Rahasia Menjadi Super Star Sosmed

0
4

Sudah menjadi rahasia umum jika hampir 90 persen penduduk Indonesia adalah pengguna aktif berbagai sosial media. Mark Zuckerberg pemilik situs Facebook, sampai mengadakan lawatan khusus untuk membicarakan kontrak bisnis dengan pemerintah Indonesia, karena sebagian besar pengguna setia situs miliknya adalah kita.

Di lapangan, memang tidak dipungkiri jika pengguna aktif sosial media di Indonesia, datang dari berbagai kalangan. Dengan semakin mudah serta murahnya masyarakat mendapatkan jaringan internet, rendahnya efektivitas waktu serta tingginya angka pengangguran, Indonesia menempati rangking kedua dengan jumlah penduduk yang aktif menggunakan situs jejaring sosial.

Dari berbagai situs serta aplikasi sosial media yang ada, beberapa situs atau aplikasi sosial media menjadi pilihan banyak orang. Di antaranya adalah Facebook, BBM dan Whats App. Twitter sepertinya hanya digemari oleh “kalangan atas” atau orang-orang beken karena aplikasi situs tersebut terkesan lebih “introvert”. Menyebut teman di dunia maya saja sebagai followers atau pengikut.

IMG-20170224-WA0005

Nah, karena sosial media sudah menjadi gaya hidup bahkan bagi sebagian orang dimanfaatkan dengan lebih spesifik seperti berkampanye, menjual produk atau membangun eksistensi, menggunakan sosial media sepertinya perlu memperhatikan “kode etik”.

Bergaul di dunia maya, tak jauh berbeda dengan bergaul di dunia nyata. Masih diperlukan komunikasi serta interaksi yang sehat. Sebab jika tidak, seseorang akan “dikucilkan” atau paling tidak “kehadirannya” dianggap kurang menyenangkan. Apalagi setelah undang-undang ITE ditetapkan, setiap postingan serta umpan balik komunikasi di sosmed perlu diperhatikan dengan cermat. Sudah banyak kasus yang membawa seorang netizen ke jerat hukum akibat kecerobohannya dalam berkomunikasi.

Nidhom Fauzi, seorang budayawan asal Ponorogo kelahiran Pasuruan pernah memberikan beberapa trik untuk menjadi “super star” di dunia maya. Dan itu memang ia buktikan melalui postingan serta umpan balik di akun Facebook-nya. Kita bisa mengintip postingan-postingan penyair itu di akunnya yang ia beri nama N Fauzi Syafi’i (foto profil balita dengan back ground kelambu biru).

Pertama, jangan pernah menghujat atau mengkritik. Sebab seperti yang dikatakan Dale Carnegie, siapa pun lebih menyukai pujian daripada kritik. Jika terpaksa harus mengkritik, sebaiknya kita gunakan sindiran atau majas. “Mencubit sambil mengajaknya tertawa” kata Nidhom Fauzi.

Kedua, jangan sok pintar apalagi jika apa yang kita bagikan hanyalah hasil copy-paste. Di era informasi ini setiap orang bisa mendapat informasi kapan dan dimana saja secara akurat. Jadi jika kita sok mengetahui berbagai hal sedangkan informasi yang kita bagikan tidak valid, itu merugikan “prestise” kita dalam pergaulan di dunia maya.

Ketiga, jangan menggurui. Sebab alter ego kebanyakan orang lebih suka menolak jika dikhotbahi, apalagi jika postingannya panjang lebar seperti naskah disertasi. Jika harus memposting “nasehat”,  kita pilih saja meme atau gambar kata yang singkat, padat, menggelitik dan tepat sasaran.(zaq/zaq)