16:45 - Selasa, 24 Oktober 2017
Sabtu, 15 April 2017 | 12:27

Bikini di Pantai Lekok

Jenuh sudah di ubun-ubun, dompet—seperti biasa—kosong, omelan istri dan sindiran mertua serta jeragan yang tak juga bisa memanusiakan manusia, membuat Firman Murtado ingin minggat entah ke mana. Setali tiga uang, Arif, mahasiswa ndak jelas itu juga nampak pucet wajahnya. Kurang piknik kata orang. Maka setelah sepakat mengadakan persekongkolan di warung Cak Manap, keduanya meluncur menuju arah timur batas kota.

“Kemana kita, Rif?”

“Sak tutuk e, mas.” jawab Arif.

“Bensin mau habis, Rif. Kalau kehabisan di jalan apa kamu yang tak gadaikan buat beli bensin?”

“Gampang, mas. Setiap desa atau kecamatan kita kan punya teman? Kehabisan di Rejoso utang sama Cak Sudar, kehabisan di Lekok kita utang Cak Sarep. Kehabisan di Nguling kita utang sama Mas Ridwan.”

“Kamu itu otot kawat, balung wesi, rai seng. Nggak duwe isin.”

“Halah, wong atase utang duwik buat beli bensin, mas. Banyak yang lebih kandel raine. Ngopa-ngopi dapat bayaran. Jadi pendamping, tukang ngawasi pemilihan, bikin perusahaan pendidikan, kulakan proyek atau jual beli proposal, tugas ndak jelas malah makin membuat utang negara makin tak masuk akal.”

“Raimu.”

Maka motor butut yang ndak diomesi para sales motor sekaligus begal itu melaju memuat dua orang yang ndak jelas nasibnya karena kesalahan kebijakan pemerintah. Firman Murtado komat-kamit membaca selawat agar selamat dari polisi, ban kempes dan kehabisan bensin di tengah jalan. Arif cengengesan menyimpan rencananya.

pantai karang hitam

Sesampai di pertingaan jalan menuju puslatpur angkatan laut Lekok, Arif meminta Firman Murtado membelokkan motornya.

“Mau kemana kita, Rif?”

“Rekreasi, mas.”

“Rekreasi endasmu. Apa mau mengenang tragedi Alas Tlogo?”

“Ssst, jangan ungkit-ungkit borok lama, mas.”

“Lha terus kemana?”

“Rekreasi, kok. Londo-londoan di pantai.”

“Nyari ikan tebalan ta?”

“Wes mas, ndak usah banyak omong seperti pengurus partai jelang pemilu begitu.”

Firman Murtado ahirnya cep. Memacu motor bututnya menuju jalan utama pantai Pasir Panjang Lekok. Di sana ia baru tahu jika ada pembangkit listrik tenaga entah apa. Ada generator raksasa di area besar yang bertuliskan PT. Indonesia Power. Lalu atas arahan Arif, ia menuju pantai dan hampir semaput dia ketika melihat apa yang ada di depannya. Komat-kamit ia membaca Ayat Kursi takut matanya ditipu halimun setan laut. Selesai membaca muawwidzatain, ia baru yakin jika yang ia lihat bukan sihir atau halimun.

“Kita ini dimana, Rif.”

“Di pantai Pasir Panjang, mas.”

“Masuk kecamatan mana?”

“Lekok, mas.”

“Ck ck ck, aku kok baru tahu kalau di sini ada pantai seindah pantai Kuta begini?”

“Bukan hanya sampeyan, mas. Sebagian besar orang Pasuruan ndak tahu kalau kita punya pantai seindah ini. Soalnya pemerintah lebih sibuk selfie daripada mengembangkan potensi wisata ini.”

“Masya Allah. Ini kan mirip pantai Kuta di Bali, Rif? Pasirnya putih, karangnya kokoh dan artistik, ombaknya cocok buat surving, pemikiman nelayan bisa membuat daya tarik tersendiri. Kita ini kok ndak kreatif ya? Punya potensi pantai seindah ini, akses jalannya mudah karena dekat dengan jalur pantura. Kok aneh, obyek wisata yang biasa-biasa saja dipromosikan sampai selfie-selfie segala sementara anugerah seagung ini malah ditelantarkan.”

“Lha ya, apanya yang kurang ya mas? dekat jalur pantura, tadi itu malah ada padang sabana, ada perbukitan dan pantainya bertaraf internasional, kenapa kok tidak dikelola?”

“Kalau aku jadi bupati, jalan utama kuperlebar, keamanan dijaga—apalagi dekat pusat latihan tentara—akses jalan diperbaiki, kiri-kanan jalan ditanami tanaman hias, bukit-bukit ditanami tanaman hias dan segala fasilitas dibangun biar layak disebut objek wisata kelas dunia.”

“Yang lebih utama, masyarakat lokal dibekali keahlian biar bisa membuat nyaman para wisatawan. Diberi modal usaha, didirikan sentra souvenir, diberi pelatihan pembuatan souvenir dan keahlian memanjakan wisatawan agar tidak seperti Banyu Biru yang sepi karena banyaknya begal dan pemalak.”

“Aku berhayal, dipasir pantai yang putih itu banyak turis bule berjemur pakai bikini, anak-anak bermain istana pasir, dan tempat parkir penuh dan masyarakat lokal menyediakan barang atau jasa untuk para wisatawan.” Ujar Arif.

“Aku malah berhayal yang sebaliknya, Rif.”

“Gimana?”

“Sampah menggunung, pencopet berkeliaran, pedagang lokal menawarkan harga mencekik, kendaraan diparkiran tidak aman dan kondom bekas berserakan.”

“Ah jangan apatis gitu lah mas.”

“Ini kan Indonesia, kota kita lagi.”

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Almarhum Pasar Manuk Kebonagung

Tragedi Tahu Bulat