12:35 - Sabtu, 25 November 2017
Jumat, 7 April 2017 | 11:19

Sang Jeragan Layangan Langit

Bukan main gembiranya Firman Murtado melihat Saepul, teman lamanya. Berkali-kali ia berharap bukan mimpi, karena dengaren hidup menghadiahkan hal terlalu manis buatnya. Dipeluknya pria tak ganteng itu. Andai tak khawatir disangka macam-macam, ingin ia ciumi lelaki tambun dan pincang tersebut. Tak peduli baunya kecut, kaos bergambar calegnya sudah lebus dan  wajahnya bleketek oleh debu dan keringat. Kegembiraan yang membuncah di hati kecut.

FirmanMurtado, berubah menjadi euphoria seperti tim sukses kepala desa ketika jagonya menang. Tak terpikir sang tim sukses kelak akan ditendang. Firman Murtado dan Saepul adalah konco plek, sama-sama orang kalah, sama-sama korban berbagai ketimpangan terencana dan sama-sama belum dadi wong. Bedanya, Saepul menertawai hidup, Firman Murtado gulung-gulung menyesalinya.

“Assalamu alaikum!” teriak Firman Murtado menyambut Saepul yang pendek akibat kesalahan menteri kesehatan yang tak memperbaiki gizi orang republik Indonesia. Tak pernah Firman Murtado segati itu menyambut kedatangan orang. Caleg blusukan, calon bupati sok akrab keluyuran mencari calon pemilih, apalagi tim sukses partai, tak pernah direken oleh Firman Murtado. Apalagi –dulu pernah ada—artis sinetron yang ujug-ujug jumpa fans di kotanya, si artislah yang ia haruskan meminta foto bersama dan tanda tangan darinya. Firman Murtado ndak omes atau ndak suka dengan tokoh yang tak pernah berbuat apa-apa terhadap kemanusiaan, tak becus berkarya, atau berkarya tapi karyanya merusak moral seperti para artis Indonesia.

IMG-20170329-WA0087
Lama tak terdengar kabarnya, Saepul kini seperti jagah duduk. Tambun tak alang-kepalang. Perutnya buncit seakan pernah makan uang pungli. Motornya baru, dikasih geronjong berisi, –sepertinya—rancangan layangan dari bambu.
“Apa ini?” tanya Firman Murtado semangat.
“Rancangan layang-layang dari bambu” ujar Saepul, lalu cengengesan.
“Kok banyak?” Firman ngurus.
“Ya, habis kulakan. Ambil dari para perajin di Sekarputih, Gondang Wetan dan Rejoso” sekali lagi Saepul cengengesan.
“Jadi jeragan, sampeyan?”
“He he, kecil-kecilan.”
“Asem. Jangan ikut-ikut kaya seperti konco lainnya, lho. Nanti hanya tinggal aku yang ndak kaya. Kalau sampeyan kaya, aku sungkan jadi konco plek sampeyan” ujar Firman Murtado.
“Sampeyan ini seperti pengurus partai saja, ndak suka kalau orang lain maju.” Keduanya ngakak.
“Masalahnya aku sudah kena bastu, kena kutuk ndak akan kaya hingga pensiun karena terlanjur salah pilih profesi.” Kelakar Firman Murtado.
“Lho, masih mencerdaskan bangsa?”

“Ya, masih di PT Masa Depan Suram, sebagai pekerja rodi, biar bos besar tambah makmur dari dana program pencerdasan bangsa.”

“Ah, hidup itu sawang-sinawang, cak. Sampeyan lihat aku enak, aku malah iri lihat sampeyan. Sampeyan harusnya sujud syukur karena sampeyan jangkep. Lha aku?….”ujar Saepul seraya menatap kakinya yang sudah diamputasi. Saepul adalah korban kebohongan iklan di televisi yang mengatakan mie instant itu lezat dan bergizi. Saepul lalu kecanduan sebuah merek mie instan yang pemiliknya mencari makan sekaligus membinasakan rakyat Indonesia. Entah orang mana, bikin pabrik di Indonesia, mengeruk bahan baku di Indonesia, kuli, pembeli dan yang dibinasakan juga orang Indonesia. Di negaranya sana ia ongkang-ongkang kaki seraya dipijiti perempuan sewaan, menerima dolar dari hasil memproduksi mie instant beracun itu. Saepul adalah satu dari jutaan rakyat Indonesia yang dibinasakan oleh produk-produk beracun lainnya. Tulang kakinya kena kanker, terpaksa harus diamputasi.

