15:11 - Minggu, 23 November 4679
Jumat, 14 April 2017 | 05:44

Almarhum Pasar Manuk Kebonagung

Celaka, sepertinya penyakit sinting Firman Murtado tak bisa disembuhkan.  Selain tingkahnya makin usil dan ugal-ugalan, ia mulai suka keluyuran di pasar-pasar. Biasanya, kalau orang gila sudah masuk pasar, lama sembuhnya. Bisa-bisa gila permanen. Dan ahir-ahir ini, Mas Bambang sering memergoki Firman Murtado ngopi di eks pasar manuk Kebonagung. Mas Bambang sengaja tak menyapa Firman Murtado, karena ia ngopi saat jam kantor dan masih mengenakan seragam keki.

Dan kecurigaan Mas Bambang, diyakini Arif karena di sosial media Firman Murtado memposting catatan kecil begini.

“Hampir bagi setiap lelaki dewasa, pasar manuk Kebonagung Pasuruan memiliki kisah tersendiri. Apalagi bagi penggemar burung, romantismenya tak bisa dilupakan. Dari asal muasalnya dulu, mungkin pasar manuk Kebonagung memang sudah diberkahi Kang Murbeng Dumadi. Meminjam bahasa Emha Ainun Najib, “sorga penah bocor” dan tetesannya nyirprat—salah satunya—di pasar manuk Kebonangung.”

“Belasan tahun lalu, pasar manuk Kebonagung adalah objek wisata lahir batin. Sekerat hutan di pedalaman Papua diletakkan di tengah kota,  dan masyarakat bisa melakukan meditasi di sana. Berbagai macam kicau burung, kericik air dari water pump akuarium penjual ikan hias, bunyi jangkrik pakan burung, bau wangi seduhan kopi hitam bersengkarut dengan apek kotoran burung, menelusup di sanubari setiap lelaki dewasa yang pernah nongkrong di sana. Kelakar genit rondo teles penjual kopi dan guyonan dewasa pagawai pemkot yang membolos, melahirkan sensualitas yang mistis.”

“Setiap pagi hingga menjelang lingsir matahari, ribuan orang datang dan pergi. Para pedagang, calon pembeli, pembeli pura-pura, pembeli serius, pembeli pembanding harga, kolektor, penghobi, blantik hingga pengangguran lontang-lantung seakan malas beranjak. Perputaran uang mencapai puluhan atau bahkan ratusan juta. Orang tak hanya membeli seekor burung, tapi juga membeli hobi, prestise dan kepuasan batin. “

pasar burung kebonagung

“Ratusan kurungan bergantungan di setiap galah atau apa saja. Isinya berbagai jenis burung, mulai hasil penangkaran hingga hasil perburuan brutal. Burung-burung di alam bebas dipamerkan, ditawar lalu dirupiahkan. Para pedagang banyak yang berhasil mencapai kejayaannya oleh berkah jual beli burung. Pengangguran sedikit terhibur, perselingkuhan antara rondo penjual kopi dengan pegawai dinas pasar sering tercatat dan itu adalah romantisme hitam tersendiri.”

“Tapi sejak beberapa tahun lalu bapak pejabat merolakasi paksa para pedagang burung ke pasar Kraton. Menggusur sorga kecil itu dalam rangka entah apa. Ada yang bilang dalam rangka pemerataan potensi perdagangan. Tapi sepertinya, bapak pejabat belum membaca primbon sehingga hari, pasaran, letak nogo dino dan nogo tahun pemindahan para pedagang tidak diindahkan sehingga pasar Kraton—sebagai lokasi pasar manuk yang baru—sepi. Panjengenganipun rupanya belum tahu jika sebuah pasar, bukanlah tempat transaksi biasa. Pasar sudah di-kun fayakun Gusti Allah untuk dijadikan sebagai sejengkal bumi yang menarik hati banyak orang untuk didatangi. Setiap pejabat mungkin bisa saja membangun sebuah pasar, tapi tak menjamin akan bertahan apalagi berkembang. Dalam sejarah, para peminpin yang waskito tak pernah memindahkan pasar, tapi membangun  pasar di sebuah lokasi yang dengan sendirinya orang berkumpul untuk melakukan transaksi. Pasar bisa saja dibangun, tapi pembeli dan penjual serta dimana jatuhnya pulung tak bisa direncanakan. Tak bisa dipaksa. Bahkan kompeni Belanda pun tak bisa memaksa berdirinya pasar di sebuah titik bumi.”

Arif merinding membaca postingan Firman Murtado di akun sosial medianya. Jangan-jangan analisa Mas Bambang benar. Jika Firman Murtado gila, bangsa akan kehilangan sosok pahlawan yang rela dibayar 150 ribu perbulan dengan resiko dijotosi murid dan wali murid sampai rela menjadi benalu mertuanya.

Firman Murtado adalah aset bangsa. Minimal celometannya masih dibutuhkan untuk meramaikan warung Cak Manap. Kalau hanya ada Gus Hafidz dan Ustadz Karimun, pelanggan buyar karena sudah musim orang alergi agama. Meski dakwah kedua kiai kampung itu sangat membumi. Firman Murtado, jangan-jangan adalah jelmahan Kiai Semar yang dengan “kesintingannya” memperbaiki dunia. Keempat sosok Punokawan seakan bersemayan di tubuh Firman Murtado secara bergantian. Kadang ia ceriwis, sinting, teduh, heroik, nggeregetno, jenaka dan itu semua membuat orang kangen.

Pada postingan yang lain, Firman Murtado nampak berselfie di beberapa pasar tradisional. Sepertinya ia road show mulai dari pasar Ranggeh, Warung Dowo, Ngopak, Winongan hingga pasar Kalipang. Tiga kecamatan ia jelajahi hanya demi selfie di pasar tradisional entah dalam rangka apa. Padahal ia –demi Allah—tak bakat dan tak memiliki kepantasan apapun untuk nyaleg.

Jepretan foto Firman Murtado lumayan juga. Ia zoom beberapa objek di pasar tradisional seperti Mbok Penjual Rengginang, Welijo, Penjual tembakau, Penjual Lupis serta seorang pedagang bohai. Di setiap postingan foto tentang pasar tradisional itu, Firman Murtado menulis catatan:

“Beli kopi di kafe dengan harga ndak masuk akal kita ndak rewel, sementara beli es dawet kita rewelnya bukan main.”

“Ayo belanja ke pasar, berbagi rejeki dengan saudara sebangsa. Keuntungannya mereka gunakan untuk hidup sehari-hari, bukan untuk biaya perang.”

“Jangan menawar harga terlalu pelit, ayo sok dermawan seperti ketika belanja di swalayan waralaba.”

Pada postingan terbaru, Firman Murtado mengunggah foto pasar manuk Keboangung terkini. Dalam foto pixel rendah hasil jepretan HP murah itu, jika tidak teliti, yang nampak hanyalah sebuah pemakaman tua yang angker, sepi, merana, meradang dendam, penuh sumpah serapah bahkan mungkin kutukan pedagang manuk yang bangkrut. Padahal, dulunya sejengkal hutan Papua pernah digelar di sana.
Penulis : Abdur Rozaq (Wartabromo)

 

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Ujian Nasional Simsalabim

Bikini di Pantai Lekok