04:12 - Minggu, 22 Oktober 2017
Selasa, 28 Maret 2017 | 19:17

Ekspresikan Nyepi Dalam Sketsa Kopi

Kraksaan (wartabromo.com) – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, dimanfaatkan sejumlah seniman lukis di dengan menggelar sketsa perayaan nyepi massal. Uniknya, para seniman menggunakan ampas kopi sebagai bahan dasar. Selain sebagai bentuk toleransi, aksi ini menjadi wahana edukasi bagi warga sekitar.

Bertempat di Alun – alun Kota Kraksaan di jalan Panglima Sudirman,sejumlah seniman lukis yang tergabung dalam Komunitas Derap Lintang Putih, menyampaikan ekspresi toleransi dalam beragama melalui sketsa lukis, Selasa (28/3/2017) sore.

Uniknya, bahan dasar yang digunakan oleh seniman mayoritas muslim ini, hanya ampas kopi dan kertas putih kosong. Dengan cekatan, mereka pun mensketsa nuansa perayaan nyepi. Dari objek abstrak hingga ogoh-ogoh.

IMG-20170328-WA0112

Tidak mudah bagi para seniman menggambarkan perayaan Nyepi. Selain mereka bukan penganut agama Hindu, juga karena keterbatasan untuk dapat bertemu langsung dengan objeknya.

Melalui sketsa ini, para seniman ingin menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama. Serta ucapan selamat merayakan Nyepi bagi umat yang tengah merayakan. Selain itu, sketsa nyepi di alam terbuka menjadi wahana edukasi gratis bagi warga yang menyaksikan.

“Menyampaikan bahwa dalam Nyepi ini,ingin mengekspresikan apa sih arti nyepi itu secara abstrak secara ekspresionisnya. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kerukunan beragama itu sangat penting dalam berbangsa dan bernegara,” ujar salah satu seniman lukis Indah Sari.

Benar saja, aksi seniman lukis ini mendapat respon masyarakat. Mereka mendatangi tempat berkumpul mereka, untuk melihat langsung gambar skesta perayaan nyepi, tidak terkecuali para pelajar.

“Kita bisa mengetahui bahwa melukis itu tidak hanya menggunakan krayon dan cat cair, ternyata juga bisa menggunakan kopi, terus saya juga mengetahui cara membuatnya. Biasanya di sekolah, sekarang tahu bis ditempat umum, pengen belajar,” kata Nur Lailiyah, pelajar asal Paiton.

Hasil karya lukis dipatok dengan kisaran Rp. 100 hingga 300 ribu per lembar. Rencananya, puluhan karya lukis akan dilelang dalam pameran satu bulan mendatang. Dimana hasil penjualan sebagiannya didonasikan untuk pembangunan tempat peribadatan umat Hindu. (saw/saw)

Komentar Anda

Komentar

Hunian Hotel Bromo Capai 90 Persen Saat Nyepi

Jalannya Masih Rusak, Warga Dringu Kembali Blokade Jalan