04:20 - Minggu, 22 Oktober 2017
Jumat, 31 Maret 2017 | 09:31

Pelayanan Lamban, Sawuri Lemah Kuburan!

Dibentuknya densus saber pungli kemarin, rupanya membuat banyak pelayan publik yang dendam terhadap rakyat. Buktinya, mereka kompak mengadakan “gerakan ngambul nasional”. Purik, ndak mau melayani masyarakat atau paling tidak, semakin mempersulit proses pelayanan publik.

Pungli dilarang, mereka membalas dengan mempersulit proses pelayanan. Lama-lama masyarakat kan jenuh? Bolak-balik ke sebuah kantor hanya dalam rangka meminta tanda tangan seorang kepala dinas yang setiap kali ditemui, pasti sedang rapat. Ini bukan mengada-ngada, sebab Sarep sudah misuh-misuh di warung Cak Manap madul sama Firman Murtado.

“Sudah 756 kali saya bolak-balik, cak. Belum selesai juga.”

“Kantor mana?”

“Kantor dinas minta izin usaha” katanya seraya misuh-misuh.

“Kira-kira apa kendalanya, kok sampai bisa begitu?” timpal Gus Hafidz, ikut nimbrung.

“Ada saja, gus. Lima hari yang lalu, saya sudah menyerahkan berkas-berkas. Diperiksa sama resepsionis, katanya sudah lengkap. Saya serahkan data, saya tunggu sampai seminggu belum selesai juga. Saya konfirmasi, katanya masih ada data yang kurang. Lha kemarin meriksa berkasnya bagaimana? Wong sudah bilang lengkap, tinggal nunggu antrian untuk diproses, sekarang malah bilang ada berkas yang belum lengkap?” sekali lagi Sarep misuh, tak peduli di depan Gus Hafidz.

“Kurang data apa lagi, cak?”

images (58)_1490925946895

“Lha ini yang bikin kudu misuh. Saya disuruh minta surat keterengan dari kepala desa sama camat, padahal sebelumnya ndak ada petunjuk seperti itu. Bahkan resepsionis –yang saat saya tanya utek-utek HP—bilang berkas sudah lengkap. Maka terpaksa saya harus ke kantor kepala desa. Di sana, kepala desa sedang rapat. Makanya, minta surat keterangan kepala desa pun saya harus menunggu tiga hari. Selesai dengan kepala desa, saya harus minta surat keterangan pak camat. Pak Camat sedang study banding. Saya di PHP sama asisten, lima hari kemudian surat keterangan baru selesai.” Sekali lagi Sarep misuh.

“Selesai sudah surat keterangan dari kepala desa dan camat, saya serahkan lagi berkas sama resepsionis “dinas minta izin usaha”, sepi. Padahal bukan hari libur. Saya sanggong sampai jam tiga sore, resepsionis yang sebagian besar jam kerjanya untuk main HP itu baru datang, dari ngantar istri buwuh katanya. Saya serahkan berkas yang saya lengkapi seraya misuh-misuh itu, saya suruh periksa lagi, katanya lengkap. Lalu saya tanya kapan selesai surat minta izin usaha bos saya, ndak tahu, katanya. Kepala “dinas minta izin usaha” sedang nggilir istri mudanya, ndak tahu kapan ngantor. Saya sudah kepingin gelut sebenarnya, tapi saya empet. Takut mereka makin dendam dan berkas saya diterlantarkan.” Firman Murtado ngegem tangannya. Seperti mau njotos bongkotan tiang warung Cak Manap.

“Saya pulang. Garapan terbengkalai. Jeragan ngamuk-ngamuk. Istri ngambul karena acara buwuh ndak jadi. Saya minta nomor HP kepala “dinas minta izin usaha” sama resepsionis, ndak dikasih. Tanya sana-sini, ahirnya saya dapatkan nomor HP kepala “dinas minta izin usaha”. Saya telepon ndak diangkat. Saya sms, tanya kapan berkas selesai, katanya hari ini. Tapi barusan saya parani, resepsionis bilang belum selesai karena kepala “dinas minta izin usaha” sedang keluar, mengantar istrinya beli duren.” Sekali lagi Sarep misuh.

