Pengajian Seni Rupa (Apresiasi Gandheng Renteng #7)

0
133

“Nah, kan, terbukti kalau pak walikota itu sakti?” kata Firman Murtado sambil metingkrang di amben warung.

“Kok bisa?” Arif  heran

“Pak wali kota itu bisa mendengar omongan kita tempo hari pas mbambung di warung trotoar GOR.”

“Omongan yang mana?” Arif garuk-garuk kepala.

“Saya kan pernah usul supaya diadakan pameran seni rupa? Lha itu, di markas Yon Zipur sudah berlangsung.”

“Halah, itu sudah program tahunan, mas. Memangnya sampeyan siapa gaya tok omongan sampeyan di dengar pak walikota?”

“Ya nggak apa-apa lah kalau itu memang bukan karena usulan saya. Yang penting ada pameran lukisan dan seni instalasi di sana.”

“Memangnya apa sih pentingnya pameran seperti itu?” celetuk Mas Bambang seraya nggayemi rondo royal.

IMG-20170226-WA0054

“Ya untuk memperbaiki mental kita, mas.”Firman Murtado mendelik. Ada dendam tujuh turunan memang antara Firman Murtado dengan orang-orang yang kalau menulis namanya disertai NIP. Entah kenapa.

“Masa lukisan bisa memperbaiki ahlak? Yang lumrah kan pengajian, tahlilah atau nyetel MP3 Kiai Anwar Zahid?”

“Ya karena kita lebih kerasan di poskamling daripada di musholla. Karena kita panas kalau mendengar pegajian atau ikut istighatsah, pameran seni begini bisa dijadikan alternatif, mas.” Arif mbrosot. Mundur

“Aku ya heran, kadang lukisannya nggak ketemu bentuke, harganya sampai ratusan juta rupiah. Kan lebih baik dibelikan mobil atau sawah?”

“Gimana ngomongnya ya mas? Menjelaskan estetika seni sama sampeyan ini lebih sulit daripada menjelaskan apa itu multy level marketing kepada orang Somalia sana.”

“Jangan ngeyek sampeyan!” Mas Bambang tersinggung.

“Nggak ngenyek, saya hanya jujur saja sama sempeyan.”

“Kalau mengigat sejarah, mendidik ahlak masyarakat memang bisa melalui seni. Dulu para sunan Wali Songo kan begitu?” ujar Gus Hafidz, mencoba melerai.

“Ada yang bikin tembang, wayang, gending. Bahkan dulinan anak-anak saja, mengandung pesan moral. Kebanyakan seniman sekarang kan sudah tidak seperti itu. Bikin lagu, film, sinetron, isinya malah merusak.”

“Kalau tukang sinetron itu bukan seniman, gus.” Protes Firman Murtado.

“Mereka itu cuma pengamen yang bernasib mujur karena ketemu sama pemilik stasiun televisi yang punya deal dengan Dajjal.  Lain dengan pelukis, mereka ini seniman asli karena karya mereka –selain menyuguhkan estetika—juga menyampaikan pesan moral. Minimal kritik sosial.”

“Tapi kalau lukisannya abstark, mau mengerti bagaimana pesan moralnya?” Mas Bambang masih membela diri.

“Makanya harus sering baca buku, mas. Kalau buka internet sesekali lah, buka situs-situs yang mengandung kecerdasan. Jangan sosmed saja. Kalau tidak upload hoax ya mengunggah foto makanan. Sudah jaringan internetnya ngampung sama kantor, kerja juga Cuma sosmed an melulu.”

“Memang tidak semua orang melek seni, Mas Firman. Karena seni itu memang sakral, gaib dan malati. Kita harus berterima kasih kepada bapak walikota yang sudah repot-repot mengadakan pameran seni rupa, meski pengunjungnya tak seramai pengunjung dermulen atau pasar malam.”

“Dan sampeyan harus bayar nadzar. Katanya mau tumpengan kalau di kota ini ada pameran seni rupa.” Celetuk Arif cengengesan.

Penulis : Abdur Rozaq/wartabromo