15:58 - Tuesday, 25 July 2017
Tuesday, 14 March 2017 | 08:10

The City of Badokans


Datang ke warung, Mas Bambang berjalan pelan-pelan seperti pelayanan publik. Saat duduk pun milih amben yang rata sampai menggusur Cak Sudar segala. Dari ekspresi wajahnya, mungkin ambeyen Mas Bambang kumat. Mas Bambang memang punya banyak penyakit karena selama 20 tahun, kerjanya lebih banyak duduk—terutama ngopi saat jam kerja. Parahnya,  ia juga termasuk manusia jeratah. Selama dua dasawarsa lebih Mas Bambang jarang berkeringat, makan gaji katarak—setengah buta—dan ahli wisata kuliner. Makanya, masih 45 tahun sudah nggrik-nggrik en, komplikasi.

“Kok sepertinya kurang sehat, mas?” tanya Firman Murtado basa-basi.

“Ya, cak. Ambeyen kumat. Gara-gara kemarin makan durian kebanyakan.”

“Wah, sampeyan apa dikedeweni, kalau ngajak saya sama Cak Manap, aman. He he he.”

“Panen apa gimana, mas?” sela Cak Manap.

“Ndak, ke festival durian kemarin.” Jawab Mas Bambang seraya memijit-mijit lututnya.

“Lho lututnya kenapa?” Firman Murtado pura-pura tak tahu.

“Sepertinya kolesterol naik.” Ujar Mas Bambang seraya memesan teh jahe dengan sedikit gula.

“Perlu banyak puasa itu, Mas.” saran Gus Hafidz.

makanan

“Waduh, kalau puasa saya ndak sanggup, gus. Wong kalau Ramadhan kepeksan, kok.”

“Ndak usah puasa penuh. Puasa mutih saja. Tetap makan, minum, tapi hanya nasi dan air putih.”

“Berarti ndak ngopi?” tanya Mas Bambang.

“Prei sementara. Dari pada terlambat sampai stroke?”

“Ya juga, ya? Tapi apa sanggup ndak ngopi di Warung Cak Manap? Soalnya godaan warung Cak Manap ini lebih maut dari godaan rondo. Ndak ngopi setengah hari bingung seperti kena lintrik.”

“Kita ini memang masyarakat jeratah, mas. Coba kalau kita jalan-jalan, makanan apa yang ndak ada?”

“Betul, gus. Sepertinya ada satu lagi julukan buat kota ini?” kata Firman.

“Kota apa, mas?”

“Kota badokan, the city of  badokans”

“Kok bisa?” Mas Bambang tak terima.

“Lha seperti sampeyan lihat, sepanjang jalan di penjuru kota ada berapa juta warung? Makanan apa yang tidak dijual di kota ini? Mulai yang wajar sampai aneh-aneh. Mulai yang tradisional sampai yang banyak mengandung racun. Namanya juga nggilani, mie Dajjal, mie Iblis, soto Yakjuj Makjuj, bakso Santet, krupuk Tuyul, es Belatung, dawet Sundel Bolong, rujak Kancut, sego Jerangkong. Pembeli jadi penasaran meski setelah marung sumpah-sumpah ndak mau beli lagi.”

“He he, pikiran sampeyan kok sama dengan pikiran saya, mas Firman?” tanya Gus Hafidz.

“Iya ta, gus?” Cak Manap yang nyauti.

“Ya. Dari dulu saya agak heran dengan masyarakat kita ini. Selera makan kita itu lho, kok gawat temen ya? Pemerintah sampai bikin program-program khusus dalam rangka menyuburkan hobi makan kita. Coba hitung, ada berapa program dan festival yang ada sangkut pautnya dengan panganan? Program kulakan apel, festival durian, pembangunan sentra UKM kuliner, festival makan ini, minum itu? Media lokal pun ikut-ikutan media nasional suka memberitakan acara makan dan minum.”

“Itu kan dalam rangka mempromosikan kekayaan kuliner dan produk kita, gus?” protes Mas Bambang.

“Benar, mas. Saya juga setuju asal seimbang dengan festival lain yang lebih membikin kenyang spiritualitas, humanisme, nasionalisme, kearifan lokal, kebudayaan, kesenian dan pendidikan daripada kenyang perut.” Sanggah Gus Hafidz.

“Bolehlah kita adakan festival makanan, tapi lain waktu kita adakan juga festival untuk rohani dan pemikiran, Misalnya, festival bersih-bersih sungai, festival guru swasta dengan gaji termurah, festival PNS paling disiplin, festival pelayan publik paling gati dan cak-cek, festival murid berahlakuk karimah, festival kampung bersih narkoba, festival balita cerdas, bazar buku murah, festival baca kitab kuning, festival kompak halau begal, festival nambal jalan berlubang, festival tidak membuang sampah ke sungai, festival desa hijau apalagi sampai festival sholat berjamaah.”

“Sebagian sudah kita laksanakan, kok, gus.” Ujar Mas Bambang.

“Sebagian besar kan belum?” sanggah Gus Hafidz.

“Kenapa masyarakat kita kok banyak yang sakit, masih muda sudah komplikasi? Ya kita apa jeratah. Apa saja kita untal. Dampaknya luas. Makin jeratah kita, masyarakat usia produktif makin banyak yang sakit. Jumlah janda meningkat, kejahatan makin marak, perzinahan makin usum. Kanjeng Nabi bilang, hampir segala jenis penyakit itu perut sumbernya. Penyakit medis maupun penyakit peradaban, kalau kita runut asal –muasalnya dari perut.”

“Interupsi, gus. Apa hubungannya festival panganan dengan peningkatan jumlah janda?” ujar Firman Murtado.

“Doyan makan menyebabkan para istri menjadikan suaminya sebagai pekerja rodi. Suami yang tak sanggup, bisa digugat di pengadilan, atau bisa juga istri menambah penghasilan dengan menjalin asmara terlarang. Ibu-ibu yang gembrot juga bisa menyebabkan para suami suka aneh-aneh.

Biar senam seminggu lima kali, diet atau minum obat, kalau ngemil jalan terus ya tetap seperti merek sarung alias Gajah Duduk. Bahkan di masyarakat sudah berkembang animo bahwa suami idaman itu ya suami yang rajin mengajak keluarganya meningkatkan kadar kolesterol, lemak, gula darah serta toksin. Sedangkan suami yang tidak bisa seperti itu terancam pegat. Lha kalau sudah begitu, jumlah janda apa tidak makin meningkat.”

“Ya, benar juga, ya?” gumam Cak Manap.

Penulis : Abdur Rozaq/wartabromo

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Balada Burung Janda

Selamat Jalan Abah!