“Stres saya, cak. Barusan saya terpaksa madul sama Pak M, anggota DPR yang saya suksesan pas pemilu dulu, Pak M ndak bisa menegur karena “dinas minta izin usaha” langsung di bawah kementerian dinas “minta izin usaha” pusat. Menurut sampeyan bagaimana Cak Firman?” ujar Sarep.

“Ngomong apik-apik an sudah?” tanya Firman Murtado.

“Sudah. Meski resepsionis mrengut-mrengut dan menjawab pertanyaan saya sambil utek-utek HP, saya masih sopan karena takut mereka akan mempersulit saya.”

“Besok sampeyan ke sana lagi, kalau masih mbulet, gebrak mejanya.”

“Kalau marah atau saya –makin—dipersulit, gimana?”

“Ingatkan kalau mereka itu kuli, sampeyan jeragannya. Ingatkan kalau mereka digaji dari pajak yang kita bayar. Kalau ngeyel, bilang kalau gaji buta itu ndak barokah.”

“Ndak berani, cak.”

“Kenapa ndak berani?” bentak Firman Murtado.

“Saya masih banyak keperluan sama mereka. Jeragan saya sudah kapok ngurus SIUP sendiri. Makanya saya yang disuruh. Kalau mereka dendam dan –lebih—mempersulit saya, saya yang dipaiduh jeragan. Sebab CV kami sudah  di-warning agar segera bikin SIUP.”

“Lho, sudah lama berdiri kok baru bikin SIUP, sih?” timpal Gus Hafidz.

“Sudah setahun lalu ngurus SIUP, gus. Tapi ya itu tadi mbulet. Sampai jeragan saya aras-arasen dan menyuruh saya yang mengurusnya.”

“Pemerintah kita ini repot ya? Ada rakyat mau mendirikan usaha dipersulit sama urusan dokumen. Harus mengurus ini-itu, tapi layanannya mbulet. Kalau di kota lain ada slogan pelayanan satu meja, di kota kita malah pelayanan 756 meja.” Gumam Gus Hafidz.

“Harusnya kan, pemerintah gembira kalau ada rakyat mau bikin usaha karena secara mandiri ikut membangun perekonomian mikro. Ndak usah repot-repot kasih utangan dana, permudah saja kan sudah enak?” tambah Gus Hafidz.

“Di negara kita ini, orang mau jualan rukem saja harus punya izin. Mau buka warung rujak harus bikin IMB, SIUP serta entah apa lagi. Lha kalau begini terus, bagaimana perekonomian rakyat mau maju? Kalau sama investor asing yang kapitalis, gatinya bukan main. Tapi giliran ada rakyat kecil mau jual sandal saja, harus punya izin macam-macam. Seakan persyaratan bikin usaha lebih sulit dari persyaratan masuk sorga.”

“Kita madul wartawan saja, cak Sarep.” Ujar Firman Murtado.

“Jangan, mas. Nanti makin dipersulit” ujar Sarep, gemetar.

“Sudah saya teleponkan kawan-kawan wartawan. Biar diliput, kalau ramai di media kan malu mereka.”

“Waduh! Jangan, mas.”

“Omongan sampeyan tadi sudah saya rekam. Saya unggah di sosial media biar netizen ngamuk.”

“Waduh, gawat.”

“Kalau sampeyan dipersulit, kawan-kawan LSM saya suruh usut. Kita bikin pitenah besar-besaran.” Sarep pucet.

“Kalau kawan-kawan LSM ndak mau karena ndak sumbut?” timpal Gus Hafidz.

“Kita sawuri lemah kuburan, biar ambeyen semua.”

Penulis : Abdur Rozaq

Komentar Anda

Komentar

Filed in

“Lebih Baik Mengasuh Anak Jalanan Daripada Pelihara Perkutut”

Tirakat Rejeb