23:35 - Wednesday, 26 July 2017
Wednesday, 15 March 2017 | 12:23

Selamat Jalan Abah!


“Kalau dipikir-pikir, dunia ini sudah stroke stadium lima sekarang.” Gumam Gus Hafidz, seakan berkata pada dirinya sendiri. Cak Manap yang mendengarnya langsung nyaut “kok bisa, gus?”

“Lha tanda kematiannya makin lama makin gamblang, cak. Orang-orang baik makin tak kerasan. Lahir, memerankan kekhalifahannya, lalu buru-buru minta jemput sama Gusti Allah.”

“Iya ya, gus?” jawab Firman Murtado.

“Jadi, kiamat bisa datang kapan saja, ya?” Cak Manap bergidik.

“Ya, cak. Meski BMKG atau SAR selalu berjaga-jaga, kiamat bisa-bisa datang hari ini juga. Sebab tanda-tandanya sudah muncul semua.” Timpal Gus Hafidz.

“Tapi, Yakjuj-Makjuj, Dajjal dan Nabi Isa kan belum turun, gus?” Cak Manap belum siap rupanya.

“Yang hakiki memang belum, tapi Yakjuj-Makjuj dan Dajjal imitasi kan sudah lama keliweran? Jangan-jangan kita sendiri, malah.”

“Apa tanda kiamat yang paling akurat sekarang, gus?” ujar Firman Murtado.

“Ya itu tadi, orang-orang baik sudah tak kerasan di dunia, lekas-lekas minta jemput karena dunia sudah terlalu mengerikan. Yang terahir, abah kita semua, Wak Kaji Ruslan sang pendekar itu.”

“Jadi, Wak Kaji itu wali?” Cak Manap penasaran.

“La ya’riful wali illal wali, cak. Saya sama sekali tak bakat jadi wali, maka saya tidak tahu apakah Wak Kaji Ruslan itu wali.” Jelas Gus Hafidz.

“Yang jelas, Wak Kaji Ruslan itu kaji kran. Kaji yang berfungsi sebagai kran penyalur karunia Gusti Allah. Wak Kaji kita ini, rupanya ingin meniru ke-haji-an para haji mabrur zaman Kanjeng Nabi Muhammad. Seperti Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq,  Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan serta sahabat Abdurrahman bin Auf.”

Para peminum kopi itu serius menyimak pengajian multy level marketing Gus Hafidz. Karena surau selalu sepi kalau rutinan pengajian umum, Gus Hafidz turun gelanggang, door to door dari warung kopi ke warung kopi lainnya. Dari satu poskamling ke poskamling lainnya “menjajakan” pencerahan. Mengislamkan orang Islam yang masih saja mu’allaf meski bersyahadat sejak cuplak udel.

“Kita baca dalam sejarah, para Wak Kaji zaman Kanjeng Nabi selalu iri kalau ada yang menang tender kavling sorga. Mereka jor-joran, panas-panasan kalau ada lelang ridlo Gusti Allah. Kalau Kanjeng Nabi mengumumkan lelang tender proyek kemanusiaan, semua rebutan, sikut-sikutan, panas-panasan ingin menang. Saat Kanjeng Nabi butuh donatur untuk membiayai proyek penyebaran hidayah, Sayyidina Umar bin Khattab langsung nyaut “saya infak tegal kurma lima hektar!”. Sayyidina Usman bin Affan yang memang milyarder, langsung mundaki “saya infak seribu onta, lima hektar tegal kurma.” Sayyidinna Abu Bakar Ash Shiddiq panas. Langsung saja beliau infakkan seluruh hartanya termasuk rumah, tegal kurma, perabotan sampai hanya tersisa cowek. Lha Wak Kaji Ruslan ini, sepertinya ingin meniru mereka itu.”

kiai soleh ngalah

Mas Bambang pura-pura tidak dengar cerita Gus Hafidz. Mungkin takut menjadi cibiran, Mas Bambang makin sibuk nggayemi rondo royal yang masih mengepul di piring.

“Wak Kaji makin banyak di negara kita ini. Makin lama makin banyak orang yang mampu rekreasi ke Makkah. Naik pesawat, keliling Arab, mencari tasbih, celak, siwak, lalu pulang pakai kopyah kaji. Perkara meditnya makin menjadi. Zakat eman. Takmir masjid sampai ngamen di pinggir jalan. Pesantren menyebar kotak amal di warung, toko, depot hingga pom bensin. Guru-guru ngaji menderita busung lapar. Pesantren mengumpulkan rosokan buat bayar listrik, para wak kaji kita merasa bukan tanggung jawabnya. Para wak kaji terlalu sibuk nyelengi buat pergi haji lagi. Sampai-sampai kuota kehabisan. Saking banyaknya orang yang daftar rekreasi ke Makkah, daftar saja menunggu puluhan tahun.”

“Wak Kaji Ruslan termasuk wak kaji yang cerdas. Naik haji ke Makkahnya sekali atau dua kali saja. Selebihnya, Wak Kaji Kran ini menunaikan haji di Indonesia. Wukufnya di tengah-tengah kaum dlua’fa’, thowafnya dari satu rumah ke rumah para yatim, janda—tua–, panitia pembangunan masjid, pengurus pesantren. Melempar jumrahnya dengan gebokan uang, beras, semen, pasir atau program pemberdayaan ekonomi umat. Sebab setan yang paling setan di zaman ini, adalah kemiskinan. Tahallulnya mencukur limbah rejeki yang menempel pada kepribadiannya. Dibuang melalui kota-kotak amal, melalui amplop kosong para penggali dana pembangunan surau atau pesantren. Makanya, kita sangat kehilangan jika wak kaji kran yang mengucurkan karunia Allah ke sekitarnya seperti beliau ini buru-buru minta jemput Gusti Allah.” Ujar Gus Hafidz.

“Ila ruhi Wak Kaji Ruslan, al faaaatihah!” lanjut Gus Hafidz disambut bacaan fatihah para peminum kopi itu.

*Tulisan di atas merupakan anekdot semata.Tidak ada maksud untuk menyinggung siapapun dan bertujuan untuk hiburan dan hikmah.

Segenap keluarga besar redaksi wartabromo mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya HM. Roeslan. Semoga Amal Baik dan Ibadah Beliau diterima di sisi-Nya. Amin

Penulis : Abdurrozaq/wartabromo

Komentar Anda

Komentar

Filed in

The City of Badokans

Mbah Hasyim…..