“Wes Alhamdulillah, cak. Bisa buat ngopi, beli rokok dan nyelengi sedikit-sedikit. Barangkali ada yang sudi kuajak nikah.” Saepul juga korban kapitalisme yang tiap saat menayangkan iklan di televisi. Meski jumlah prawan kasep dan rondo kian hari makin menggiriskan, jarang sekali yang bersedia diajak menikah oleh orang-orang belum kaya seperti Saepul.

“Sedikit-sedikit juga bantu dulur-dulur perajin rancangan layangan. Tak kulak, yang butuh bon-bonan ya kuberi. Yang kesulitan menjual rancangan layangannya tak datangi, Alhamdulillah bisa berbagi rejeki sedikit –sedikit. Lumayan bisa buat nempur beras.” Firman Murtado mbrebes mili menangisi dirinya sendiri. Bagaimana dirinya yang gagah masih ngeriwuki mertuanya, sementara Saepul yang kakinya sudah diamputasi malah bisa memberi harapan terhadap para perajin rancangan layangan? Siapakah yang bertanggungjawab, orang di dinas pencerdasan bangsa atau the big boss PT. Pendidikan?

“Bagaimana awalnya, kok tiba-tiba sampeyan jadi jeragan begini?” tanya Firman Murtado mengorek.

“Yah, daripada ibu-ibu rasan-rasan tonggo atau lihat sinetron yang ndak jelas itu, tak tawari mereka membuat kerajinan rancangan layangan dari bambu. Tak utangi bahan bakunya, tak kulak hasilnya, alhamdulillah katanya banyak yang tertolong buat nempur beras.”

“Wah, sampeyan layak mendapat penghargaan karena—tidak seperti jeragan saya—melakukan terobosan ketahanan ekonomi rakyat kecil. Sampeyan ini membikin saya malu karena saya masih menjadi benalu. Saya, adalah pahlawan pencerdas bangsa tapi pecundang bagi keluarga. Saya belum bisa berbuat apa-apa terhadap seorang pun padahal sudah terlanjur dibaptis sebagai khalifah di bumi” keluh Firman Murtado mengharu biru.

“Ya lumayan, cak. Untungnya sampeyan ndak ditakdir sebagai manusia yang bertugas menyunat, mempungli, membegal atau mengkorupsi hak orang lain. Sampeyan harus bersyukur karena –meski belum menyumbang apa-apa terhadap umat—tidak menghalang-halangi hak orang lain untuk sejahtera dan berjaya.” Firman Murtado mewek mendengar ucapan Saepul.

“Wes, cak. Ndak usai lebay begini, kayak sinetron garapan orang Indonesia saja. Ayo ngopi!” Firman Murtado malah ingin gulung-gulung karena pasti Saepul pincang yang akan mbayari kopi.

Saepul layak diberi anugerah entah apa dari pemerintah. Sebab ia yang sudah diamputasi kakinya, jangankan mempungli, menggelapkan dana desa, menarik uang parkir di lahan umum, pura-pura mendirikan perusahaan pendidikan untuk dimakan dana BOS-nya, menjual narkoba, apalagi korupsi. Meminta-minta saja ia malu. Bangsatnya lagi, sudah tak ngeriwuki pemerintah, Saepul malah sok pahlawan membantu perekonomian para perajin rancangan layangan di Sekarputih, Gondang Wetan, Rejoso serta entah di mana lagi. Dan yang paling nggeregetno, Saepul selalu cengengesan menertawai hidup.

Penulis : Abdur Rozaq/wartabromo

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Tirakat Rejeb

Ujian Nasional Simsalabim