dan dari segi kesehatan psikis, penyakit malas, berhayal dan manja lebih mengerikan ancamannya.

Maka, mari ngopi dengan bijak. Imbangi dengan konsumsi air putih, olahraga, mengkonsumsi vitamin A untuk menjaga kesehatan mata secara berimbang. Jangan lupa juga jika warung kopi adalah tempat paling sakral untuk menjaga silaturrahmi bahkan merundingkan bisnis. (zaq/zaq)